
Dara bergegas ke pelataran parkir kampus, memakai helmnya dan menaiki motor kesayangannya. Saat hendak dihidupkan motornya seolah berdemo dan tak mau menyala, sudah beberapa kali Dara mencoba menstarter tapi hasilnya tetap sama.
"Ra, kenapa motornya?"
Tanya seseorang dibelakang punggungnya, Dara yang sedang fokus menghidupkan motornya berjengit kaget dan menolehkan kepalanya.
"Eh Pak Rifki, selamat sore. I-ini sepertinya motor saya mogok Pak," sahut Dara kikuk. Ia sering merasa salah tingkah di dekat Rifki, karena dosennya itu pernah memujinya cantik.
Rifki meminta Dara untuk turun agar dia bisa memeriksa motor tersebut dengan seksama dan mencari penyebab kerusakannya, setelah beberapa saat akhirnya dosennya itu mendesahkan napasnya berat dan menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya motormu bermasalah dengan mesinnya, biasanya efek terlalu lama tidak dikendarai. Tetapi sekarang sudah sore dan bengkel terdekat sudah waktunya tutup, sebaiknya kamu titipkan saja motormu di sini pada security kampus. Jangan khawatir, motormu aman di sini, besok mintalah bengkel terdekat datang ke sini untuk memperbaikinya," Jelas Rifki panjang lebar.
"Begitu rupanya, makasih banyak Pak sudah memeriksa motor saya," sahut Dara sambil menggaruk-garuk kepalanya tak gatal.
"Kamu mau pulang kan? ayo kuantar," tawar Rifki.
"Eh tidak usah Pak, biar saya minta di jemput sopir saja." Dara menolak dengan halus karena merasa tidak enak jika merepotkan dosennya itu.
"Nggak apa-apa, lagipula aku berencana untuk mampir ke tempat temanku dan jalurnya searah dengan rumahmu, jadi lebih efisien kan daripada harus menunggu lama dijemput sopirmu." Rifki mencoba meyakinkan, padahal itu hanya alasan saja, karena sebenarnya dia menaruh perhatian lebih terhadap gadis itu.
"Mmm... baiklah, jika itu tidak merepotkan dan... terima kasih," jawab Dara dengan mengulas senyum.
"Sama sekali tak merepotkan, ayo kita berangkat sekarang, mobilku kuparkir dekat pintu keluar, sekalian kamu bisa bertemu security di pos depan untuk menitipkan motormu di sini malam ini," ajak Rifki yang disambut anggukan gadis cantik itu dan dia bergegas berjalan mengekori sang dosen.
*****
"Terima kasih Pak, dan hati-hati di jalan." Dara membungkukkan badannya memberi hormat setelah turun dari mobil Rifki yang mengantarkannya hingga ke depan rumah.
Dara melangkah masuk ke dalam rumah megah itu sambil mengembuskan napasnya berat, sebelumnya ia pernah berharap bisa lebih dekat dengan dosennya itu, tetapi sekarang terasa berbeda. Mungkin dulu Dara akan berjingkrak senang diantar pulang oleh Rifki, tetapi sekarang, ia malah dilanda kebingungan akan perasaannya sendiri.
Kakinya berjalan tapi pikirannya tenggelam dalam lamunannya, tanpa disadarinya Wira sudah berdiri di ruang tengah sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam kepadanya dengan geraham yang mengetat.
"Siapa tadi yang mengantarmu?" tanya Wira ketus hingga membuyarkan lamunan Dara.
"Sejak kapan Kakak berdiri di situ? bikin kaget aja," Dara bersungut-sungut mengerucutkan bibirnya.
"Sejak tadi, sejak kamu turun dari mobil diantar oleh pria asing yang tak kukenal. Jadi ini rupanya alasanmu selalu menolak untuk diantar jemput oleh pak Jono? agar kamu bisa bebas berkeliaran di luar sana semaumu," ucap Wira sinis.
"Kenapa Kakak menuduhku begitu? aku hanya sedang berusaha menjadi seseorang yang lebih mandiri makanya aku menolak diantar jemput, dan yang tadi itu hanya dosenku, dia mengantarku karena motorku mogok," sahutnya kesal karena tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan kepadanya.
"Kalau motormu mogok, kenapa kamu tidak menghubungi pak Jono dan meminta dijemput, kenapa harus diantar oleh dosenmu? bagaimana kalau dia punya niat jahat padamu!"
"Pak Rifki bukan orang jahat seperti yang Kakak tuduhkan! Tadinya aku juga hendak menelepon pak Jono tapi beliau menawarkan untuk mengantarku karena perjalanannya searah," sanggah Dara.
"Sepertinya kamu sangat mengenalnya, atau jangan-jangan kalian punya hubungan yang lebih dari sekedar dosen dan mahasiswanya!" Entah kenapa Wira merasa tidak terima ketika Dara membela pria lain dihadapannya.
"Kami tidak seperti itu! Lagipula kenapa Kakak sangat tidak suka aku diantar olehnya?" teriaknya mulai marah.
Wira melangkah menghampiri Dara, membungkuk mensejajarkan tingginya dengan gadis itu dan menatapnya dengan tatapan menusuk.
"Sepertinya kamu lupa akan posisimu sekarang. Kalau begitu, mari kuingatkan!" Wira berucap tepat di depan wajah Dara. Kemudian menarik pergelangan tangan gadis itu dengan kasar memasuki kamar utama tanpa mempedulikan Dara yang meronta dan berteriak meminta dilepaskan.