You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 161



Kemudian Wira mengeluarkan satu lagi amplop kecil berwarna putih dari saku kemejanya, mengeluarkan isinya dan memberikannya juga kepada Ratih.


"Ini adalah foto USG anakku. Si kecil yang sedang berjuang bertumbuh di rahim Dara ini hampir saja dicelakakan oleh wanita yang sangat Ibu banggakan," ucap Wira dibalut rasa marah dalam untaian kalimatnya.


Ratih masih mematung tak bereaksi sedikitpun, dia hanya menatap lurus amplop dan foto yang tergeletak di meja secara bergantian.


"Aku akan memberi ruang dan waktu agar Ibu bisa merenungkan semua kejadian ini. Kuminta Ibu menghentikan niatan untuk memisahkan Dara dari bayinya dan juga dariku, itu perbuatan kejam Bu. Lakukanlah demi aku, anakmu." Wira menekankan setiap kata-katanya meskipun masih dengan nada riuh rendah.


"Yah, aku ingin membicarakan tentang hal ini lebih lanjut dengan Ayah. Bisakah kita berbicara berdua saja," pinta Wira kepada Haris.


Haris mengangguk dan bangun dari duduknya, "Ayo Nak, kita ke ruang kerja."


Mereka berdua beranjak dari sana, meninggalkan Ratih yang masih terdiam membisu seribu bahasa.


*****


Ayah dan anak itu duduk bersisian di sofa yang terdapat di ruang kerja Haris. Wira menjelaskan panjang lebar tentang temuannya dan juga rasa terkejut yang menghantuinya ketika mendapati obat tersebut ada di dalam bungkusan resep untuk Dara.


Beruntung dirinya pulang ke rumah tepat waktu pada saat Dara hampir meminumnya, jika terlambat sedikit saja entah bagaimana nasib istri dan anaknya.


"Aku takut... aku sangat takut kehilangan lagi," desah Wira lemah sembari menunduk dan mengusap wajahnya kasar setelah selesai menceritakan semuanya.


"Semua bukti sudah kulaporkan pada polisi. Aku ingin berkoordinasi dengan Ayah agar Michelia bisa diadili sesuai dengan perbuatannya. Untuk itu aku membutuhkan pengaruh besar Ayah dalam hal ini. Dari berita yang beredar, kasus-kasus sebelumnya yang menjerat keluarga itu selalu dengan mudah dimanipulasi oleh mereka. Sudah pasti cara-cara kotor dihalalkan untuk menutupi perbuatan buruk yang telah dilakukan," jelas Wira.


"Kamu tenang saja, Ayah akan mengerahkan semua kemampuan untuk menangani hal ini hingga tuntas. Tak mungkin kubiarkan siapapun yang berani mengusik terlalu dalam keluargaku, apalagi ini menyangkut nyawa cucu dan menantuku," ucap Haris tegas.


"Untuk acara pesta, bisakah waktunya diundur? aku ingin setelah situasi kondusif dan aman terkendali barulah pesta diadakan, agar konsentrasi kita tidak terbagi dan demi keamanan Dara Bagaimana Yah?" usul Wira kepada ayahnya.


"Kamu benar, rasanya tidak tepat jika kita mengadakan acara pesta di saat situasi memanas seperti sekarang ini. Keluarga Michelia tak bisa diremehkan begitu saja, untuk itu kita harus mengatur langkah dan strategi agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Mengenai pesta untuk sementara waktu bisa ditunda dulu dan mengaturnya lagi nanti."


Haris menyetujui usulan Wira, bagaimanapun juga hal genting ini harus lebih dulu ditangani dan menunda dulu hal yang lainnya.


"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu Yah. Ada operasi yang harus kupimpin pagi ini, dan juga aku akan membicarakan hal ini dengan kepala rumah sakit agar beliau tidak terkejut jika nanti polisi dan para penyidik tiba-tiba mendatangi rumah sakit." Wira bangkit dari duduknya disusul sang ayah.


"Berangkatlah Nak, semoga operasinya sukses. Ayah selalu berdo'a yang terbaik untukmu." Haris menatap putranya dengan sorot mata lembut penuh kasih sayang.


"Terima kasih Yah." Wira memeluk ayahnya kemudian berpamitan dan undur diri dari sana.


*****


Sementara itu di ruang makan, Ratih mulai bergerak mengulurkan tangannya. Dengan ragu-ragu ia meraih amplop besar dan foto USG hitam putih yang tergeletak di atas meja.