
Almira meronta, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan Giovani yang memeluknya begitu erat hingga terasa sesak.
"Aku sangat merindukanmu Al... aku sangat merindukanmu," racaunya dengan suara parau. Panggilan sayang Giovani masih tidak berubah, hanya dia seorang yang selalu memanggil nama Almira dengan sebutan Al.
Ia melonggarkan pelukannya ketika menyadari ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Giovani memang sedikit mengurai pelukannya tetapi tidak serta merta membuat seseorang yang dipeluknya bebas begitu saja, tangannya tetap mengunci pergerakan Almira agar tidak melarikan diri darinya.
semua orang yang sedang bertugas di poli itu terkaget-kaget seolah tak percaya melihat pemandangan langka semacam ini karena mereka sangat tahu siapa itu Almira.
"Kalian semua, kosongkan ruangan ini sekarang juga!" perintahnya kepada semua pekerja dan perawat yang menatap ke arahnya.
"Ta-tapi dokter," sela seorang perawat yang juga sedang bertugas di sana.
"Jangan membantah! kalian semua keluar dulu dari sini, dan jangan masuk sebelum aku perintahkan!" bentaknya memberi ultimatum. Semua perawat tak berani membantah, dan langsung membubarkan diri keluar dari sana.
"Kita perlu bicara." Giovani menarik tangan Almira menuju ke ruangan pribadi miliknya di poli radiologi tersebut.
"Kak, jangan begini." Almira berusaha melepaskan tangannya dari genggaman erat Giovani walaupun itu mustahil.
Giovani tak memperdulikan ucapan Almira, ia terus menyeret wanita yang meronta itu hingga masuk ke ruangan pribadinya.
Setelah berada di dalam, Giovani kembali memeluknya hingga punggung Almira membentur tembok. Namun, kali ini disusul isakan kecil dari pria yang memerangkapnya itu, membuat Almira berhenti meronta lalu terdiam.
Giovani menangis? Batin Almira
"Kak Gi-gio... aku se-sesak," ucap Almira terbata.
Giovani langsung tersadar bahwa dekapan eratnya menyakiti Almira ketika telinganya mendengar wanita itu mengeluarkan suara. Dia melonggarkan pelukannya dan menatap ke dalam netra cantik Almira yang selalu memukaunya.
Sejenak, dalam keheningan yang membentang, mereka menatap satu sama lain. Sorot mata saling merindukan masih terpancar menyeruak di sana.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf, maafkan aku," desah Almira yang kemudian menundukan wajahnya.
"Aku masih mencintaimu Al, perasaanku padamu masih sama seperti dulu," Giovani mengucapkan kalimatnya tanpa ada keraguan sedikitpun.
Degh....
Almira yang asalnya menunduk, langsung mendongakan wajahnya yang berjarak hanya beberapa sentimeter dengan Giovani. Tetapi sesaat kemudian, ia memalingkan pandangannya ke samping karena tatapan Giovani seperti hendak mengorek dan mengeluarkan seluruh isi hatinya melalui matanya.
"Jangan mencintaiku, sekarang semuanya telah berubah, aku sudah menikah, semua itu hanya masa lalu." Almira menyentuhkan tangan kirinya di jari manis kanannya yang tersemat cincin pernikahannya dengan Wira.
Giovani mengembuskan napasnya kasar, dadanya terasa sesak, hatinya seperti terhimpit ketika mendengar kalimat "aku sudah menikah" yang meluncur dari mulut Almira. Tetapi, pria itu menangkap sesuatu dari sudut mata Almira, pancaran rasa cinta untuknya yang masih bisa dirasakannya, walaupun hanya berupa bara api yang hampir meredup.
"Apakah kamu masih mencintaiku?Jangan bohong padaku Al, aku sangat mengenalmu." Giovani mengguncang bahu Almira agar wanita itu kembali fokus kepadanya.
Almira hanya terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Giovani, ia masih menelaah tentang getaran yang kini dirasakannya ketika kembali bertemu dengan sang cinta pertamanya, apakah dirinya juga masih mencintainya?