You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 134



Setelah Wira pergi mereka berbincang-bincang ringan. Freya juga menyampaikan pesan maaf dari Anggi yang tak bisa ikut berkunjung. Namun, tiba-tiba Dara langsung menangis berurai air mata dan hal itu membuat Freya terkejut.


"Ra, sebenarnya ada apa? kenapa kamu begini. Kita sudah bersahabat sejak lama dan aku dapat merasakan kalau kamu sedang mempunyai masalah yang sangat menganggumu. Hanya saja ketika di kampus aku enggan bertanya," ucap Freya sambil menggenggam tangan Dara.


Dara menatap sahabatnya yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Akhirnya Dara menceritakan hal yang membebaninya kepada Freya. Semua yang didengarnya di cafe dan juga kebimbangannya tentang bagaimana cara menyampaikannya kepada Wira ikut dipaparkannya kepada sahabatnya itu.


"Dasar manusia-manusia keji!" umpat Freya berang.


"Menurutku sebaiknya kamu ceritakan semua ini kepada suamimu. Dengan begitu setidaknya kamu sudah berusaha untuk mengungkapkan kebenarannya," ucap Freya.


"Jadi, menurutmu itu lebih baik?" tanya Dara.


"Tentu saja. Karena berkata jujur adalah yang terbaik dan akan terasa lebih melegakan terlepas apapun hasilnya nanti," sahut Freya meyakinkan Dara.


*****


Wira pulang sekitar pukul delapan malam. Ia menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar bisa kembali menemani istri tercintanya yang sedang membutuhkan dirinya di rumah.


Selesai memarkirkan mobilnya, ia menuju ruang makan untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering. Lalu, Bu Rina datang menghampirinya dan meminta waktu sebentar untuk berbicara.


"Tuan, saya hendak berpamitan. Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja karena besok saya akan kembali pulang ke kampung halaman," ucap Bu Rina.


"Ke-kenapa mendadak sekali? apakah pekerjaan di sini terlalu berat." Wira sangat terkejut.


Wira memijat-mijat pelipisnya, kepalanya berdenyut karena sang ibu dengan seenaknya memecat orang yang menjadi kepercayaannya di rumah ini. Entah terbuat dari apa hati ibunya itu Wira pun tak mengerti, memecat orang yang sudah lama mengabdi dan berdedikasi kepada keluarganya dengan begitu mudahnya tanpa adanya kesalahan yang berarti.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi. Aku dan Dara membutuhkanmu. Kumohon," pinta Wira memaksa.


"Tuan. Ibu Anda adalah yang memperkerjakan saya dulu, jadi beliau juga berhak memberhentikan saya," sahutnya dengan senyuman tulusnya.


"Begini saja. Karena ibuku sudah memberhentikanmu, maka sekarang aku lah yang memperkerjakanmu. Jadi jangan pergi. Tetaplah tinggal bersama kami, bukankah kita keluarga?"


Bu Rina tersenyum dengan sudut mata yang mulai menggenang, ia sungguh terharu. Karena tuannya menganggap dirinya keluarga. Ia bertekad akan terus mengabdi kepada keluarga ini hingga akhir hayatnya.


"Baik Tuan."


*****


Wira masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Dara sudah tertidur bergelung selimut. Ia mengangsurkan punggung tangannya membelai pipi mulus istrinya. Diperhatikan dengan seksama dan ia menemukan jejak-jejak air mata di wajah cantik Dara.


"Sebenarnya apa kamu sembunyikan sayang?" gumam Wira.


Lalu ia teringat akan kamera pengintai dan penyadap suara yang ditaruhnya di meja nakas. Wira menyimpannya di dekat vas bunga dan sudah pasti Dara tidak akan menyadari keberadaan benda tersebut karena lebih tampak serupa dengan jam duduk digital dari bagian luarnya, padahal jam tersebut di desain dengan kamera pengintai dan penyadap suara yang merekam secara otomatis.