You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 145



Author note.


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote, dan komentar membuatku semakin semangat menulis 💕


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih, selamat membaca 😊


With Love,


Senjahari_ID24


*****


Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, tersisih dengan kedatangan sang malam yang menggantikannya bertahta dan membaurkan pesona kelamnya ke seluruh penjuru langit.


Kaki jenjangnya berjalan perlahan memasuki kawasan pemakaman. Sambil terus melangkah masuk matanya menjelajah mencari keberadaan pohon flamboyan karena Dara ingat betul di dekat pohon tersebut letak makam Arif dan juga Almira berada.


Kira-kira lima langkah di depannya terlihatlah pohon yang di maksud. Dara segera mempercepat gerakan kakinya hanya berbekal penerangan dari lampu pijar berwarna kuning berbentuk bulat yang dipasang setiap sepuluh meter di area tersebut.


Sampailah ia di pembaringan terakhir Arif dan juga Almira. Dara bersimpuh di tanah di tengah-tengah antara makam ayah dan kakak angkatnya itu. Tangannya mengusap nisan dua orang berarti di hidupnya yang telah pergi lebih dulu meninggalkannya.


"Ayah, Mbak. Aku rindu kalian...." Sejenak kalimatnya terjeda karena tenggorokannya mulai tercekat menahan Isak tangisnya.


"Maaf, karena baru sempat berkunjung. Ayah pasti marah padaku kan? karena aku jarang datang kemari. Jadi aku dihukum seperti ini sekarang," ucapnya lirih dan pilu.


Dara POV


Ayah, Mbak. Kalian adalah dua orang pertama yang merengkuhku dalam sebuah kehangatan yang bernama keluarga, yang memandangku sebagai sesama manusia yang berharga. Rasa terima kasihku pada kalian selalu mengalir, bahkan jika aku berterima kasih seumur hidupku semua itu takkan sebanding dengan kasih sayang kalian yang tak terhingga.


Ayah, Mbak. Mungkin memang benar aku tak pantas berdampingan dengan Mas Wira. Harusnya aku sadar bahwa pernikahanku dengannya terjadi karena permintaan Mbak. Awalnya aku hanya ingin memenuhi janjiku sebagai ungkapan rasa terima kasihku padamu Mbak. Lalu kemudian aku menjadi serakah, dengan lancang malah jatuh cinta dan ingin memilikinya disisiku seutuhnya, selamanya.


Kini sebuah kenyataan yang sempat terlupakan memaksaku untuk siuman. Berasal dari manakah diriku ini aku sendiri bahkan tak tahu. Inginnya aku pergi berlari sejauh mungkin dari kenyataan ini, mengindar seperti pecundang yang tak punya nyali.


Akan tetapi, aku harus pergi kemana? Aku tak punya tempat berpulang selain rengkuhan Mas Wira, di mana Mbak telah mempercayakanku kepada orang yang pernah merajut kisah denganmu dan siapa sangka kini dia sangat kucinta.


Jika aku pergi seperti pengecut, aku akan tetap memiliki anakku bersamaku meskipun sekeping hatiku akan tetap tertinggal bersamanya. Hanya saja itu berarti aku telah sengaja memisahkan anakku dari ayahnya karena ketidakmampuanku untuk bertahan meskipun nanti aku mendustakannya. Sudah pasti di masa depan harus menyembunyikan identitasnya, lalu bagaimana jika nanti anakku bertanya siapa dan di manakah ayahnya.


Namun, aku tak ingin anakku seperti diriku. Yang tak tahu asal usulnya dan juga tak mempunyai orang tua yang seutuhnya. Meskipun dia memilikiku, tetapi itu takkan sama karena anakku juga butuh kasih sayang dari ayahnya.


Untuk itu, Ayah, Mbak. Setelah kupikirkan lagi, aku takkan pernah sanggup untuk pergi dari sisinya. Aku dan anakku membutuhkannya. Semoga aku bisa memperjuangkan mahligai rumah tanggaku sambil mengangkat daguku penuh percaya diri. Aku akan berusaha memantaskan diriku bersanding dengan orang yang kucintai.


Dara POV end


Dara masih menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh. Tanpa sepengetahuannya, sejak tadi beberapa pria yang berkumpul di warung kopi dan juga yang berpura-pura berziarah adalah orang-orang suruhan Wira.


Mereka memastikan istri tuannya dalam keadaan aman dengan pengawasan ketat dan kini Wira sudah menempuh setengah perjalanannya untuk menjemput kembali belahan jiwanya.