
Setelah jam kuliah selesai ketiganya langsung bersiap-siap untuk berangkat ke bioskop, tak lupa Dara mengirim pesan singkat kepada Wira meminta izin untuk pergi bersama teman-temannya. Wira sangat mengerti bahwa sesekali Dara juga butuh berkumpul dengan sahabatnya, maka dari itu ia mengizinkan dengan catatan harus pulang sebelum matahari terbenam.
"Pak Jono mana Ra?" tanya Anggi, saat ini mereka sudah berada di tempat parkir kampus.
"Pak Jono udah kuhubungi, dia nggak akan jemput ke kampus sekarang, paling nanti sore kuminta dia menjemputku di mall. Kita berdua naik taksi online aja, Freya kan gak bisa jauh-jauh dari motor trailnya," usul Dara pada Anggi.
"Ehm... pada mau pulang ya?" Terdengar suara Rifki menyapa di belakang mereka. Ketiganya menoleh dan Anggi langsung memasang badan, jika ada pria tampan Anggi selalu terdepan.
"Halo Pak Rifki. Kita mau pergi menonton film sebelum pulang, biar gak jenuh sama mata kuliah Pak," sahut Anggi dengan bahasa tubuh genitnya seperti biasa.
"Mau pada nonton di mana nih? sepertinya menyenangkan." Rifki terlihat penasaran, apalagi dengan adanya Dara di situ dia merasa semakin betah untuk ikut bergabung dengan mereka.
"Di bioskop yang ada di mall besar dekat coffe shop yang terkenal itu Pak." Dengan cepat Anggi kembali menyahuti.
"Boleh ikut bergabung, aku juga sedang merasa suntuk," ujar Rifki mencari alasan, padahal niat sebenarnya ingin bisa lebih dekat lagi dengan Dara.
"Woh, boleh banget Pak. Apalagi kalau dibayarin, Iya kan Frey, Ra?" Anggi menatap temannya bergantian memberi isyarat supaya mengiyakan.
"Ahahaha, i-ya," ucap Freya dan Dara bersamaan sambil tertawa kikuk dan malu karena perkataan Anggi yang terlalu blak-blakan.
"Ya sudah kita berangkat sekarang, naik mobilku saja," tawar Rifki.
"Anggi dan Dara bisa ikut Pak Rifki saja karena saya tidak bisa meninggalkan belahan jiwa saya di sini." Tunjuk Freya pada motornya.
*****
Sementara sore itu nyonya Ratih baru saja selesai berbelanja di salah satu butik terkenal yang terdapat di pusat perbelanjaan besar tersebut, di mall itu bukan hanya terdapat gerai-gerai butik ternama, tetapi juga terdapat banyak restoran serta bioskop yang fasilitasnya cukup memadai.
"Bawa semua barang-barang ini ke mobil," perintah Nyonya Ratih kepada salah satu pelayan pribadinya yang mengekor di belakangnya.
Dia selalu membawa satu orang pelayannya setiap kali pergi berbelanja, dengan patuh pelayan wanita itu membawa berpuluh-puluh paper bag di tangan kanan dan kirinya lalu langsung membawanya menuju tempat parkir.
Matanya teralihkan ketika melihat tiga orang gadis muda dan juga satu orang pria tampan yang sedang menuruni eskalator. Setelah dilihat dengan benar Nyonya Ratih mengenali itu adalah Dara meskipun dari jarak jauh.
"Enak betul hidupnya, gak usah kerja tapi bisa kuliah di universitas ternama dan bisa bebas pergi bermain seenaknya," Gumamnya dengan wajah angkuhnya.
Wira seharusnya tidak perlu bertanggung jawab akan kelangsungan hidup adik dari wanita mandul itu, kenapa masih membiarkan si anak pungut tinggal di rumahnya padahal Almira sudah meninggal. Aku harus menyuruh Wira untuk segera mengusirnya, jika dibiarkan dia bisa menjadi parasit yang menggerogoti harta putraku. Ucapnya dalam hati.
Dara tidak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dari jauh, saat tepat turun dari eskalator tak sengaja ia tersandung dan hampir terjatuh, untung saja Rifki yang ada di belakangnya dengan sigap meraih tubuh Dara sebelum terjerembab ke lantai, dan tanpa mereka ketahui seseorang telah mengambil gambar adegan itu.
"Hati-hati Ra."
"Makasih Pak, makasih." Dara segera menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari rangkulan Rifki, dia merasa canggung, karena bagaimanapun juga kini statusnya bukanlah wanita lajang lagi.
"Kalau begitu saya pamit duluan Pak, sopir yang menjemput saya sudah tiba. Dah Freya, dah Anggi." Dara berpamitan dan segera menuju lobi mall di mana pak Jono sudah menunggunya.