
Pukul sebelas malam Dara dipindahkan dari ruang intensif ke kamar perawatan biasa setelah Raisa memeriksa kondisinya secara saksama. Tanda-tanda vitalnya semakin stabil dan terkendali setelah beberapa jam berlalu, hanya saja kesadarannya belum kembali, kelopak matanya masih setia memejam rapat. Transfusi darah juga diberikan, mengingat Dara yang mengalami pendarahan cukup hebat sebelumnya.
Freya, Anggi dan Fatih berpamitan pulang setelah melihat kondisi Dara yang mulai membaik. Wira juga meminta orang tuanya untuk pulang saja, beristirahat di rumah memulihkan kondisi dan kembali esok hari. Namun, Ratih menolak, wanita paruh baya itu memutuskan untuk ikut menginap di rumah sakit menemani.
“Bu, Ayah pergi sebentar, ada hal mendesak yang harus dilakukan,” ucap Haris kepada Ratih yang sedang duduk di luar ruang perawatan Dara, sementara Wira sedang berbincang dengan Raisa juga dokter lainnya di dalam sana.
“Memangnya Ayah mau kemana? Ini sudah malam,” sahut Ratih sembari menatap suaminya penuh tanya.
“Ada sesuatu yang sangat penting, ini tentang kejadian terjatuhnya menantu kita. Ayah janji takkan lama.”
“Baiklah, tapi Ayah pergi bersama sopir kan? jangan mengemudi sendiri malam-malam begini,” pesan Ratih yang terlihat cemas.
“Iya, dengan sopir. Ayah berangkat Bu.” Ratih mengangguk dan Haris segera berlalu dari sana.
*****
Sejuknya embun pagi berpadu semilir angin nan lembut menyapa Bumi. Tetesan murninya serupa buliran permata yang menyucikan setiap permukaan dedaunan juga bunga-bungaan. Di pagi hari yang masih dini ini langit masih gelap kelabu dengan mendung tipis yang menggelayut menghalangi bintang-bintang untuk menebar pesona, rupanya hujan yang berkunjung semalam masih meyisakan jejak-jejaknya bertebaran di angkasa.
Wira terusik dari tidurnya, entah pukul berapa dia terjatuh dalam lelap dengan posisi tidur duduk di kursi samping ranjang Dara berbantalkan lengannya yang bersidekap di tepian tempat tidur. Ia terkesiap dan langsung mengusap wajahnya, mengambil botol minum di nakas lalu menenggaknya hingga tandas. Wira tak sengaja terbuai kantuknya, seingatnya pukul dua dini hari tadi dirinya masih terjaga dan terus memantau kondisi Dara, lantaran khawatir terjadi reaksi lain dari istrinya yang masih betah memejamkan mata kendati Raisa sudah menyatakan bahwa kondisi ibu dari anaknya itu telah stabil.
Wira kembali menatap Dara, meraih tangannya dan mengecupnya lembut. “Bukalah matamu, sayang. Dan lihatlah betapa lucunya putri kita, cepatlah bangun, dia membutuhkanmu," bisiknya lembut penuh pengharapan.
*****
Selepas sarapan, Wira dan Haris berbincang serius di luar ruang perawatan, sedangkan Ratih tengah menunggui Dara di dalam.
“Semalam Ayah langsung berbicara dengan pihak pengelola restoran untuk mencari keterangan mengenai insiden yang menimpa Dara. Restoran tersebut selalu memberikan pelayanan terbaik dan memastikan setiap area terurus dengan baik pula. Akan tetapi cleaning servis yang pertama kali menemukan Dara mendapati air yang bercampur dengan sabun pencuci tangan tercecer sangat banyak di tempat jatuhnya Dara, padahal para cleaning servis selalu memeriksa setiap tiga puluh menit untuk memastikan agar kondisi lantai toilet tetap kering. Ayah dan pihak pengelola curiga, sepertinya ada yang sengaja menyiramkan air bercampur sabun di sana membuat lantainya licin hingga menyebabkan Dara terjatuh.”
“Keterlaluan! Akan kucari pelakunya sampai dapat karena telah berani mencelakai istri dan anakku!” dengusnya geram penuh emosi dengan tangan terkepal, kilatan amarah spontan menyala-nyala di matanya, seolah hendak membumi hanguskan apapun yang dipandangnya. “Bagaimana dengan CCTV? Apakah Ayah sudah memeriksanya juga?”
“Sayangnya bagian dalam toilet tidak dilengkapi kamera pengawas demi menjaga privasi para tamu restoran. Tapi CCTV masih terpasang hingga pintu masuk toilet, hanya saja semalam petugas yang bertanggung jawab memegang kendali ruang kontrol kamera pengawas sudah pulang. Ayah sudah membuat janji dengan pihak restoran pukul sepuluh nanti untuk memeriksa secara langsung, semoga ada petunjuk. Ayah pun takkan membiarkan siapapun pelakunya. Perbuatannya sungguh keji, telah tega menjadikan wanita hamil yang kepayahan sebagai sasaran.”
“Aku ikut!” ekspresi Wira tampak menggelap menakutkan.
“Kamu tunggulah di sini. Sebisa mungkin kita harus bersinergi secara efektif di situasi sekarang, bagaimana jika pelakunya ternyata berkeliaran di sekitar kita tanpa disadari? Untuk itu tugasmu adalah menjaga anak dan istrimu dengan baik, bisa saja dia akan kembali mengincar untuk mencelakai saat kita lengah,” jelas Haris memperingatkan, jangan sampai karena tak mampu mengendalikan emosi situasinya menjadi semakin runyam yang berujung penyesalan.
Wira menarik napas dalam dengan mata terpejam sebelum kemudian mengembuskannya kasar. "Baiklah. Kuharap Ayah menemukan petunjuk agar pelakunya cepat terkuak, aku ingin segera menjebloskannya ke penjara!"