
Dara keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe dan langsung berlari-lari kecil menuju ruang ganti. Wira duduk bersandar di ranjang besarnya sambil membuka macbooknya membaca seputar berita-berita terhangat hari ini, sudut matanya menangkap pergerakan Dara yang melangkah cepat sembari menunduk tersipu-sipu malu, istrinya itu tampak menggemaskan baginya membuatnya semakin bergairah ingin segera menerjang dan menghanyutkannya dalam arus bergelora. Namun, dia akan bersabar. Wira paham, Dara juga butuh bersiap dalam rangka kembali memadu kasih.
Di ruang ganti Dara merasakan degupan jantungnya menggila, bahkan telinganya nyaris mendengar detakannya sendiri. “Hei jantung, kenapa kau berbuat begini padaku!” gerutunya.
Diambilnya lingerie yang sudah disiapkannya sejak kemarin, gaun tidur berwarna hitam panjang semata kaki. Memang benar gaun tidur itu panjang, hanya saja sangat tipis menerawang juga belahan dadanya sangatlah rendah. Dara menggigit bibirnya sendiri dengan semburat merah semakin merebak di wajah cantiknya yang tanpa cela. Sudah lama dia tidak tampil seksi di hadapan Wira demi menjaga agar puasa bercinta dapat berjalan semestinya sesuai saran Raisa.
Ia membuka bathrobenya, mengambil lingerie dan menghadap cermin besar yang ada di sana. Saat hendak memakai gaun tidur tersebut gerakannya terhenti. Dara menatap pantulan polosnya di cermin besar tersebut. Wajahnya yang asalnya sumringah berubah muram, jemarinya bergerak ke bagian perutnya di mana bekas luka sayatan operasi masih tampak di sana, belum memudar sepenuhnya meskipun setiap hari sudah diolesi obat penghilang bekas luka yang di resepkan Raisa.
Tiba-tiba saja rasa tak percaya diri merambatinya. Pandangannya menunduk ke arah bekas operasi yang cukup lebar di perutnya, bentuk tubuhnya memang mulai kembali seperti semula meskipun tak sepenuhnya, hanya saja rasa takut kini menyerbunya, merasa tubuhnya tak seindah dulu.
Bagaimana kalau Mas Wira malah jadi tak bernafsu dan tak tertarik lagi melihatku yang seperti ini?
*****
Wira menaruh gawai yang sejak tadi dipegangnya ke atas nakas. Sudah setengah jam menunggu tetapi Dara tak kunjung kembali ke ranjang. Ia beringsut turun dan menyusul ke ruang ganti, ingin tahu apa gerangan yang menyebabkan istrinya begitu lama di sana.
Begitu masuk ke sana Wira dikejutkan dengan Dara yang tengah berdiri tanpa sehelai benang pun di depan cermin, hanya saja saat diperhatikan wajahnya seperti menyendu. Kendati hanya lampu temaram yang dinyalakan, tetap saja raut wajah Dara yang tengah menunduk muram itu terlihat jelas.
Sebaiknya aku memakai piyama panjang seperti biasa dan berlama-lama di sini, semoga Mas Wira ketiduran. Aku merasa belum siap untuk kembali bergesekan kulit dengannya,
batinnya.
Dara memutuskan menaruh kembali gaun tidur tersebut dan bermaksud mengambil piyama di lemari yang terletak di samping cermin, saat kembali fokus menatap cermin ia terkesiap mendapati Wira yang berdiri beberapa langkah dibelakangnya, tengah memandanginya dengan tangan masuk ke saku celana treningnya.
“Mas!” pekiknya. Dara kelabakan lantaran masih dalam keadaan polos. Ia menyambar bathrobe yang tadi dipakainya, menutupi tubuhnya alakadarnya dan berbalik badan.
“Kenapa lama sekali hmm? terasa menunggu hampir satu abad lamanya tapi istriku tak kunjung datang. Aku merasa diabaikan,” rajuk Wira manja.
Wira melangkah mendekat, sedangkan Dara semakin mundur hingga membentur lemari. Menelan ludahnya panik dan memutar otaknya berusaha mencari alasan. “Eh… it-itu karena aku lagi cari baju yang cocok untuk kupakai,” sahutnya tergeragap.
Wira makin mendesakkan Dara hingga kini posisi mereka sangat dekat, menempel merapat, begitu intim. “Baju manapun yang dipakai takkan berguna lagi nanti, aku sangat merindukan kehangatanmu hingga hampir gila rasanya,” desisnya penuh hasrat.
Wira hendak meloloskan bathrobe yang hanya tersampir asal di tubuh Dara, tetapi tangan Dara menahannya seraya berkata, “Jangan Mas!” ujarnya menggeleng penuh permohonan.