
PoV:
Senang sekali kamu suka karyaku. Jika mau lanjut dulu\, silakan baca karyaku di Fiz*zo ( Waktu cari\, jangan tambah "*") Udh ada lebih 70 bab dan semuanya gratis ya.
Sikap Vivi yang kejam tak berperasaan membuatku berkeringat dingin. Aku tidak mengerti, seberapa jahat dan mengerikannya gadis mungil ini, mengapa dia bisa begitu berdarah dingin.
Vivi ingin pergi mencari Tante Rani, aku pun segera berkata, “Seharusnya kamu senang karena dia sudah mati, karena konflikmu dengan Yanti semakin mendalam. Sebenarnya kamu tahu jelas dalam hatimu, tujuan awal dari Yanti bukanlah uang, tetapi kamu. Sebelumnya, dia meminta uang untuk mengobati Herman, tetapi sekarang Herman sudah mati, bahkan jika kita benar-benar memberinya dua miliar, dia juga belum tentu akan berhenti di situ. Herman mati di sini, Yanti tidak akan melepaskan kita begitu saja.”
Vivi tidak melihatku, dia bersandar di pagar pembatas dan berkata pada Tante Rani di lantai bawah, “Tante, nanti suruh tukang untuk perbaiki pintu, kakakku yang bertenaga besar ini merusak pintuku.” Kemudian, Vivi menoleh padaku, “Kamu lumayan pintar juga, aku kira sia-sia kamu bersekolah bertahun-tahun. Tetapi, kamu harusnya berterima kasih padaku, jika bukan karena aku, apa kamu bisa bersekolah setinggi itu?” Vivi menunjuk-nunjuk dadaku, “Wenny, semua yang kamu miliki sekarang adalah hasil curian dariku, jangan tidak tahu diri.” Tiba-tiba Vivi tertawa, “Masih mau lapor polisi dan tangkap aku?” Vivi melihat mataku, “Jika kamu lapor polisi dan menangkap aku, apa kamu rasa Ayah dan Ibu akan memaafkanmu? Mereka akan mengira kamu si putri angkat yang jahat ini melakukan hal-hal tercela untuk mengusir aku yang merupakan putri kandung mereka. Menurutmu, Ayah dan Ibu akan lebih percaya padamu atau aku?”
Mendengar tantangannya, aku tidak bisa menahan diri dan berteriak marah, “Aku tidak pernah berpikir untuk bermusuhan denganmu! Aku hanya berharap semua hal berkembang ke arah yang baik, aku bahkan meminta temanku untuk menjual semua aset tetap milikku, untuk membantumu mengumpulkan uang dua miliar, agar kamu bisa putus hubungan dengan Yanti. Mengapa kamu mengira aku menentangmu?”
Vivi menggelengkan kepala, “Jangan pura-pura lagi, kamu sedang bantu siapa? Kamu hanya sedang membantu kamu sendiri. Jika suatu hari kamu menyadari orang tua kandungmu bukan William Tanoko dan Jenny Winata, tetapi sepasang suami-istri triliarder, kamu pasti sudah pergi dengan mereka. Apa kamu sedang bantu aku? Kamu hanya takut Yanti akan menjadi bebanmu.” Vivi mengangkat bahunya, “Sekarang aku sama sekali tidak takut Yanti, karena ada orang tua kandung yang membelaku. Sedangkan kamu? Kamu harus senantiasa mewaspadai Yanti, karena itu orang tua kandungmu, kutu busuk yang tidak dapat kamu elakkan seumur hidup! Maka kamu terpaksa terlibat dalam keseluruhan hal ini. Kamu ingin dua keluarga ini putus hubungan, bukankah karena kamu ingin memisahkan diri dari Yanti?”
Ucapan Vivi memang kejam, tetapi tak dapat dipungkiri, sebagian ucapannya itu benar. Aku punya keegoisan, aku tidak ingin kehidupanku yang semulanya tenang diganggu, juga tidak ingin meninggalkan orang tua yang telah menemaniku selama lebih dari 20 tahun.
