You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 128



Pria tinggi kokoh itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar kemudian mengembuskan napasnya lega. Setidaknya kali ini ia tidak mendapati benda-benda yang membuatnya membelalakkan mata.


Seperti kemarin malam, ia dikejutkan dengan permintaan Dara yang sungguh di luar dugaan. Wanita hamil itu merengek dan meminta Wira memakai piyama berwarna pink dengan gambar karakter princess disney. Seorang pria sejati memakai pakaian semacam itu?


Yang benar saja. Batinnya.


Wira membujuk dengan segala upaya agar Dara mengganti permintaannya, tetapi istrinya itu merajuk bahkan tak mau diajak bicara ataupun disentuh olehnya. Demi keselamatan malam-malamnya agar tetap berada dalam kehangatan serta ketakutannya akan mitos yang pernah disebutkan Bu Rina, dengan terpaksa akhirnya ia pun mengenakan piyama tersebut. Wira mendesah frustasi saat baju warna pink itu melekat ditubuhnya. Namun, ekspresinya berkebalikan dengan Dara yang justru riang gembira.


Kali ini Wira masih tertegun. Mungkin karena masih dalam masa-masa ngidam, sang pujaan hati yang sedang mengandung buah hatinya itu acapkali membuatnya olahraga jantung dengan keinginan anehnya.


"Mas. Duduk di sini." Dara duduk di tepian ranjang dan menepuk-nepuk tempat disebelahnya agar Wira duduk disampingnya.


Wira menghampiri dan duduk dengan patuh. Dia berusaha tersenyum meskipun perasaannya gusar dan bertanya-tanya dalam hati tentang permintaan Dara selanjutnya.


"Dedeknya mau minta apa sama Papa?" tanyanya berusaha tetap tenang.


"Dedeknya mau ini," sahut Dara bersemangat sambil memperlihatkan sisir dan dua buah ikat rambut dengan aksen bunga-bunga bermotif pelangi di tangannya.


"Ini untuk apa sayang?" Wira mengernyitkan dahinya karena tak paham.


"Sekarang dedeknya pengen Papa di kuncir dua pakai ikat rambut ini," pinta Dara dengan manjanya.


"Apa...."


Wira terperangah hingga tak sengaja berteriak saking kagetnya dan hal itu membuat air muka Dara berubah seperti hendak menangis. Lonjakan hormon yang signifikan pada wanita hamil di awal-awal trimester pertama terkadang menyebabkan perubahan emosi yang tidak stabil. Meskipun suasana hatinya sedang bahagia bisa tiba-tiba berubah jadi ingin menangis saat itu juga.


"Kenapa Mas membentakku? permintaannya nyusahin ya," ujarnya. Ujung hidung bangirnya mulai memerah seiring dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik ke bawah.


"Beneran? mukanya kayak gak ikhlas gitu?" protes Dara.


"Iya bener. Lakukan apapun yang kamu suka, aku milikmu," ucap Wira pasrah.


"Kalo gitu sekarang Mas diem ya, hair stylist akan beraksi...."


Dara menyisir rambut Wira dengan antusias, sesekali pria itu meringis saat kulit kepalanya seolah ikut ditarik karena Dara memasangkan ikat rambut tersebut terlalu kencang.


Rambut hitam legam milik suaminya yang biasa diremasnya ketika mereka bercinta, kini menjadi korban dan berubah berhiaskan dua buah ikat rambut cantik nan lucu. Dara benar-benar bersemangat, setelah selesai dia duduk di pangkuan Wira dan menciumi wajah suaminya itu.


"Ughhh... imutnya," ujarnya dengan senyum mengembang karena puas dengan hasil karyanya.


"Kamu senang?" tanya Wira.


Dara mengangguk, "Dedeknya seneng banget," jawabnya sambil mengusap-usap perutnya kemudian ia menguap tanda rasa kantuk mulai menyapa.


Wira menipiskan bibirnya menertawakan dirinya sendiri. Orang-orang pasti takkan pernah menyangka, bahwa dokter jenius yang dikenal tegas dan disegani di khalayak umum kini harus tunduk pada titah wanita muda yang telah bertahta menjadi ratu di hatinya.


*****


Author note


"Dedeknya bukan minta dijenguk ya, wkwkwk 😂😂😂😂."