
Setelah Jerry pergi, aku langsung menyetir mobil sendiri untuk mengantar Yanti. Aku tidak memanggil sopir, juga tidak merepotkan orang lain. Mungkin sifat mandiri selama ini mendorongku membuat keputusan yang tidak cukup cermat ini, meski aku telah bersumpah dalam hati untuk tidak akan menginjakkan kaki di tempat ini untuk kedua kalinya, tetapi aku ingin sekali menyelesaikan masalah ini secara pribadi dengan Yanti. Jangan sampai merepotkan ayah dan ibuku lagi, jangan mengganggu kehidupan kami yang semulanya tenang lagi.
Dalam perjalanan pulang, Yanti terus mendesak, “Ayo cepat, jika Herman mati, setengah tanggung jawabnya ada padamu.”
Sesaat kemudian, Yanti mencari topik lagi, “Aku kira kamu akan menolak untuk mengantarku pulang, tak disangka kamu lumayan baik, mirip dengan Herman.”
Aku merasa mual dan tidak menghiraukannya.
Yanti merokok di kursi belakang sambil mendoakan Herman.
Aku sedikit penasaran dan bertanya, “Bukankah kamu tidak ingin merawat dia lagi, mengapa begitu cemas ingin pulang menengoknya?”
Yanti melirikku, “Kamu kira aku tidak punya hati seperti Vivi? Vivi itu bajingan, tetapi aku bukan. Seberapa payahnya Herman, dia juga suamiku, aku pasti akan sedih jika dia mati. Bagaimanapun lebih baik hidup daripada mati.”
Benar, bagaimanapun lebih baik hidup daripada mati. Meski Yanti berengsek, tetapi masih punya sedikit hati nurani.
Mobil melaju dengan cepat dan sampai di desa setelah satu setengah jam. Kami pun langsung pergi ke puskesmas, dengar-dengar Herman sudah dibawa ke unit gawat darurat. Setelah memasuki bangsal, aku baru menyadari Yanti tidak memakai sandal. Kaos kakinya yang memperlihatkan dua jempolnya itu kini bertambah dua lubang lagi.
Di dalam bangsal yang sederhana, Herman berbaring di atas ranjang yang berdenyit, kelihatannya telah berhasil diselamatkan. Yanti melampiaskan emosi dengan memukuli lengan Herman sambil mengumpat mengapa dia tidak langsung mati terjatuh.
Di belakangnya, seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan bersih memasuki bangsal, meletakkan termos di tangannya di sudut ruangan. Dilihat sekilas, postur badannya sedikit mirip dengan Jerry. Baju lengan pendek warna putih dan celana pendek warna hitam, serta sepatu olahraga yang sangat viral di perkotaan setengah tahun yang lalu, tidak tampak seperti orang dari desa terpencil ini.
Bagian belakang lehernya sangat bersih, rambut sepanjang setengah ruas ibu jari tampak berkilauan di bawah cahaya lampu. Dia berkeringat cukup banyak.
Ketika dia memutar badan ke arahku, aku baru melihat wajahnya dengan jelas. Kelopak mata, hidung mancung, dan mata yang berseri membuatnya terlihat lebih seperti mahasiswa tahun pertama atau kedua. Sepasang matanya yang lugas memancarkan sinar terang.
“Kamu yang antar Tante Yanti pulang ya, terima kasih.” Dia tersenyum padaku, lalu menghampiri Yanti, “Tante Yanti, Paman Herman sudah diselamatkan, untungnya Tante Wulan pergi ke rumah Tante tepat waktu. Waktu itu dia tidak tahu harus cari siapa, maka dia telepon aku. Kebetulan aku sedang mengantarkan barang ke desa kalian, lalu aku pun segera membawanya kemari.”
Pria itu menggaruk kepala dengan lugu dan Yanti menepuk lengannya, “Terima kasih ya, Hardi, kamu memang bisa diandalkan. Vivi yang berengsek itu benar-benar membawa nasib buruk.”
Ternyata pria ini adalah Hardi Sugianto.
