You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 135



Author note.


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih, selamat membaca 💕.


With Love,


Senjahari_ID24


******


Wira membawa benda tersebut ke ruang kerjanya, menghubungkannya dengan laptop serta headset untuk melihat dan mendengar apa saja yang terjadi selama ia pergi.


Awalnya layar laptop masih menampilkan dirinya yang berpamitan pergi, setelah beberapa saat kemudian mulailah terlihat dan terdengar rekaman Dara yang menangis dan bercerita panjang lebar kepada Freya.


Wira mendengarkan dengan seksama, lalu ia terkesiap dan membelalakkan matanya dengan tangan mengepal kuat. Rahangnya mengeras disertai gigi gemeletuk geram. Amarahnya berkobar dengan hebatnya saat selesai mendengar semua penuturan Dara dari rekaman tersebut.


Perihal Michelia, Wira tak begitu kaget karena sudah mengetahui kebobrokan wanita berkedok keanggunan itu sejak lama. Maka dari itu, Wira tak pernah mempunyai ketertarikan sedikitpun kepadanya sejak di kampus dulu meskipun dia menggodanya mati-matian, ia takkan tertipu dengan rupa jelita serta tubuh seksi Michelia.


Namun, hal yang membuatnya sungguh nelangsa adalah tentang rencana jahat ibunya yang ingin memisahkan mereka. Wira menangis dalam diam, hatinya luar biasa perih menyembilu merasa tersakiti oleh ibu kandungnya sendiri.


Jika hanya menentang pernikahannya dengan Dara karena kesenjangan status sosial yang selalu diprioritaskan ibunya, ia tak begitu peduli dan mempermasalahkannya karena seiring dengan berjalannya waktu lambat laun ia percaya bahwa ibunya akan menerima semua takdir ini.


Akan tetapi Wira tidak menyangka, ibunya seolah tak punya hati dengan mempunyai pemikiran semacam itu. Bukankah ibunya juga seorang wanita yang pernah mengandung dan melahirkan? Pernahkah sebagai sesama wanita ibunya berpikir bagaimana tentang perasaan Dara?


Hatinya sungguh sedih dan masih sulit untuk percaya, bahwa ibu yang melahirkannya tega mempunyai niat sekeji itu untuk memisahkan Dara dari bayinya dan juga darinya. Mengapa ibunya tak mempertimbangkan dari sisi dirinya, apakah Ratih tak lagi menyayanginya sebagai putranya? Sehingga dengan teganya mempunyai rencana untuk menghancurkan kebahagiaannya yang kini nyaris sempurna.


Pantas Dara selalu terlihat murung. Kini Wira tahu alasannya. Jelas saja Dara banyak melamun, memikirkan bagaimana istri yang sangat dicintainya dipaksa dipisahkan dari bayi yang dilahirkannya sudah pasti membuat Dara hampir gila. Dadanya terasa sesak, segala sesuatu yang baru didengarnya membuatnya luar biasa murka.


Ia kembali menghubungi orang suruhannya. "Mengenai istriku, kalian awasi dengan benar jika dia keluar rumah. Jangan sampai lengah! Aku khawatir istriku terancam bahaya dari orang-orang yang mempunyai niat jahat kepadanya." Wira menjeda kalimatnya sejenak.


"Sekarang ada tugas tambahan. Kerahkan orang-orang terbaikmu untuk membuntuti seseorang dan kumpulan semua bukti-bukti kebusukannya jangan sampai ada yang terlewat. Namanya Michelia, akan kukirimkan biodatanya sekarang. Kuminta kalian bekerja secepatnya, dalam satu minggu kalian harus sudah berhasil mengumpulkan semua bukti itu!" titahnya tegas dan dingin.


Raut mukanya berubah menggelap, dengan sorot mata tajam yang menakutkan disertai tangan yang mengepal hingga buku-bukunya memutih. Wira bertekad takkan pernah membiarkan siapapun merenggut Dara dan bayinya dari sisinya. Dia akan melindungi dan menjaga mereka dengan segenap jiwa raganya.


Wira pernah kehilangan sesuatu yang bernama cinta, di sukmanya terus menggema tak ingin semua hal buruk itu terulang lagi. Ia tak mau mencicipi rasa pahit getir itu kembali. Kehilangan cinta di dada laksana raga tak bernyawa, seumpama hidup enggan mati pun tak mau.