You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 63



Kopi yang mengepul tadi sekarang sudah berganti suhu, tetapi satu tegukan pun belum dicicipinya. Setelah mendengar pemaparan orang suruhannya Wira tenggelam dalam pikiran-pikiran yang berkecamuk di benaknya.


Malam semakin larut, pengunjung di kedai kopi mulai pulang satu persatu, hanya tinggal beberapa saja yang masih menikmati kopi sambil bercengkrama di sana. Sedangkan dirinya, sejak kepergian pria bertopi tadi masih termenung menatap kotak berwarna kuning di hadapannya.


Tangannya bergerak membuka penutup kotak itu, di keluarkannya satu persatu benda yang ada di dalamnya. Tak ada benda yang berarti, hanya sekumpulan barang-barang para gadis SMA pada umumnya. Namun, ada dua benda yang menarik perhatiannya, satu buku harian berwarna biru muda, warna favorit Almira, dan juga satu lembar foto.


Ragu-ragu Wira mengambil dan mengamati foto tersebut, itu adalah Almira sewaktu masih remaja, Wira mengenalinya karena dulu sering melihat foto-foto lama Almira di rumah lamanya. Lalu matanya tertuju pada pria muda yang duduk di samping Almira, dari garis wajahnya itu adalah Giovani, kemudian Wira membalikkan foto tersebut dan di belakangnya tertulis.


My first love.


Aliran napasnya mulai terasa sesak, Wira menghela napasnya pendek-pendek mencoba menenangkan semua rasa yang mulai mencekik dari rongga dadanya. Dia juga membaca lembaran demi lembaran buku harian tersebut yang isinya tentu saja tentang cerita cinta antara Almira dan Giovani.


Selama ini dirinya berusaha menyangkal tentang semua yang di dengarnya di ruang radiologi sesaat sebelum kejadian kecelakaan, maka dari itu Wira mencari kebenarannya dan berharap setelah mengetahuinya bisa mengobati luka di hatinya. Namun, justru yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar, karena hal itu hanya semakin memperlebar sayatan sembilu di kalbunya yang baru saja mengering.


Pria tampan itu kembali mengamati selembar foto tadi, ia merasa familiar dengan foto itu, tetapi dimanakah dia pernah melihatnya? Setelah menelaah dengan teliti Wira terkesiap dan melebarkan matanya.


Tak berlama-lama lagi Wira memasukan semua barang ke dalam kotak tadi dan membawanya dari sana, dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan menaruh kotak tersebut di kursi penumpang kemudian langsung tancap gas pulang menuju rumahnya.


Saat sampai di rumah, beberapa lampu di dalam ruangan rumah besar itu sudah mulai dimatikan, maklum saja waktu sudah menunjukkan tengah malam. Di keheningan dan kelamnya malam itu Wira berlari berderap menuju ruang balet sambil membawa kotak tadi.


Bu Rina yang masih terjaga memberikan hormat dan menyapa, tetapi sepertinya Wira tidak mendengarnya dan hanya berlalu melewati kepala pelayan rumahnya seolah tak terlihat.


Wira mengambil kunci ruangan balet, membukanya dan masuk ke dalam. Diletakkannya kotak yang di bawanya di lantai kemudian melangkah menuju lemari yang berisi kaset-kaset musik balet. Wira mengacak-acak kaset yang berjajar dengan rapi tersebut, dan setelah beberapa saat mencari akhirnya ia menemukan benda yang dicarinya sejak tadi yaitu kaset musik balet yang paling sering diputar Almira.


Dengan tangan gemetar dia membukanya, di dalam covernya ada foto Almira dan Dara yang tertempel di sana, Wira mengambil selembar foto dari kotak yang dibawanya tadi dan membandingkannya. Lalu, matanya menemukan bahwa foto Dara yang ada di kaset itu seperti sengaja ditempelkan untuk menghalangi foto di bawahnya.


Dengan tangan gemetar Wira membuka foto Dara yang menempel itu, dan benar saja dasarnya adalah foto yang sama, foto Almira dan Giovani. Wira mencopot foto yang sama tersebut, tetapi dibelakangnya tertera tulisan yang berbeda dengan foto yang satunya lagi.


Musik ini adalah irama diriku dan dirimu, yang akan selalu mengalun kukenang seumur hidupku.


Tubuhnya limbung, hatinya kembali terkoyak, Wira luruh ke lantai dan bersandar di dinding dengan kedua telapak tangannya menutup wajahnya, kenyataan kali ini sungguh memukulnya karena ternyata selama hidup bersamanya, Almira masih menggenang Giovani setiap harinya.