You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 212



Pagi ini seorang pemuda berjas putih terhuyung-huyung berjalan gontai dan lesu ke arah kantin rumah sakit. Mendaratkan bokongnya di bangku kantin dan kepalanya di atas meja lalu memejamkan mata karena kantuk yang menggelayutinya.


Ya, siapa lagi kalau bukan Fatih. Semalam sepulang dari pesta, bayangan Freya yang begitu cantik memesona di matanya saat memakai gaun, terus-menerus berputar dibenak si calon dokter itu. Membuatnya semakin mendamba sehingga dirinya tak bisa terpejam semalaman. Lingkaran hitam di sekitar matanya tampak mengerikan, akumulasi dari dirinya yang terjaga sepanjang malam.


"Abis ngeronda ya bro? mata pandamu udah kayak panda beneran," ejek salah seorang teman koasnya yang duduk di sebelah Fatih.


"Aku nggak ngeronda, tapi semalaman hatiku berkelana," jawabnya asal.


"Minum kopi sana!" seru si temannya sembari menggelengkan kepala melihat Fatih yang terus menerus menguap sambil sesekali menggaruk kepalanya.


"Aku bahkan sudah meminum dua gelas kopi pagi ini. Tapi tak berpengaruh," gumamnya tak bersemangat.


Lalu si ibu penjual khusus minuman di kantin itu menghampiri dengan sebotol minuman di tangannya. "Dek Fatih mungkin harus minum ini biar segeran." Si ibu tersebut meletakkan botol yang dibawanya ke atas meja tepat di hadapan Fatih.


Temannya membelalakkan mata saat melihat tulisan tangan tertera di botol minuman tersebut. "Hah! se-serius Bu?"


"Iya betul, waktu itu Dek Fatih sendiri yang membelinya. Apakah mungkin ada khasiat tersembunyi dari jamu ini yang ternyata bermanfaat untuk laki-laki," ujar si ibu penjual yang kembali berlalu dari sana setelah meletakkan minuman pelancar datang bulan di meja.


"I-ini kan ja-jamu_" Dia terperangah, tetapi kemudian pandangannya tertuju keheranan ke arah Fatih yang masih memejamkan matanya hampir terlelap.


"Fatih... apa jangan-jangan kamu ini seorang gadis?" gumam temannya yang juga kini mulai gila karena gosip dari si ibu kantin.


*****


"Mual dan muntah hanya terasa saat pagi hari dan sudah mulai berkurang. Hanya saja memang benar jika belakangan ini aku menjadi mudah lelah, apakah mungkin karena bobot tubuhku yang bertambah, Dok?" tutur Dara yang terbaring di atas tempat tidur pasien di ruangan praktek poli obgyn.


"Mungkin juga, tapi berat kenaikan berat badanmu masih dalam batas normal."


Raisa lalu mengoleskan gel dingin di atas permukaan perut Dara yang semakin hari makin menyembul, kemudian menggulirkan alat ultrasonografi digenggamannya dengan pandangan ke arah layar monitor.


"Semuanya tampak baik. Menurut perhitunganku sekarang ini kandunganmu sudah mulai menginjak usia delapan belas minggu. Kita sudah bisa mengintip jenis kelaminnya, apakah kalian ingin mengetahuinya sekarang atau mungkin ingin menunggu hingga lahir saja agar menjadi kejutan?" jelas Raisa.


"Aku... aku ingin mengetahuinya sekarang Dok. Iya kan Mas?" Dara tampak antusias dan meminta pendapat Wira yang berdiri di sisi ranjang sembari menggenggam tangannya.


Wira tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Matanya kembali tertuju ke arah monitor dengan raut wajah yang luar biasa penasaran. "Jadi apa jenis kelaminnya?" tanyanya kepada Raisa.


"Kita coba intip ya, semoga si kecil di dalam sana tidak malu-malu untuk menampakkan identitasnya," ujar Raisa terkekeh pelan.


Digulirkannya kembali alat tersebut hingga mendapatkan sudut yang pas kemudian Raisa tersenyum dan menatap calon orang tua baru itu. "Dia seorang putri. Selamat...."


Wira berusaha menjaga pikirannya tetap waras, ledakan rasa senang meluap tak terkendali. Bahagia, haru, rasa masih tak percaya akan menjadi seorang ayah, berkecamuk berpadu menjadi satu hingga penuh sesak. Matanya berbinar penuh syukur dan menatap Dara kemudian.


"Anak kita seorang putri. Aku... aku sangat bahagia. Dia pasti secantik dirimu, cantik hati dan juga rupa sepertimu yang bersinar." Wira menangkup kedua sisi wajah Dara mengecup keningnya lembut, memeluk menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dara kemudian terisak meluapan rasa haru yang menggelegak di dadanya.


Dara menepuk-nepuk lembut punggung lebar Wira yang sedikit berguncang untuk menenangkan. "Aku pun sangat bahagia, Mas."