
Waktu terus bergulir, tetapi rapat berlangsung alot dan masih belum selesai padahal senja sudah menyapa. Hanya diselingi istirahat sejenak kemudian rapat kembali dilanjutkan.
Entah mengapa di rapat kali ini Wira sulit sekali untuk fokus dan suasana terasa sangat menjemukan. Perasaannya mendadak tidak enak karena teringat terus akan Dara, padahal begitu sampai di rumah istrinya itu langsung mengabarinya bahwa dirinya baik-baik saja.
"Dokter, apa Anda butuh sesuatu?" tanya Fatih yang duduk tepat di belakangnya karena sejak tadi ia memperhatikan air muka Wira terlihat gusar dan gelisah.
"Tidak, Terima kasih," jawabnya singkat.
"Atau mungkin Anda ingin dibuatkan kopi? biar saya yang meminta ke pantry," tawar Fatih.
"Tidak usah. Aku sudah cukup minum kopi untuk hari ini," tolaknya halus.
Akhirnya rapat tersebut benar-benar selesai pukul tujuh malam. Wira segera bangkit dari tempat duduknya dan bergegas kembali ke ruangannya karena masih ada berkas pasien untuk jadwal operasi besok yang belum selesai diobservasi. Dokter tampan itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa secepatnya pulang ke rumah dan bertemu dengan pujaan hatinya.
Sebagai asisten, Fatih juga tak langsung pulang dan ikut serta mempersiapkan segala sesuatu untuk operasi yang akan dipimpin Wira esok hari. Meskipun lelah, si calon dokter itu tetap bersemangat dan antusias mengerjakan tugas yang diperintahkan Wira.
*****
Pukul 20.00
Dara sedang berada di ruang tengah ditemani semangkuk es krim vanilla yang dicampur dengan buah-buahan segar favoritnya. Ia duduk bersantai membaca buku sambil menyantap es krimnya penuh suka cita.
Ketika keluar dari klinik tersebut dan bermaksud untuk pulang, matanya melihat sebuah toko buku yang bersebelahan dengan klinik. Di bagian depan toko tersebut memajang beberapa buku best seller dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya adalah buku-buku tentang parenting.
Dara membeli dua buah buku. Yang satu buku mengenai seputar kehamilan hingga mempersiapkan diri menjadi seorang ibu dan yang satunya lagi buku yang membahas pemahaman tentang bayi baru lahir.
Sejak sore tadi Dara seolah lupa dengan sekitarnya dan terus membaca buku yang dibelinya tanpa henti. Ia begitu antusias karena banyak ilmu serta tips yang didapat dari sana.
Ia membuka lembaran berikutnya, di sana membahas tentang mual muntah pada kehamilan dan juga pentingnya mengkonsumsi vitamin yang dianjurkan oleh dokter kandungan di masa-masa kehamilan.
Kemudian Dara teringat akan resep dari rumah sakit yang disimpannya di dalam tas. Sejak sampai di rumah ia meletakkan tas tersebut di meja rias di dalam kamar. Dirinya sampai melupakan perihal obat dan juga vitamin yang harus diminumnya karena terpesona oleh kedua buku yang menarik perhatiannya
Dara menutup buku yang dibacanya dan bergegas ke kamar, membuka tasnya dan mengambil bungkusan obatnya. Ketika dibuka, dua buah vitaminnya berbentuk sirup seperti biasa dan dua jenis lainnya diresepkan dalam bentuk tablet, menurut keterangan Wira itu adalah obat mual.
Wira meminta Raisa meresepkan vitamin atau obat dalam bentuk sirup jika ada, mengingat Dara yang tak bisa menelan obat berbentuk tablet secara langsung. Akan tetapi setelah Dara perhatikan, kali ini obat berbentuk tablet yang satunya lagi tidak tampak seperti yang sebelumnya, dari ukuran dan warnanya juga sangat berbeda.
"Haishh... kenapa obat tabletnya sekarang semakin besar saja ukurannya. Tapi demi anakku tersayang aku harus meminumnya." Dara mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri.
Dara hendak menghaluskannya terlebih dahulu menggunakan *mortar agar lebih mudah meminumnya. Kakinya melangkah ke ruang makan sembari membawa dua butir obat di tangannya. Ia sudah hampir sampai di ruang makan, tetapi kemudian berbelok ke pintu keluar begitu mendengar deru mesin mobil Wira yang memasuki garasi rumah.
*Mortar/ Mortir: Mangkuk penggerus obat.