
Mereka berdua kini berada di tempat di mana Wira memarkirkan mobil. Dara memindai keseluruhan tubuh suaminya dengan sorot mata cemas yang membuncah. Wajah tampan Wira terluka dan mulai terlihat beberapa memar yang muncul ke permukaan.
"Bagaimana ini? nggak mungkin Mas pergi bekerja ke rumah sakit dengan kondisi seperti ini kan." Dara meringis melihat kondisi suaminya.
"Aku baik-baik saja sayang. Bagi para pria ini adalah hal biasa, hanya luka semacam ini tidak akan berpengaruh banyak padaku. Jadi, jangan cemas begitu." Wira meyakinkan agar istrinya tetap tenang.
"Sebetulnya ada apa? bukankah tadi Mas bilang akan memberitahukan tentang status kita, tetapi kenapa malah jadi arena adu otot?" Dara bertanya dengan nada memaksa meminta penjelasan.
"Terjadi sedikit kesalahan pahaman saja hingga kami lepas kendali. Beginilah sisi lain para pria. Aku tahu ini salah, karena lebih mengedepankan emosi dibanding logika," sahutnya terselip nada penyesalan di dalamnya.
"Tapi lain kali kamu juga jangan nekat seperti tadi. Jantungku hampir mau copot rasanya saat kamu tiba-tiba muncul untuk melindungiku," pintanya tegas.
"Aku... aku sangat takut terjadi sesuatu sama kamu Mas, aku takut kehilanganmu. Lain kali Mas juga jangan begini lagi. Pikirkan aku dan bayi kita yang sangat membutuhkanmu, jika terjadi hal buruk padamu aku takkan mampu menanggung pemikiran semacam itu." Dara berucap lirih diiringi butiran bening yang kembali terurai di wajah cantiknya.
"Maaf karena telah membuatmu khawatir. Kedepannya aku akan berusaha untuk lebih mengontrol emosiku."Jemari Wira mengusap air mata yang merebak di wajah Dara dan meraup tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis lagi hmm," desah Wira lembut.
Beberapa saat mereka masih tetap dalam posisi itu hingga akhirnya keduanya melonggarkan pelukan masing-masing. Terlihat Freya yang berlari ke arah mereka, gadis tomboi itu mencari-cari keberadaan Dara karena kelas akan dimulai.
"Ra, ayo kita ke kelas, jangan sampai terlambat. Dosen pagi ini tidak mentolerir keterlambatan dengan alasan apapun," ajak Freya masih dengan dada naik turun.
"Segeralah kembali ke kelas dan jangan cemaskan aku. Sebentar kuambilkan ponselmu." Wira mengambil ponsel Dara yang tertinggal di dalam mobil kemudian menyerahkannya.
"Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik jika keadaanmu seperti ini Mas," ujarnya.
"Bayi kecilku. Papa berangkat kerja dulu, jangan nakal di dalam sana ya," gumamnya lembut penuh sayang.
Kemudian Wira berdiri dan mengecup puncak kepala Dara dengan mesra, membuat Freya memalingkan pandangannya karena malu disuguhkan adegan intim semacam itu hingga menyebabkan wajahnya terasa memanas.
"Aku berangkat dulu sayang. Nanti sore kujemput. Titip Dara ya Frey."
Freya mengangguk dan Wira berpamitan pada keduanya. Dara melambaikan tangannya dan mau tak mau akhirnya ia melepaskan suaminya berangkat bekerja meskipun hatinya tak rela.
"Yuk, kita cepetan ke kelas." Freya menarik lengan Dara.
"Aku merasa tak bersemangat. Rasanya ingin sekali mengikuti Mas Wira pergi ke rumah sakit dan membantu mengobati lukanya." Dara berucap lesu sambil menarik-narik tali tas cangklongnya.
"Haish... sejak kapan kamu jadi bucin begini. Denger nggak tadi suamimu bilang apa? dia minta kamu belajar dengan tenang." Freya berusaha membujuk dan menekankan setiap kata-katanya.
"Baiklah." Dara melangkahkan kakinya malas sambil tertunduk tak bersemangat.
"Eh Frey, gimana tentang Anggi. Duuh... aku jadi ngerasa nggak enak sama dia. Aku nggak bermaksud untuk membohongi kalian." Dara mengembuskan napasnya berat.
"Tenang aja. Aku udah ngomong sama Anggi, tapi kamu hutang penjelasan pada kami tentang hal mengejutkan ini," jawab Freya sambil menepuk-nepuk punggung Dara.
"Oke. Aku pasti akan menjelaskannya pada kalian. Sepulang kelas akan kuceritakan semuanya."