
Yanti tidak bertele-tele sama sekali. Setelah mengisap rokoknya dalam-dalam, dia langsung berpaling dan pergi ke dapur.
Suara potong kayu bakar, serta suara panci dan wajan yang sedang dicuci terdengar keras. Aku duduk di tempat tidur Vivi sambil melihat perabotan lama dan baru di sekeliling ruangan. Secara tak sengaja, aku melihat sebuah Macbook di bawah buku-buku di lemari. Aku merasa sedikit kaget dan heran.
Saat makan malam, aku berkeliaran di halaman, Yanti bertanya apakah aku mau makan bareng dengan mereka, tapi aku bilang tidak. Kemudian aku melihat dia mengambil semangkuk nasi dan melayani Herman yang berbaring di ranjang. Setelah itu, dia duduk sendirian di samping kompor dapur sambil menyantap nasi dengan lauk telur goreng daun bawang.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 70 bab di App Fi/zzo. ( Waktu cari, jangan tambah "/")
Dia pasti sudah terbiasa dengan kehidupan keras seperti ini. Dia melahap seolah sudah kelaparan berhari-hari, entah kenapa harus begitu terburu-buru.
Pada pukul 7 malam, langit semakin gelap. Aku melihat waktu dan berpikir bahwa Jerry seharusnya sudah mau datang, tapi aku malah menerima telepon dari ayahku. Dia berkata Jerry dan Vivi masih belum kembali ke kota. Ayah melapor ke polisi dan baru tahu mereka berdua terjebak di tengah proyek pembangunan jalan dalam perjalanan pulang, kemudian salah memilih jalan. Alhasil sekarang mereka tersesat di daerah tanpa sinyal, telepon tidak bisa dihubungi, dan mobil terjebak di tengah lumpur.
Kepanikan berangsur-angsur berubah menjadi kepasrahan. Aku tidak punya pilihan selain bermalam di sini.
Untungnya, Yanti memperlakukanku dengan cukup baik. Dia memberiku kain karung untuk mengganti pakaianku, kemudian keluar untuk bermain kartu.
Sekitar pukul 10 malam, aku berbaring di tempat tidur dan menatap ke luar jendela dengan linglung. Keadaan di dalam rumah gelap gulita dan sunyi. Di luar rumah terdengar suara anjing kuning yang berlari-lari dan suara serangga. Aku rasa aku mungkin tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Mataku perlahan menyipit dan terbuka berulang kali. Tiba-tiba, aku melihat sosok gelap merangkak masuk melalui jendela. Aku terkejut dan segera bangun hingga meringkuk di sudut. Keringatku bercucuran deras dari kepala sampai punggung dan ke kaki. Sosok gelap itu naik ke tempat tidurku dengan spontan, lalu terasa sebuah tangan dingin menyusuri selimut menuju kakiku. Dia meraih pergelangan kakiku dan aku pun berteriak keras. Tapi pria itu malah berbisik di dekat telingaku, "Kenapa, Sayang, kenapa kamu begitu gugup hari ini. Bukankah kamu selalu berharap aku datang! Tadi aku lihat ibumu pergi main kartu, aku bakal menghabisimu malam ini!"
Karena takut dan kaget, aku membuka mulut untuk berteriak minta tolong, tetapi mulutku langsung dibungkam olehnya. Kekuatanku yang tidak seberapa tidak memugkinkan aku untuk melawannya. Air mata penuh rasa takut pun mengalir dari sudut mataku. Kemudian terdengar suara "SHRAA" yang keras, Pakaianku dikoyak olehnya.
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 70 bab di App Fi/zzo. ( Waktu cari, jangan tambah "/")