
Sepulang dari tempat ski, yang dilakukan Dara hanyalah merebahkan diri di ranjang bersama Selena. Makanan pun dibawa Wira ke kamar, Dara terbangun hanya untuk makan, menyusui Selena dan bermain dengan bayinya tanpa beranjak dari tempat tidur. Jika Selena tertidur, Dara akan ikut memejamkan mata. Seluruh tubuhnya sungguh lelah luar biasa setelah pertempuran habis-habisan bersama sang suami yang sempat tersendat asupannya.
“Dara kenapa, apa dia sakit? sejak tiba tadi siang dia terus saja berbaring. Coba kamu periksa kondisi istrimu,” ucap ratih kepada Wira di ambang pintu kamar mereka yang terbuka, menampakkan Dara yang terlelap dengan Selena yang juga memejamkan mata di pelukannya.
“Ibu jangan khawatir, Dara Cuma kelelahan karena terlalu lama bermain ski. Mungkin karena baru pertama kali menyentuh salju, jadi kemarin dia sangat antusias bermain ski.”
Ya, memang benar Dara kelelahan lantaran terlalu banyak bermain ski, tapi bukan di hamparan salju, melainkan di atas ranjang.
“Ya sudah. Oh iya, sore ini Ayah dan Ibu ada janji bertemu teman lama yang tinggal di sini, kami akan minum teh bersama di rumahnya. Mau ikut? dulu mereka tetangga kita sewaktu kamu masih kecil, mereka juga bertanya tentangmu,” jelas Ratih.
“Aku mau di sini saja menemani Dara. Ibu pergilah bersenang-senang dengan Ayah, sampaikan salamku untuk mereka.”
“Baiklah. Pastikan lagi kondisi istrimu, jangan sampai dia sakit.” Wira mengangguk dan menutupkan pintu setelah Ratih beranjak dari sana.
Wira naik ke atas ranjang, berbaring di sana dengan Selena yang berada di tengah. Ia bergabung masuk ke dalam selimut, kemudian merengkuh dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Mengecup istri dan anaknya bergantian, lalu ikut memejamkan mata karena jujur saja tubuhnya juga kelelahan setelah permainan ski yang luar biasa bergelora.
Hari terakhir berlibur mereka manfaatkan untuk berbelanja, berburu sejumlah barang-barang bermerek Eropa. Dara sempat menolak membeli saat melihat lebel harga yang tertera, hanya untuk satu buah tas kecil saja harganya bisa mecapai ratusan bahkan hingga milyaran rupiah. Akan tetapi karena Wira dan Ratih bersikeras, akhirnya Dara memilih beberapa barang secukupnya. Suaminya mengatakan mereka tidak setiap hari datang ke belahan bumi lain, untuk itu dia ingin membelikan hal-hal spesial untuk istri tercinta.
Tak lupa mereka juga membeli sejumlah oleh-oleh untuk teman dan sanak saudara. Setelahnya menyempatkan mengambil foto keluarga berlatarkan pemandangan Pegunungan Alpen yang menjulang sebagai kenang-kenangan liburan mereka di Swiss.
*****
Usia Selena kini genap lima bulan. Dara sudah mulai mempersiapkan keperluanya untuk kembali ke kampus berhubung cuti kuliahnya akan segera berakhir . Namun, ia bimbang. Merasa tak mampu berkonsentrasi jika harus berlama-lama meninggalkan Selena. Untuk itu Wira turun tangan dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan perkuliahan sang istri, sehingga jadwal kuliah Dara dipindahkan dari kelas regular ke kelas akhir pekan. Dara hanya perlu ke kampus dua hari dalam seminggu nantinya, sehingga waktunya bersama si buah hati tak banyak tersita.
Memang, mengurus pemindahan jadwal Dara bukanlah hal mudah, tetapi dengan pengaruh nama Aryasatya ditambah usaha keras Wira dalam mengurus semuanya dengan mencurahkan segala kemampuannya, akhirnya semuanya bisa teratasi.
“Mas, sebelum kembali kuliah, aku ingin berziarah ke makam Ayah Arif juga Mbak Mira. Aku rindu mereka, sekalian ingin mengajak Selena ke sana,” ucap Dara setelah menaruh secangkir kopi untuk Wira di meja ruang keluarga. Dia mengenyakkan diri duduk di sebelah Wira, mereka tengah bermain dengan Selena sambil menyaksikan tayangan khusus anak-anak di televisi.
“Kita memang sudah lama tak berziarah. Aku juga ingin berkunjung ke sana. Kapan kamu siap?” tanya Wira, sementara Selena yang duduk dipangkuannya tengah gemas menggigiti lengan sang papa.
“Bagaimana kalau besok, esok tanggal merah kan?” Dara menunjuk kalender di meja kecil samping sofa.
“Oke, besok kita berangkat.”