
"Sayang... Dara, kamu kenapa?" Bibir Wira bergetar dipenuhi kecemasan yang nyata.
"To-tolong aku... M-mas. Se-sesak," ucapnya terbata lirih dan lemah.
Wira membetulkan posisi duduk Dara agar lebih tegak, menepuk-nepuk punggungnya dengan gerakan konstan dan lembut, berusaha tetap tenang meskipun ketakutan tengah menyerbunya tanpa ampun.
"Sayang... tetap bernapas, ikuti arahanku." Wira mencoba membimbing Dara supaya mengikuti instruksinya, Dara mengangguk lemah sementara buliran keringat dingin mulai deras membanjiri pelipisnya.
"Mas, a-aku... nggak ku-kuat... lagi. Se-sak... sak-sakit...." Dara mencengkeram kencang selimut yang menutupi bagian dadanya. Matanya memejam dan wajahnya berangsur pucat.
Wira didera kepanikan yang semakin membanjiri. Ia membungkuskan selimut tebal itu ke tubuh polos Dara, meraup ke dalam gendongannya dan menuruni tangga dengan hati-hati. Selesai menuruni anak tangga terakhir, Wira berteriak memanggil-manggil Pak Jono dan juga Bu Rina, suaranya menggema lantang sarat akan ketakutan dari setiap untaian nadanya.
"Pak Jono! Bu Rina!" Wira terus memanggil mereka berulang sambil menuju garasi. Bu Rina yang hampir jatuh tertidur, segera keluar dari kamarnya secepat mungkin ketika mendengar suara tuannya yang memanggil-manggilnya tak sabaran disertai derap langkah yang begitu nyaring di keheningan malam.
"Tuan ada apa?" Bu Rina terkesiap melihat Dara yang terbungkus selimut tebal tengah megap-megap kesulitan bernapas dalam gendongan tuannya.
"Mana Pak Jono? Dara harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang juga!"
"Biasanya Pak Jono ada di pos satpam. Biar saya yang panggilkan." Bu Rina tergopoh-gopoh mencari Pak Jono, dia sebetulnya ingin bertanya apa yang terjadi pada nyonya mudanya, tetapi untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berbincang-bincang.
Pak Jono yang melihat Bu Rina setengah berlari ke arahnya, langsung bangkit dari duduknya di bangku panjang depan pos satpam.
"Pak Jono. Cepat! Nyonya Dara hendak dibawa ke rumah sakit," ucap Bu Rina dengan napas tersengal.
"Hah? ada apa sebenarnya?" Pak Jono terperangah dan langsung waspada mengambil langkah seribu menuju garasi. Seingatnya kandungan nyonya mudanya masih belum waktunya untuk melahirkan, pasti terjadi sesuatu yang buruk, batinnya.
Pak Jono melihat Wira sudah berada di garasi dengan Dara dalam gendongannya. Wajah tuannya tampak pucat pasi disertai kepanikan yang nyata. Tanpa basa basi lagi Pak Jono segera membukakan pintu di bagian kursi penumpang salah satu mobil yang terparkir paling dekat pintu keluar. Setelah memastikan majikannya duduk, ia memutar dan masuk di kursi depan mengambil posisi di belakang kemudi.
Wira menurunkan kaca mobil sejenak sebelum Pak Jono tancap gas. "Bu Rina tunggulah di rumah. Nanti aku akan menghubungi jika ada keperluan yang harus disiapkan," titahnya.
"Baik Tuan."
*****
Sepanjang perjalanan Wira memeluk Dara dalam dekapan hangatnya dan menghujani puncak kepala Dara dengan kecupan yang sarat akan ketakutan. Wira terus menggumamkan kalimat-kalimat penenang mengupayakan kesadaran Dara tetap terjaga agar tidak sampai jatuh pingsan, juga membimbingnya supaya bernapas teratur kendati istrinya itu semakin kepayahan.
Sejujurnya rasa takut luar biasa tengah mengerubutinya, bahkan tangannya ikut gemetar. Akan tetapi ia harus tetap kuat dan tenang, meskipun tanpa diperintah sudut netranya mulai basah oleh sumber air yang mendesak di pelupuk matanya. Tak lupa, Wira juga menghubungi Raisa, memintanya datang ke rumah sakit sesegera mungkin dan menyampaikan keadaan darurat yang dialami Dara.
Mobil hitam mengkilap itu sampai di lobi rumah sakit bertepatan dengan mobil Raisa yang baru saja tiba. Tampak Raisa turun dari Toyota Yaris berwarna merah yang diparkirkan serampangan masih dengan memakai piyama bercorak kotak-kotak dilapisi dengan jas putihnya. Raisa langsung berlari menghampiri begitu melihat Wira yang turun dengan Dara dalam gendongannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Raisa sembari mengatur deru napasnya yang tak beraturan.
"Ceritanya panjang, Sa. Sekarang tolong segera tangani dulu istriku," pinta Wira dengan raut wajah tegang yang sangat kentara, mirip seperti seseorang yang hendak berangkat ke medan perang.
Raisa berteriak memanggil para perawat untuk membawakan tempat tidur pasien. Wira meletakkan Dara dengan hati-hati di ranjang tersebut tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Ke unit gawat darurat khusus penanganan ibu hamil, cepat!" perintah Raisa tegas dan dengan sigap mereka semua langsung mendorong ranjang tersebut menuju ruangan yang dimaksud.