Pada akhirnya, kabar kematian Herman tetap terdengar oleh Ayah. Aku tidak memperlihatkan rekaman CCTV pada mereka, karena aku tahu, tidak peduli apa yang aku katakan, Vivi sudah memikirkan siasat untuk menyerang balik.
Ayah menegurku dengan tegas di telepon, sama seperti ketika mengatakan aku mengecewakannya karena tidak masuk ke universitas yang dia inginkan.
Di hari kepulangan Ayah dan Ibu, aku menerima panggilan telepon dari Yanti, aku langsung menyetir mobil ke desa sebelum mobil Ayah dan Ibu pulang ke rumah.
Aku perlahan-lahan menjadi akrab dengan jalanan menuju desa ini. Yanti mengatakan Herman akan dimakamkan sore ini. Mayatnya telah diotopsi, tidak keracunan, tetapi napasnya langsung terhenti karena emosi yang tiba-tiba membara.
Yanti sudah menebak bahwa Vivi adalah pelakunya. Temperamen Herman sangat baik biasanya, dia sama sekali tidak akan mati jika tidak ada orang yang sengaja mengumpannya.
Aku tidak memperlihatkan rekaman itu pada Yanti, tetapi dia meyakini bahwa Vivi yang membuat Herman mati, karena dia mencium sisa parfum milik Vivi saat dia kembali ke garasi pagi itu.
Yanti sangat memahami Vivi, sampai tidak melupakan aroma parfumnya.
Di hari pemakaman Herman, Hardi datang membantu. Beberapa pemuda terlihat sibuk di depan, Yanti berlutut di tanah yang lembek, tatapannya yang lembut tertuju pada tanah di mana Herman dimakamkan. Langit nan biru, cahaya matahari begitu hangat, dia tidak menangis, hanya melihat ke arah itu dengan tenang, seakan ada pria sehat bugar di sana yang melambaikan tangan dan berpamitan dengan penuh cinta.
Mungkin karena momen ini sangat memilukan, aku berlutut di sebelah Yanti. Tanah di bawah lutut terasa lembek sekali, juga hangat karena sinar matahari.
Yanti tiba-tiba berkata dengan suara yang tenang dan lembut, “Dia sudah menjadi orang baik selama seumur hidupnya, juga baik padaku selama seumur hidupnya, tidak pernah memarahi dan memukuli orang. Keluarganya sangat miskin, orang tuanya sudah mati saat dia kecil. Demi menikahiku, dia menggarap tanah keluargaku selama setahun, bahkan orang tuaku juga dimakamkan olehnya. Waktu itu aku pun bilang…” Yanti terisak, dia mengendus hidung dan memaksakan senyum, “Waktu itu aku bilang, kamu juga harus memakamkan aku, kalau tidak…dengan sifat dan koneksiku yang buruk ini, mati pun akan telantar di jalanan.” Yanti menoleh padaku, “Kamu tahu apa yang dia bilang padaku? Dia bilang dia pasti akan hidup baik-baik, nanti dia akan menggali dua lubang, dia akan berbaring di sisiku dan menunggu kematian setelah memakamkan aku.”
Tiba-tiba Yanti menangis keras, “Tetapi dia sudah pergi… dia bahkan pergi sebelum menghembuskan napas terakhir…”
Ketika Yanti berlutut di lantai dan lepas kendali, aku menyeka air mata dan memalingkan kepala. Entah kapan Hardi berdiri di belakangku, dia memberiku sebotol air dan berkata, “Turut berduka cita.”
Aku mengambil air itu, Hardi berjongkok di sebelahku. Melihat galian lubang tanah di depan, Hardi berkata, “Pendek sekali nyawa Paman Herman, dia telah menjadi orang yang baik selama seumur hidupnya. Pada masa-masa aku dan ibuku terpuruk, kami hidup mengandalkan roti kukus Paman Herman dan Tante Yanti. Setelah itu, kakinya patah karena Vivi. Ibuku bilang pada saat itu, orang baik tidak akan hidup lama.”
Hardi menghela napas dan menggelengkan kepala, lalu meminum seteguk air. Aku mengendus hidung, tiba-tiba merasa ada yang tidak beres, “Kakinya…patah karena Vivi?”