Sebelum bertemu Hardi, aku kira dia adalah pria setengah baya yang semena-mena. Ketika kini dilihat-lihat, sepertinya aku yang berpikir terlalu buruk.
Hardi tersenyum, “Tidak apa-apa, tidak perlu cemas mengurusi dua ratus juta itu. Aku tahu kondisi keluarga Tante tidak begitu baik sejak kecelakaan Paman Herman.”
Yanti tersenyum pahit, “Seandainya saja Verdi bisa setengah dewasa darimu, aku pasti merasa sangat puas.””
Di dalam bangsal, aku berdiri diam di samping dan melihat keadan ini. Sepertinya Yanti yang sangat menjengkelkan ini juga tidak terlalu keji. Namun, mungkin aku terlalu banyak pikir, terlalu bersimpati. Mungkin juga karena dia sangat jahat, sehingga membuat orang memiliki kesan baik terhadap dirinya saat dia menuturkan perkataan yang baik.
Malam ini, Yanti bersikeras untuk berjaga di bangsal. Aku dan Hardi pergi melunaskan biaya pengobatan sisanya, lalu aku mengajaknya duduk di bangku di luar. Hardi membeli dua botol minuman di warung samping dan memberikan satu ke dalam genggamanku.
“Kamu putri kandung dari Tante Yanti? Lumayan mirip juga. Vivi tidak mirip Tante Yanti, juga tidak mirip Paman Herman. Vivi lebih imut.” Hardi tersenyum dan meneguk setengah botol Coca-Cola.
“Terkait Vivi yang ingin membatalkan janji pernikahan denganmu, kamu sudah tahu kan?” tanyaku.
Hardi mengangguk, “Iya. Hari itu saat ayahmu menjemput Vivi dari desa, semua desa sudah tahu. Menurutku, masalah ini bisa dimaklumi.”
Aku menghela napas lega, “Baguslah. Aku akan transfer dua miliar itu ke kamu dalam dua hari, tolong berikan nomor teleponmu.”
Pembaca sayangku, novel ini gratis dan sudah diupdate lebih dari 70 bab di App Fi/zzo. ( Waktu cari, jangan tambah "/")
Hardi mengeluarkan ponsel, ponselnya adalah ponsel Apple terbaru. Tampaknya, latar belakang keluarga Hardi lumayan bagus, meski berada di desa, tetapi aura dan penampilannya tidak seperti orang desa yang bercocok tanam.
Aku dan Hardi saling bertukar nomor kontak. Hardi tersenyum dan menjelaskan, “Sampaikan kepada Vivi, tidak perlu merasa terbebani, sebelumnya aku hanya menganggap dia sebagai adik. Jika bukan ibuku meramalkan tanggal lahir Vivi dan katanya Vivi dapat mengembangkan rezekiku, sangat serasi denganku, aku tidak mungkin bertunangan dengan Vivi. Aku tidak pernah pacaran, juga tidak pandai pacaran, hehehe…”
Hardi tersenyum lugu dan menundukkan kepala, rona merah di pipinya tetap tampak jelas di malam hari. Entah mengapa, suasana hatiku yang tertekan menjadi tidak begitu galau lagi di malam yang penuh kicauan serangga ini. Mungkin karena kesejukan di malam hari, mungkin juga karena minuman berkarbonasi di tanganku.
Tiba-tiba, Hardi mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam saku dan memberikannya padaku. “Oh iya, dengar-dengar keluargamu membuka hotel. Aku menjalankan bisnis kayu. Dua tahun yang lalu, aku membuka satu pabrik, khusus memproduksi barang sekali pakai. Sebelumnya memproduksi sumpit sekali pakai, sekarang memproduksi apa saja. Jika kamu atau temanmu ada keperluan, silakan hubungi aku. Aku akan memberimu harga paling murah.”
Aku mengambil kartu namanya dan melihat nama Hardi Sugianto yang sederhana seperti orangnya.
“Baik, aku pasti akan hubungi kamu jika ada keperluan.”