You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 129



Dara kembali menguap beberapa kali sambil mengucek matanya.


"Mas aku mengantuk. Aku pengen tidur tapi sambil dinyanyikan lagu Nina Bobo, boleh nggak?" pintanya penuh harap.


"Kenapa tiba-tiba pengen dinyanyiin? apa ini dedeknya juga yang minta?" tanya Wira yang dibalas gelengan kepala oleh Dara.


"Bukan, tapi aku sendiri yang mau. Ketika di sekolah dasar, di setiap buku cerita yang kubaca saat menjelang waktunya tidur anak-anak dinyanyikan lagu Nina Bobo oleh ibunya masing-masing. Tapi, aku nggak punya ibu yang menyanyikannya untukku," tuturnya dengan wajah yang tiba-tiba berubah sendu.


"Maksudmu, kamu sama sekali belum pernah dinyanyikan lagu semacam itu sewaktu kecil? Apakah ayah Arif dan Almira tak mau melakukannya untukmu?" Wira menangkup kedua sisi wajah cantik Dara dengan telapak tangan hangatnya.


"Mereka bukan tak mau melakukannya, tetapi akulah yang tak berani meminta kepada Ayah Arif dan juga mbak Mira. Sejujurnya sejak dulu aku ingin tahu seperti apa rasanya dinyanyikan lagu pengantar tidur dan sekarang aku sangat menginginkannya. Aku tahu ini pasti membuatmu jengkel, tapi maukah Mas melakukannya untukku? walaupun hanya satu kali aku akan sangat bersyukur."


Wira memandangi lamat-lamat netra indah yang sedang menatapnya. Jantungnya seperti diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata. Penuturan Dara membuatnya luar biasa iba, ada perasaan perih dihatinya yang tak mampu dijabarkan dengan kata-kata.


"Tentu saja boleh. Aku akan menyanyikannya untukmu setiap hari sebanyak yang kamu inginkan." Wira mengecup kening Dara penuh sayang.


"Terima kasih Mas. Ayo kita berbaring, aku sudah tak sabar," ajak Dara dengan mata berbinar bahagia.


Wira beberapa kali mengulang lagu tersebut, hingga ia merasakan embusan napas Dara yang mulai tenang dan teratur menandakan istrinya itu sudah jatuh ke dalam mimpi indahnya. Setelah memastikan Dara benar-benar tertidur pulas ia membuka ikatan rambut hasil karya istrinya tadi. Dipandanginya wajah cantik yang tengah terlelap itu, tampak begitu damai dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


Ponselnya berbunyi, Wira memeriksanya dan isinya adalah file video rekaman CCTV pusat perbelanjaan yang dimintanya dari orang suruhannya. Ia memang sengaja menyelidiki kebenarannya secara diam-diam. Jujur saja, dia merasa takut, takut kembali tersakiti dan terluka hati.


Wira ragu-ragu antara harus membuka file itu atau tidak. Sejenak ia termenung, tetapi kemudian ia memutuskan untuk menghadapi apapun yang ada di dalamnya. Dalam video itu terpampang nyata semua kejadian yang sebenarnya, Wira bernapas lega karena ternyata istrinya berkata jujur tanpa menambah ataupun menguranginya.


*****


"Bu, acara pengumuman tentang pernikahan Wira akan dilangsungkan dua minggu ke depan. Ayah sudah mempersiapkan semuanya," ucap Haris sambil menyesap kopi paginya setelah selesai sarapan. Ia sudah tampak rapi dalam balutan setelan kerja yang dikenakannya.


"Kenapa Ayah memutuskan semuanya sendiri? apakah Ibu sudah tidak dianggap lagi sebagai istri dan seorang Ibu!" seru Ratih. Ia marah dan terkejut karena Haris tidak mengajaknya berunding.


"Ayah hanya ingin pernikahan ini secepatnya diketahui oleh khalayak umum. Jangan sampai kebahagiaan menyambut kehadiran cucu jadi rusak karena kabar burung di luaran sana. Coba Ibu bayangkan, bagaimana jika beredar kabar bahwa Wira menghamili seorang gadis di luar nikah? bukankah itu akan berimbas buruk pada citra putra kesayangan kita." Haris tetap berusaha membujuk dengan segala upaya agar Ratih melunak.


"Terserah Ayah!" Ratih menghentakkan kakinya dan memanggil sopir kemudian beranjak pergi entah kemana.