You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 213



Raisa tersenyum simpul, sangat mengerti dengan apa yang kini dirasakan Wira. Temannya itu sudah lama menanti untuk menjadi seorang ayah, sudah pasti luapan rasa bahagia membuncah tak tertahankan.


Setelah beberapa saat Wira kembali berhasil menguasai dirinya dari lonjakan rasa senang yang menerjangnya, dia kembali menegakkan badannya sembari menormalkan embusan napasnya.


"Apakah ada pembengkakan yang terjadi? seperti di kaki misalnya?" Raisa lanjut bertanya.


"Sejauh ini tidak ada Dok," jawab Dara.


"Baiklah, pemeriksaan selesai Nyonya Wira."


Raisa menyudahi prosedur pemeriksaannya kali ini.


Dara turun dari tempat tidur kemudian membenahi pakaiannya, sementara Dara sibuk dengan dirinya sendiri Raisa melempar tatapan juga mengkode menggunakan tangannya sekilas kepada Wira memberi isyarat bahwa ada hal penting yang ingin disampaikannya berdua saja.


Wira tampak terkejut, tetapi sesaat kemudian langsung mengerti diiringi anggukan tipis dan berusaha mengontrol air mukanya agar Dara tidak curiga.


"Jangan sampai terlalu lelah fisik dan juga pikiran. Mungkin kamu bisa mempertimbangkan cuti kuliah selama kehamilan." Raisa tiba-tiba memberi usulan semacam itu.


"Memangnya kenapa Dok? apakah ada sesuatu tentang kondisiku. Aku merasa tubuhku baik-baik saja, hanya sedikit mudah lelah. Lagipula aku pasti bosan jika terus berdiam diri di rumah." Dara menatap Raisa penuh tanya begitu juga dengan Wira yang melakukan hal serupa.


"Kondisinya semuanya baik, aku hanya mengusulkan saja. Kamu bisa memanfaatkan kehamilanmu untuk bermalas-malasan dan menghindar dari tugas kampus," ujar Raisa terkekeh sembari menuliskan resep di selembar kertas putih.


"Perhatikan makanan yang dikonsumsi, harus bergizi seimbang. Kurangi juga jumlah asupan gula dan garam. Jika berat badanmu naik drastis segera konsultasikan lagi denganku. Penambahan bobot tubuh pada masa kehamilan memang sudah biasa, tapi kita harus menjaga agar tetap dalam batas normal demi kesehatanmu dan bayimu. Sehat selalu." Raisa menyerahkan kertas tersebut kepada Wira dan calon orang tua baru itu beranjak undur diri dari sana.


"Sayang, sementara aku mengambil resepmu, kamu mau menunggu di mobil atau di ruanganku? tidak usah ikut ke apotek, banyak orang sakit di sana dan sebagai ibu hamil kamu harus menjaga kondisimu jangan sampai jatuh sakit." Keduanya bercakap-cakap sambil berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit dengan lengan kokoh Wira yang merangkul pinggang Dara posesif.


"Mmm... di mobil saja. Aku akan menunggu sambil membaca buku seputar kehamilan," sahut Dara bersemangat.


Wira mengantarkan Dara ke tempat parkir dan meminta Pak Jono yang duduk di jok depan untuk menjaga Dara. "Tunggu sebentar ya, aku tidak akan lama." Wira mengusap kepala Dara dan si cantik itu mengangguk patuh


*****


Tiga puluh menit berlalu Wira baru kembali, raut wajahnya tampak muram tak secerah tadi entah apa penyebabnya. Ia membuka pintu kursi penumpang, dilihatnya Dara yang ternyata tertidur sambil memeluk bukunya.


"Baru sekitar sepuluh menit yang lalu Nyonya tertidur, Tuan," lapor Pak Jono yang duduk di kursi kemudi.


Wira mengangguk lalu masuk ke dalam dan duduk di sebelah Dara. Tangannya menepuk-nepuk lembut pipi Dara dan berbisik pelan.


"Dara... sayang...."


Dara mengerjap, mengucek matanya perlahan dan menegakkan punggungnya. "Mmhh... maaf aku ketiduran. Tumben ambil resepnya lama Mas?" Dara menguap di sela-sela pertanyaannya.


"Para pasien yang mengantri mengambil obat di apotek sedang membludak. Jadi agak lama. Tapi sayang, ada yang harus kusampaikan padamu." Wira seakan berat melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa Mas?" Dara mengernyitkan dahi menangkap nada tak biasa dari suara suaminya.


"Liburan kita ke Lombok sepertinya tidak jadi, penerbangan dibatalkan karena cuaca buruk, Maaf." Wira mendesahkan napasnya berat kemudian tertunduk lesu.


"Kukira ada apa...." Dara tertawa kecil.


"Padahal ini adalah pertama kalinya kita akan berlibur berdua. Kamu pasti kecewa," ucap Wira penuh sesal.


"Tak apa Mas, jangan terlalu dipikirkan." Sejujurnya Dara juga merasa sedikit kecewa, tetapi melihat wajah suaminya yang tampak luar biasa muram dia pun memakluminya, pasti Wira lebih kecewa dari dirinya.


"Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita pergi berlibur ke tempat yang dekat saja. Kita ke villaku di puncak, villa tempat kita menikah?" Wira memberi usulan dadakan sebagai pengganti liburan mereka yang gagal.


"Kemanapun itu asalkan bersama Mas, aku menyukainya...."