You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 215



"Mas...."


"Hmm." Wira menyahut dengan gumaman.


Selepas makan malam dan membasuh diri, kini mereka berdua duduk di tengah-tengah tempat tidur dengan posisi Wira dibelakang Dara. Ia menggulirkan sisir di tangannya merapikan rambut panjang Dara yang terasa halus selembut sutra berwarna coklat berkilauan. Wira kerap kali melakukan kegiatan ini sebelum tidur, Ia sangat suka menyisir surai indah Dara sebelum mereka beristirahat di peraduan.


"Tentang hadiah yang diberikan ayah dan ibu untukku, benarkah aku boleh memakainya sesuka hatiku?" ucap Dara masih di posisinya membelakangi Wira.


"Itu milikmu, gunakanlah untuk mewujudkan hal-hal yang kamu inginkan. Memangnya kenapa?" tanya Wira di sela-sela kegiatan menyisir rambut Dara.


"Ini... ini adalah pertama kalinya aku memiliki uang yang bisa kuklaim sebagai milikku sendiri. Kalau boleh, aku ingin menggunakan sebagian uang itu untuk berbagi dengan para anak panti di panti asuhan tempatku bernaung sewaktu kecil. Dulu, jika ada donatur yang berkunjung membawa mainan dan makanan enak meskipun kadang tak terbagi rata karena jumlah barang bawaan yang diberikan donatur dan jumlah anak panti tak sebanding, tetapi tetap saja rasanya sangat-sangat membahagiakan. Kini, aku juga ingin melakukannya, berbagi kebahagiaanku dengan mereka yang bernasib sama sepertiku dulu. Aku ingin memberi dalam jumlah yang cukup agar bisa terbagi sama rata tanpa harus berebutan."


Dara mengutarakan keinginan terpendamnya. Sejak dulu dia bercita-cita, jika dirinya sudah sukses dan memiliki banyak uang maka hal pertama yang ingin dilakukannya adalah berbagi dengan anak panti asuhan tempatnya dulu.


Wira menaruh sisir yang dipegangnya ke atas nakas, menyibak rambut Dara hingga tengkuknya terlihat dan menghadiahkan kecupan hangat di sana, menghidu aroma manis bagai candu seiring kedua lengannya yang terulur memeluk raga wanita tercintanya.


"Tentu saja boleh. Berbagilah sayang, aku akan mendukung sepenuhnya niat muliamu itu. Tapi, tahukah kamu?" Wira menjeda kalimatnya sejenak.


"Apa?" cicit Dara.


"Kamu yang seperti ini membuatku semakin jatuh cinta," desah Wira serak yang menopangkan dagunya di pundak Dara.


"Oh ya, kenapa?" Alis Dara berkerut samar lalu sedikit menggeser tubuhnya dan menengokkan kepala ke belakang agar bisa melihat wajah Wira karena penasaran dengan ekspresi suaminya saat ini.


"Karena pada umumnya, para wanita akan membeli barang-barang mewah untuk pribadinya sendiri ketika diberikan uang dalam jumlah yang banyak dan itu adalah hal alamiah yang kebanyakan terjadi. Tapi justru kamu berbeda, hatimu sungguh mulia. Saat dirimu dianugerahi kemelimpahan, kamu lebih dulu memikirkan nasib mereka yang kurang beruntung daripada kepentinganmu sendiri. Hal itu membuatku semakin terperosok ke dalam pesonamu, Daraku." Wira berkata dengan nada memuja disertai sorot mata menyiratkan kasih sayang menggelegak bercampur kekhawatiran.


Dara tersenyum lebar, kemudian kembali menyandarkan dirinya di dada bidang favoritnya sembari mengangsurkan tangannya membelai lengan kekar yang memerangkap tubuhnya.


"Mungkin karena aku pernah mengalami masa-masa sulit sewaktu kecil. Hidup tanpa orang tua tidaklah mudah, walaupun ada ibu kepala panti yang dijadikan ibu oleh kami semua tetapi tetap saja itu tak sama. Kepala panti juga pasti tak mudah merawat kami, hanya bergantung pada penghasilan kebun teh kecil dan para donatur. Kami diajarkan untuk tidak menghamburkan uang, memprioritaskan membeli yang lebih penting dan mengesampingkan yang lainnya. Dan juga selalu diingatkan untuk peduli kepada sesama saudara senasib dalam naungan yang sama. Melatih empati agar lebih peka terhadap sekitar," tuturnya mengisahkan masa kecilnya.


"Sepulang liburan dari sini maukah Mas mengantarku ke sana? ke panti asuhanku dulu. Karena ada hal lain yang juga ingin kupastikan di sana." Dara menyambung kalimatnya dengan nada permohonan di ujungnya.


"Akan kutemani, kemanapun itu aku akan selalu mendampingi. Tapi hal lainnya itu mengenai apa?" tanya Wira penasaran.


"Tentang orang tua kandungku. Jika Mas tidak keberatan, aku... aku ingin mencari tahu tentang mereka. Aku ingin tahu diriku ini berasal dari mana." Dara mengubah posisi duduknya dan menatap Wira penuh harap, terlihat keinginan yang teramat sangat dari sorot matanya.


Wira mengusap kepala Dara lalu menangkupkan telapak tangannya di kedua sisi wajah Dara. Menatap manik indah di hadapannya dengan senyuman lembut penuh pemakluman dan berkata, "Untukmu, apapun akan kulakukan. Aku akan membantu semampuku untuk memenuhi keinginanmu, sayang."


*****


Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


😘💕.