
Pesta dilangsungkan di sebuah restoran yang berada di hotel bintang lima ternama di Jakarta. Tempat tersebut mempunyai beberapa privat dining room yang luas, ideal untuk dijadikan tempat berkumpul acara keluarga, dilengkapi segala fasilitas kelas atas juga menu hidangan lengkap dari para chef terbaik.
Dekorasi didominasi dengan warna pink muda, salem dan ungu muda. Begitu cantik dan indah sesuai dengan jenis kelamin si jabang bayi yang disambut kelahirannya. Nama Dara juga Wira ikut menghiasi setiap sudut ruangan dalam tulisan yang khas “Wira & Anandara parents to be”, juga foto maternity shoot ukuran besar yang menampilkan Wira dan Dara dengan perut buncitnya ikut terpajang terpampang di sisi kanan ruangan dekat pintu masuk. Tak lupa cindera mata ekslusif untuk para tamu sebagai ucapan terima kasih juga sudah disiapkan berjejer di sana.
Keluarga terdekat Aryasatya sudah datang bersamaan dengan tibanya Ratih dan Haris. Rekan-rekan yang diundang Wira yaitu beberapa teman kerja satu polinya termasuk Fatih dan ditambah Raisa juga turut hadir. Freya dan Anggi beserta beberapa teman Dara juga sudah tampak berkumpul di sana. Orang-orang yang diundang sengaja tak terlalu banyak, semuanya disesuaikan dengan kondisi Dara agar tidak sampai kelelahan.
Acara dipandu oleh pengatur acara yang sudah disiapkan pihak restoran. Keduanya segera muncul setelah mc mempersilakan disambut riuhnya tepuk tangan. Dara tampak cantik mengenakan gaun berwarna pink muda senada dengan dekorasinya, sedangkan Wira memakai busana casual berupa celana jeans abu-abu dipadu kemeja tangan panjang hitam polos yang digulung hingga siku di bagian lengannya, membiarkan lengan kekarnya yang menawan terekspos.
Rangkaian acara dimulai dengan do’a yang khidmat, diteruskan dengan sambutan dari Haris dan Wira selaku suami juga calon ayah si bayi kemudian diteruskan dengan acara-acara lainnya.
Semenjak acara dimulai, Fatih terus-menerus mencuri-curi pandang kepada si tomboi yang memakai gaun hijau tua hari ini, matanya sulit untuk melepaskan diri untuk tak terpesona pada sosok gadis pujaannya. Sejak tadi Anggi dan teman-temanya terus saling menempel dengan Freya, menyulitkannya yang berniat ingin menyela disana agar bisa berinteraksi lebih dekat untuk menebarkan pesonanya.
Dia terus memperhatikan, dan disaat Anggi beserta kawan-kawannya berbaur dengan tamu undangan lain, secepat kilat Fatih bergerak menghampiri dan berdiri sedekat mungkin dengan Freya. Freya belum menyadari kehadiran Fatih di sampingnya, perhatiannya terus tertuju pada kemesraan dua sejoli yang tengah berbahagia menantikan kelahiran buah hati mereka, menyaksikan bagaimana Wira memanjakan Dara yang tengah hamil besar membuat Freya tersipu-sipu sendiri.
“Mau dihamilin nggak?” Kata-katanya meluncur secara spontan dari mulut si pemuda yang kebelet nikah, tetapi sesaat kemudian ia malah kaget sendiri dengan kalimat yang baru saja diucapkannya, entah kenapa jika berdekatan dengan Freya otaknya selalu dipenuhi dengan keinginan bercocok tanam.
“Apa kamu bilang!” seru Freya sengit, menoleh dengan cepat ke sebelahnya melemparkan tatapan galak.
“Eh, mak-maksudku mau diambilin nggak? Diambilin minuman,” sahut Fatih tergeragap sembari menelan ludahnya gugup.
“Ish… kukira siapa, rupanya kamu si calon dokter. Boleh deh, tolong ambilin ya ganteng,” sahut Freya santai sembari tersenyum manis.
“O-oke, tu-tunggu sebentar.” Diberikan senyuman manis semacam itu serta diberikan kata pujian membuat kaki Fatih terasa seperti agar-agar. Dia beranjak untuk mengambil minuman sementara tatapannya masih tertuju pada Freya membuatnya tersandung kursi karena tidak memperhatikan sekitarnya, beruntung Fatih segera menyeimbangkan tubuhnya agar tidak berakhir terjerembab ke lantai, jika itu terjadi betapa malunya dia terjatuh di hadapan para tamu dan juga gadis yang ditaksirnya.