You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 131



Sayang, sore ini aku tidak bisa menjemputmu ke kampus, ada rapat mendadak. Aku sudah meminta Pak Jono untuk datang. Maafkan Papa ya, calon Mama yang tercantik sedunia. Love you.


Itu adalah isi pesan dari Wira yang diterima Dara tadi siang. Saat ini Dara sudah berada di dalam mobil yang dikendarai Pak Jono. Di tengah-tengah perjalanan ia meminta sopirnya itu untuk mampir ke cafe langganannya, Dara mendadak ingin makan cheese cake yang di jual di cafe tersebut.


Pak Jono menepikan mobilnya ke tempat yang di maksud. Dara turun dari mobil dengan riang, baru membayangkan rasa lezat dari kue yang diinginkannya saja sudah membuatnya seolah lumer di mulutnya.


Dara mendorong pintu kaca cafe tersebut dan melangkahkan kakinya ke dalam. Ia memesan makanannya kemudian menuju tempat duduk favoritnya yaitu dekat jendela sisi kanan cafe yang menyajikan pemandangan langsung taman bunga mini di cafe tersebut.


Namun, rupanya tempat duduk itu sudah ada yang menempati. Seorang wanita berpenampilan glamor sudah duduk di sana menyilangkan kakinya. Tampilannya sedikit menarik perhatian Dara, karena saking banyaknya perhiasan yang dipakainya wanita paruh baya tersebut lebih mirip dengan toko mas berjalan, batin Dara.


Dara akhirnya duduk di belakang kursi wanita tersebut. Setidaknya meskipun bukan tempat duduk favoritnya, tetapi dari sini ia masih bisa melihat pemandangan bunga-bungaan cantik berwarna-warni walaupun dalam ruang pandang yang tak leluasa.


Sambil menunggu pesanannya datang, Dara membuka ponselnya melihat-lihat laman belanja online. Semenjak hamil ia sangat suka mencari-cari perlengkapan bayi yang lucu dan unik di situs belanja tersebut. Saking asyiknya, Dara bahkan tak menyadari kedatangan seseorang yang kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan wanita paruh baya bak toko mas berjalan itu.


Wanita yang baru saja datang itu tak lain adalah Michelia. Sama halnya dengan Dara, ia pun tak menyadari kehadiran Dara di cafe tersebut.


"Ibu sudah lama menunggu?" tanya Michelia.


"Menunggu lama pun tak masalah. Ibu tahu kamu sedang berusaha sebaik mungkin untuk mencapai tujuan kita. Bagaimana hasilnya, apakah ada kemajuan?" tanya wanita itu yang ternyata adalah ibunya Michelia.


"Benarkah? putriku ini memang hebat. Kerahkan semua kemampuan terbaikmu, Ibu yakin Nyonya Ratih akan semakin menyukaimu dan tujuan kita untuk menggerogoti aset keluarga Aryasatya akan semakin mudah," jawabnya diiringi tawa licik yang menjijikkan.


Dara yang tepat berada di belakang mereka seketika langsung waspada, apalagi ketika terdeteksi nama Wira ikut disebut dalam pembicaraan mereka. Ia melirik sekilas dengan sudut matanya dan mengenali salah satu dari mereka adalah Michelia.


"Ibu tahu? Nyonya Ratih sangat menyukaiku sekarang. Dia bahkan memintaku untuk menjadi menantu serta mengasuh cucunya nanti. Karena Nyonya Ratih berencana setelah si gadis ingusan yang sekarang menjadi istri Wira melahirkan, dia akan mengambil bayinya dan menendangnya dari sisi putranya," papar Michelia disusul gelak tawa kepuasan.


"Bagus, kamu jangan sampai lengah. Tapi, apa kamu serius mau mengasuh seorang bayi yang bahkan bukan darah dagingmu?"


"Ahahaha... yang benar saja Bu. Aku hanya menyanggupinya sekarang, tetapi nanti akan berbeda cerita. Tentu saja aku tak sudi mengasuh bayi karena hal itu pasti merepotkan. Aku tinggal menyewa baby sitter mahal dengan uang keluarga Aryasatya dan memakai alasan pekerjaanku sebagai dokter untuk mengelak dari tugas tersebut. Aku sudah tak sabar menantikan hari itu tiba Bu."


Dara langsung terkesiap dan membeliakkan matanya. Secara impulsif lengannya memeluk perutnya sendiri. Mendengar bahwa dia akan dipisahkan dari sang buah hati juga suami yang sangat dicintainya membuatnya marah dan takut setengah mati.


Dengan cepat Dara bangkit dari duduknya, menghampiri dua serigala berbulu domba itu lalu menggebrak meja dengan kencang.


Brakkk!


"Jangan mimpi kamu! Sampai mati pun aku takkan pernah melepaskan anakku dan juga suamiku, camkan itu!" Dara berteriak murka, kemudian meninggalkan dua orang tersebut yang terkaget-kaget karena kemunculan Dara yang tiba-tiba.