
Setelah sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di jalanan yang ramai, Dara menyalakan aplikasi peta di ponselnya untuk mencari hotel terdekat. Hanya ide itu yang saat ini terlintas dipikirannya, karena jika memaksakan mengemudi hingga pulang ke rumah masih harus menempuh tiga jam perjalanan. Dara merasa tidak sanggup untuk mengemudi sejauh itu, apalagi sekarang hari semakin gelap dengan cuaca yang kurang mendukung.
Beruntung peta di ponselnya menunjukan lokasi hotel bintang lima terdekat, walaupun dalam keadaan darurat, tetap saja Dara memilih hotel yang sesuai dengan standar Wira. Ia sangat tahu bahwa Wira hanya bisa beristirahat di tempat yang terjamin kebersihannya dengan fasilitas yang memadai.
Dara memarkirkan mobil di hotel yang dimaksud, kemudian turun dan masuk ke dalam untuk memesan kamar dengan cepat. Setelah selesai ia kembali ke parkiran, membukakan pintu untuk Wira dan memapahnya keluar dari sana.
Wira masih tampak pucat dan lemah, tubuh tinggi kokohnya bersandar di tubuh mungil Dara, kemudian pelayan hotel membantu memapah masuk ke dalam lift dan ikut mengantarkannya hingga sampai ke depan pintu kamar yang sudah dipesan.
"Terima kasih," ucap Dara. Si pelayan itu mengangguk dan segera undur diri dari sana.
Dara masuk ke dalam kamar, dengan susah payah memapah dan membantu Wira berbaring di atas ranjang besar yang terdapat di sana kemudian membuka dasi dan juga melonggarkan kancing kemejanya, sementara Wira memejamkan matanya masih dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
Gadis itu ke kamar mandi dan mengambil handuk kecil yang tersedia di sana, membasahinya dengan air hangat dan kembali ke kamar. Ia menyeka wajah Wira beserta keringat dinginnya dengan lembut, lalu terdengar gemuruh dari perutnya dan juga Wira.
Pria itu memang melewatkan makan siangnya, karena siang tadi dia langsung pergi ke tempat outbound tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Setelah selesai menyeka, Dara menelepon layanan kamar memesan makan malam, ia memesan dua porsi sup krim kentang hangat, dua porsi menu daging, dan juga salad buah.
Sementara menunggu, Dara ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket, ditambah cipratan air hujan yang mengenai baju serta rambutnya membuatnya merasa tidak nyaman, gadis itu mandi dengan cepat karena khawatir layanan kamar akan segera datang.
Selesai mandi Dara kebingungan, ia lupa pakaian gantinya masih ada di dalam ransel di bagasi mobil, sedangkan baju kotor yang tadi dipakainya sudah dilemparkannya ke sudut lantai kamar mandi. Matanya menjelajah, beruntung ada dua buah bathrobe yang tergantung di dekat wastafel, ia segera mengambilnya, memakainya lalu mengencangkan tali pengikatnya dan membiarkan rambutnya yang setengah basah tergerai begitu saja.
Dara keluar dari kamar mandi bertepatan dengan kedatangan pelayanan kamar yang mengantarkan menu pesanannya, Ia segera mendorong meja penuh makanan tersebut ke sisi ranjang di mana Wira tengah berbaring.
"Kak, bangun Kak. Makanlah dulu, sejak tadi perut Kakak bergemuruh." Dara menepuk-nepuk sisi wajah Wira dengan lembut.
Pria itu mendudukkan dirinya, lalu netranya terbuka. Wira terkesiap melihat Dara yang duduk di tepian ranjang hanya memakai bathrobe dengan rambut setengah basah yang dibiarkan tergerai. Aroma wangi sabun dan shampo dari tubuh Dara, menguar menggoda indera penciumannya.
"Ehm... aku-aku tidak lapar," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya dari makhluk ranum nan menggoda di depannya.
"Pokoknya Kakak harus makan! Agar segera pulih. Ayo, aaa...."
Dara menyodorkan sesendok penuh sup krim kentang yang masih hangat di depan mulut Wira.
Wira akhirnya membuka mulutnya dan membiarkan Dara menyuapinya, walaupun sejak matanya terbuka tadi degupan jantungnya menggila seolah hendak meledakkan dirinya efek dari pemandangan di depannya.
Selesai menyuapi Wira, Dara menyantap makanannya, hingga isi meja yang tadinya penuh dengan hidangan kini hanya menyisakan mangkuk dan piring kosong. Ia menggeser meja itu menjauh dan kembali duduk di sisi ranjang.
"Bagaimana keadaan Kakak sekarang?" tanya Dara.
"Sudah lebih baik?" jawabnya singkat.
"Cuaca di luar masih hujan, jadi kuputuskan untuk menginap dulu di sini. Maaf aku tidak meminta pendapat Kakak terlebih dahulu, karena hanya solusi ini yang terlintas di pikiranku. Ini sudah malam, sebaiknya Kakak beristirahat kembali agar besok lebih segar, Aku akan tidur di sofa."
Dara hendak beranjak, tetapi Wira menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya terjatuh ke dalam pelukannya. Wira merengkuhnya dengan erat dan menghirup aroma tubuh Dara dalam-dalam.
"Tetaplah didekatku, aku membutuhkanmu," bisiknya parau.
*****
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya.
Jangan lupa juga like, komentar, rate bintang lima, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis, ayo vote sebanyak-banyaknya ya readers.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.
With Love,
Senjahari_ID24