
Tengah malam Dara terbangun oleh suara ketukan. Ternyata Wira yang mengetuk, membuka pintu dan melongokkan kepalanya.
“Sayang, maaf mengganggu waktu kebersamaanmu dengan ibumu, tapi Selena bangun dan merengek, sepertinya dia haus,” ucap Wira setengah berbisik di ambang pintu.
“Aku segera ke sana Mas,” sahut Dara sepelan mungkin. Dia bangun perlahan agar pergerakannya tidak mengusik ibunya yang tengah terlelap. Aruna tampak tersenyum dalam tidurnya, begitu damai dan tentram.
Sebelum beranjak keluar, Dara mengusap dan mengecup kepala sang ibu yang memakai topi rajut untuk menutupi kepala plontosnya. Memperhatikan sejenak dada ibunya yang kembang kempis teratur menandakan terlelap sangat dalam. Dara juga membetulkan selimut supaya membungkus sempurna tubuh kurus dan lemah ibunya menjaganya agar tetap hangat.
Dara bergegas ke kamar tamu menyusul Wira, dan memang benar anaknya terbangun juga merengek seperti yang dikatakan suaminya. Ia berbaring miring dan segera menyusui Selena, dua puluh menit berlalu bayi lucu itu tiba-tiba rewel, biasanya jika sudah kenyang Selena akan tertidur lagi.
Tadinya Dara bermaksud kembali ke kamar ibunya jika Selena sudah kenyang, tetapi sepertinya dia harus bersabar hingga anaknya pulas. Dara turun dari tempat tidur, menggendong dan menepuk-nepuk lembut pantat Selena untuk menenangkan sambil berjalan ringan mengitari seluruh kamar
“Anak Mama kenapa hmm?” Dara mngecup pipi gembul anaknya yang tengah merengek itu.
“Sini, gendong sama Papa.” Wira menghampiri dan mengambil alih Selena. Namun, Selena malah makin rewel dan meronta ingin kembali ke pangkuan sang mama, padahal biasanya bayi itu sangat betah dalam gendongan papanya.
“Tumben Selena rewel gini ya Mas, gak kayak biasanya. Apa mungkin karena ini pertama kalinya menginap di sini? tapi sewaktu berlibur ke Swiss gak pernah kayak gini, apa Selena sakit ya?” Dara tampak khawatir.
“Coba sebentar kuperiksa.” Walaupun bukan dokter spesialis anak, tetapi Wira juga mampu mendeteksi jika anaknya tak sehat. “Anak kita baik-baik saja. mungkin hanya sedang merajuk.”
Pagi-pagi sekali Dara sudah berada di dapur bersama Bu Rina juga pelayan. Dia membantu menyiapkan bubur sehat untuk ibunya, juga sarapan untuk Wira yang akan berangkat bekerja. Dara menyajikan sarapan untuk suaminya terlebih dahulu, Wira sudah segar dan rapi duduk bersama Selena di ruang tamu, kemudian dia membawa nampan yang berisi bubur dan juga vitamin untuk ibunya ke kamar utama.
Saat masuk ke dalam, ibunya ternyata masih terlelap. Dara membuka jendela lebar-lebar membiarkan hangatnya mentari pagi menerobos masuk, lalu duduk di tepian ranjang menepuk lembut lengan Aruna.
“Bu, bangun Bu. Waktunya makan dan minum obat. Ini bubur sehat buatan Bu Rina, rasanya sangat lezat. Ibu pasti suka,” ucap Dara bersemangat sambil mengaduk perlahan bubur yang masih panas itu agar suhunya menjadi hangat.
“Bu, bangun Bu.” Dara kembali menepuk lengan ibunya, tetapi wanita yang berbaring itu tak kunjung membuka mata.
“Bu, I-Ibu,” suara Dara mulai bergetar. Ia menaruh mangkuk ke atas nampan di nakas, kemudian mencoba membangunkan dengan mengguncangkan tubuh Aruna lebih kencang dari sebelumnya, akan tetapi tak ada reaksi sama sekali.
Dara bangkit menerjang pintu dan keluar dari kamar. “Mas… Mas, Ibu… Ibu tak mau bangun,” panggilnya panik seraya mulai terisak di ambang pintu yang terbuka.
Wira yang sedang menyesap kopi dengan sang anak dipangkuannya, langsung menyerahkan Selena kepada Bu Rina dan menerobos masuk ke dalam kamar. Diperiksanya Aruna dengan teliti dan saksama, sementara Dara yang berdiri di sisi ranjang meremas jemarinya yang bertautan dengan wajah memucat ketakutan.
Setelah beberapa saat, Wira berdiri dan merangkul Dara ke dalam dekapannya lalu berkata, “Kamu harus kuat, Ibu sudah pergi.”