You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 202



Mobil hitam mengkilap edisi terbatas produksi Eropa itu keluar dari garasi rumah megahnya. Wira menarik dan membuang napas teratur, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berdegup tak beraturan.


Butuh keberanian yang tak sedikit untuk membulatkan tekad karena seakan kenangan buruknya tentang hujan enggan pergi dan ingin terus hinggap menghantuinya. Air hujan mulai membasahi memercik di kaca depan. Namun, percikannya tak bertahan lama, disapu oleh wiper mobil yang dengan cekatan melakukan tugasnya.


Seperti biasa, keringat dingin mulai bermanik di dahinya ketika mobil melaju dibawah guyuran lebat. Kelebatan-kelebatan kejadian kelam itu mulai menghampirinya lagi, bunyi decitan mobil yang berhenti mendadak disertai suara riuhnya teriakan manusia kala kecelakaan terjadi memenuhi seluruh isi kepalanya dan juga terus berdengung di gendang telinganya dengan hebat.


Mobil mewah itu terlihat menepi di bahu jalan. Wira merasakan tangannya yang memegang kemudi dingin bak sebongkah es, wajahnya kian pucat seiring pandangannya yang mengabur dikuasai oleh traumanya. Ia menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan belenggu yang menggoyahkannya, memokuskan kembali hati dan pikirannya untuk melepaskan diri dari gulungan kelam yang menyiksanya.


Lalu, kalimat-kalimat penyemangat yang selalu digaungkan Dara kepadanya berdatangan bagaikan cahaya yang menerobos menyibak kegelapan memenuhi seluruh dirinya serupa mantra ajaib pembimbing dan penyembuh jiwa.


Aku percaya, Mas pasti bisa. Saat waktunya tiba semua itu akan berlalu pergi. Ada aku di sini menemani.


Dara selalu mengatakan itu setiap kali Wira kembali berkubang dan terpuruk karena ketidakmampuannya mengatasi traumanya sendiri. Istri kecilnya selalu mampu membuatya kembali kuat serta percaya diri ketika dirinya serapuh kertas dan berada di titik terendah.


Senyuman Dara seumpama hangatnya mentari pagi, suara merdunya ketika memanggil namanya menyejukkan hati, serta bola mata indahnya yang selalu menatapnya penuh cinta setulus hati, menghiasi seluruh ruang sanubarinya saat ini. Seolah tengah memberinya kekuatan dan meyakinkan dirinya untung menerjang dinding kelam di hadapannya.


Do'a kembali dirapalkannya dalam hati seiring kakinya yang menginjak pedal gas untuk melaju kembali. Lalu entah dari mana datangnya, tiba-tiba suara Almira terngiang di telinganya seolah terbawa semilir angin.


Berdamailah dengan dengan masa lalumu Mas.


Almira yang tengah tersenyum damai berkelebat di benaknya, membuat Wira sedikit terkesiap. "Mira...." gumamnya, lalu Wira mengusap wajahnya sekilas.


"Damailah di sana, agar aku pun bisa berdamai di sini."


Mentalnya yang selalu menciut ketika hujan menyambangi dirinya yang berkendara, kini berangsur sirna. Bayangan gelap yang mengepungnya seolah berkemas melangkah pergi meninggalkannya.


*****


Dara berulang kali melirik jam tangannya, tidak biasanya Pak Jono terlambat menjemputnya dan hujan pun sepertinya enggan untuk berhenti memadu kasih dengan tanah. Apakah terjadi sesuatu yang buruk di perjalanan, pikirnya. Ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya, mencari kontak sopirnya itu dan menghubunginya.


"Halo Nyonya."


"Sudah sampai mana Pak, apakah terjadi sesuatu? tidak biasanya Bapak terlambat menjemput," tanya Dara.


"Begini Nyonya, saya tidak jadi menjemput karena... karena_" Pak Jono menjeda sejenak ucapannya.


"Kenapa Pak."


"Karena Tuan sendiri yang tadi berangkat ke kampus untuk menjemput Anda," jawabnya.


"Apa!"


Dara membulatkan matanya, rasa cemas langsung menyeruak di seluruh aliran darahnya. Memang betul jika semalam Wira membahas untuk mencoba mencari tahu tentang traumanya akan hujan, tetapi kenapa suaminya itu malah nekat dengan kondisi lukanya yang belum pulih benar.


"Sayang...."


Suara Wira memecah rasa khawatir yang menggerogotinya, Dara yang tengah menunggu di sekitaran tempat parkir langsung membalikkan badannya. Kedua kakinya seakan melayang tak menapak bumi, ia melangkah dengan cepat meski serasa tak bertenaga, menghambur ingin segera memeluk sang suami tercinta yang sudah sampai dengan selamat sedang tersenyum ke arahnya.