
Mobil mewah berwarna silver yang ditumpangi Ratih berhenti di sebuah tempat spa dan perawatan tubuh. Wanita paruh baya yang selalu terlihat elegan itu turun dengan angkuhnya kemudian melenggang masuk ke dalam.
Ini adalah tempat spa langganannya, perawatan tubuh kelas satu dan super mahal adalah santapan rutinnya. Ia tak segan-segan merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk satu kali treatment, menghamburkan uang dalam jumlah besar hanya demi kepuasan yang fana.
Ratih diantar oleh pekerja di sana menuju ruangan VIP, hanya orang-orang tertentu yang mampu berkunjung dan memasuki ruangan tersebut karena dibanderol dengan harga yang fantastis.
Harum aroma terapi menguar menyeruak ketika pintu ruangan tersebut dibuka, ternyata di dalam sana Michelia sudah menunggu untuk melakukan perawatan bersama. Ditengah perjalanan tadi, Ratih menghubungi Michelia untuk janji bertemu. Tentu saja wanita itu langsung menyanggupi kesempatan emas ini, bahkan ia rela membolos dari pekerjaannya di rumah sakit.
Ratih mengajaknya bertemu di tempat spa super mewah, sejujurnya pundi-pundi yang dimiliki Michelia semakin menipis. Dikarenakan selera tingginya juga gaya hidup glamor serta borosnya tak sebanding dengan pemasukannya akhir-akhir ini.
Situasi keuangan keluarganya semakin memburuk, bergantinya petinggi di tempat ayahnya bekerja yang terkenal disiplin menyebabkan sang ayah sulit menggeliatkan aksinya untuk mencari celah korupsi.
Sementara ibunya tak mau tahu, selalu menuntut agar segala kebiasaan mewahnya terpenuhi. Penghasilan besarnya sebagai seorang dokter bahkan hanya mampu menutupi setengah dari biaya bulanannya sendiri, sampai-sampa Michelia menjalankan usaha jual beli berlian palsu untuk dapat memenuhi kebutuhan mewahnya serta membantu memuaskan rasa haus ibunya terhadap hal duniawi meskipun apa yang dilakukannya beresiko tinggi.
Kali ini Michelia tak keberatan merogoh koceknya dalam-dalam demi melancarkan niatnya. Ia akan melakukan apapun agar bisa menikmati kekayaan dan kemakmuran keluarga Aryasatya termasuk menyingkirkan Dara dari sisi Wira, si gadis muda yang menjadi mimpi buruknya.
"Tante... selamat datang. Aku bergegas datang ke sini karena Tante yang memanggil," sapa Michelia sambil tersenyum semanis mungkin.
"Kamu memang yang terbaik, terima kasih sudah mau datang dan menemani. Tante sedang dalam suasana hati yang buruk, maaf mengajakmu bertemu secara mendadak karena hanya kamu lah satu-satunya orang yang terpikir oleh Tante di saat situasi seperti ini," ucapnya. Kalimat Ratih sukses membuat ambisi Michelia yang sempat meredup kembali berkobar.
"Tak mengapa Tante. Dengan senang hati akan kutemani selama aku ada waktu. Anggap saja aku sebagai anakmu walaupun kutahu ini tak layak karena aku bukanlah siapa-siapa." Michelia memasang raut wajah sedih yang dibuat-buat.
"Hey... wanita cantik dan berkelas sepertimu tak cocok bersedih. Tante mengajakmu bertemu karena ada hal penting yang ingin dirundingkan." Ratih duduk menyilangkan kakinya.
"Hal... a-apa Tante?"
"Kamu juga tahu kan, sekarang ini gadis muda anak yatim piatu yang dinikahi Wira tengah mengandung darah dagingnya?" Ratih menatap intens pada Michelia.
"Begini, dari fakta-fakta penyelidikan yang Tante lakukan tak dipungkiri anak dalam kandungan Dara adalah murni anak Wira penerus garis keluarga yang mengalir darah Aryasatya di dalamnya." Ratih menghela napasnya sejenak.
"Namun, takkan kubiarkan wanita dari kalangan rendahan membesarkan cucu kami yang berharga. Untuk itu Tante hendak memintamu untuk menjadi ibu dari cucuku nanti, hanya kamu yang paling cocok sebagai menantuku dan bersanding dengan putraku. Ini memang permintaan lancang, tetapi mengingat kamu menyukai Wira maka dari itu Tante memberanikan diri. Sudikah kamu menjadi bagian dari keluarga kami?" tanyanya.
"Ma-maksud Tante bagaimana? tapi, bagaimana dengan Dara, aku masih belum paham." Michelia ingin sekali berteriak kegirangan karena wanita paruh baya ini sudah mulai jatuh ke dalam jeratannya.
"Saat nanti bayinya sudah dilahirkan, aku akan mengambilnya dan mengusir Dara dari sisi Wira. Karena sampai kapanpun takkan pernah kubiarkan gadis rendahan itu menjadi bagian keluarga Aryasatya. Maka dari itu Tante membutuhkanmu untuk membesarkan cucuku nanti dan juga menjadi pendamping Wira. Bersediakah kamu menerima dan membesarkan cucuku seperti anakmu sendiri?" pinta Ratih penuh harap. Di matanya Michelia begitu sempurna, ia tidak tahu bahwa yang terlihat di permukaan hanyalah topeng semata.
"Tentu... tentu saja. Aku bersedia."
*****
Author note.
Siapkan panci tetangga untuk melempar 😂.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih telah membaca 😘💜
With Love,
Senjahari_ID24