
Wira sudah berganti pakaian dengan kaos oblong putih dan juga celana santai berwarna hitam, punggung lebar yang menyenangkan serta otot-otot dada dan lengannya yang terbentuk begitu pas sempurna, tercetak jelas dibalik kaos putihnya. Ditambah rambutnya yang masih basah disisir sembarang menggunakan jemarinya, membuat aura seksi dan maskulin terpancar begitu memukau dari seorang Wira Aryasatya.
Selesai berpakaian, Wira keluar dari kamarnya menuju balkon di lantai dua. Sebelumnya, dia juga meminta Bu Rina untuk menyeduhkan kopi pahit favoritnya dan mengantarkannya ke atas.
Wira menyandarkan dirinya di kursi panjang yang terdapat di balkon. Dalam ukiran sepi kelabu, dia duduk sendiri bermandikan remangnya cahaya rembulan sendu, ditemani semilir angin yang sarat akan rindu, serta kopi pahit yang membasuh luka menyembilu.
Sejuta rasa menghimpit kalbunya, cinta tulusnya ternoda dan rusak karena terduakan. Memang benar dirinya sungguh tersakiti saat wanita yang selalu dipujanya berpelukan dengan pria lain dan menyatakan masih menyimpan rasa cinta. Namun, yang paling menyiksa dirinya adalah, kenyataan bahwa akibat amarahnya telah merenggut Almira dari sisinya, sehingga semua luka dan rasa bersalah itu membelenggu dan merantai dirinya.
Kopinya baru diminum beberapa tegukan saja, tetapi embusan angin semakin dingin menusuk hingga ke tulang. Wira bergegas kembali ke kamar barunya, mengambil bantal serta selimut dari lemari dan membaringkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan tempat tidur.
Wira memiringkan tubuhnya, matanya tertuju ke arah dara yang tidur hampir menguasai seluruh ranjang besar itu. Tanpa disuruh bibirnya kembali tersenyum, lalu dimenit-menit kemudian ia mulai masuk ke alam mimpi dan untuk pertama kalinya sejak Almira tiada, pria itu tertidur tanpa kening yang berkerut. Sepertinya tanpa dia sadari, keberadaan Dara didekatnya mampu menjadi obat penenang untuk dirinya.
*****
"Silahkan dinikmati sarapannya, Tuan," ucap bu Rina dengan sopan.
"Terima kasih," sahut Wira.
Khusus untuk kopi, bu Rina lah yang bertugas untuk membuatnya. Karena jarak mereka yang cukup dekat, saat dia selesai menyajikan kopi untuk Wira tak sengaja matanya melihat bekas cakaran kuku yang begitu banyak di sekitar tengkuk dan juga leher tuannya. Bu Rina sebenarnya terkejut, tetapi berusaha menyembunyikan semua itu dan segera undur diri dari ruang makan.
Batinnya bertanya-tanya, mungkin memang benar adanya tentang kabar yang sering beredar di luaran bahwa pria yang sudah pernah menikah, takkan mampu terlalu lama hidup sendiri tanpa menyentuh seorang wanita untuk mengisi malam-malamnya. Tetapi, mengingat kepergian Almira yang masih belum terlalu lama, apakah mereka benar-benar sudah melakukannya di saat suasana duka masih menyelimuti, serta dengan keadaan kaki dara yang terkilir apakah mereka tetap memadu kasih?
Bu Rina cepat-cepat menepis semua pikiran yang terlintas di kepalanya, tentang hal pribadi tuan dan nyonyanya itu bukan ranahnya untuk ikut campur. Lagipula hal yang wajar jika mereka melakukan kegiatan intim karena keduanya sudah sah sebagai suami istri, hanya saja dia tidak menyangka, ternyata nyonya mudanya adalah seseorang yang liar di atas ranjang.