You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 231



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


**********


"Aku akan mengajukan permintaan cuti kuliah," ucap si cantik bermata indah itu sembari menyerahkan gelas yang dipegangnya kepada Wira.


Dara baru saja selesai membasuh kerongkongannya dengan segelas air putih hangat setelah menghabiskan suapan terakhir sarapan penuh nutrisi dengan takaran gula dan garam yang tepat, dibuat khusus untuknya dari pihak rumah sakit sesuai instruksi Raisa. Ini adalah hari ketiga ia dirawat inap, jika siang nanti tensinya stabil maka Dara akan diperbolehkan pulang.


Wira menaruh nampan berisi mangkuk-mangkuk kosong yang isinya telah berpindah ke lambung Dara ke atas meja khusus yang tersedia untuk menyimpan makanan. Istrinya itu berusaha menghabiskan seluruh makanannya demi kesehatan si jabang bayi juga dirinya, Dara tetap bersemangat untuk menghabiskannya meskipun menu yang disajikan tak sesuai seleranya. Wira berpindah duduk dari kursi dekat ranjang ke tepian tempat tidur Dara.


"Aku yang akan mengurusnya. Jadi kamu cukup perhatikan saja kondisimu, jangan memikirkan hal lain." Wira meraih tangan Dara dan membawanya ke bibirnya, mendaratkan kecupan hangatnya di punggung tangan Dara dengan mesra.


"Tapi, sebelum cuti aku ingin bertemu dan berpamitan pada teman-temanku. Mas tenang saja, aku akan selalu mengingat semua pesan Dokter Raisa dan tidak melalaikannya. Bolehkan?" pinta Dara dengan nada menuntut namun menenangkan.


"Tentu saja boleh. Dengan catatan aku sendiri yang akan mengantarmu," sahut Wira tanpa memberikan celah bantahan dari untaian kalimatnya.


"Baiklah Papa." Dara mengangguk seraya tersenyum, tetapi kemudian dia mengaduh dan memegangi perutnya, "Akh...."


"Dia... dia... menendang...." ucapnya sedikit mengambang dengan mata berbinar dan senyuman lebar.


"Me-menendang... ap-apa... yang menendang?" Wira tergagap masih dibalut kepanikan yang akhir-akhir ini sering menyerangnya.


Dara terkikik geli melihat ekspresi Wira. Ia kemudian meraih tangan suami tampannya dan menempelkannya di perut buncitnya. Untuk sesaat Wira masih tak mengerti dan malah mengerutkan keningnya penuh tanya, lalu tak lama kemudian telapak tangannya merasakan sebuah hentakan kuat nan lembut yang berasal dari pergerakan kehidupan di dalam sana.


"Anak kita yang menendang. Mas bisa merasakannya juga kan?" tanya Dara sambil menatap Wira dengan netranya yang berkilauan berlumur sukacita.


Wira dibanjiri rasa baru yang belum pernah dicicipinya. Rasa seumpama melayang di angkasa menunggangi permadani Aladdin dan menyaksikan indahnya dunia dari atas sana. Terasa terombang-ambing namun begitu membahagiakan, meluap-luap bak ribuan kupu-kupu yang beterbangan beriak memenuhi seluruh rongga dadanya.


"Anakku... yang menendang?" Wira seakan masih tak percaya, ini adalah pengalaman pertamanya menjadi calon ayah. Hempasan menyenangkan itu membuatnya melontarkan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya, seiring dengan gerakan demi gerakan yang lincah dan aktif dari dalam sana yang terus menyapa telapak tangannya.


"Iya Mas. Anakmu, anak kita. Sepertinya dia senang Papanya menyapanya, terbukti dari bertubi-tubinya dia menendang," ungkap Dara dengan semburat kebahagiaan yang sama.


Wira menunduk dan mendekatkan wajahnya semakin turun hingga tepat berada di depan perut Dara, menciuminya lembut penuh kasih sayang serta rasa syukur. "Kuatlah dan sehatlah di dalam sana, Anakku. Papa di sini menunggu dan sangat menantikan untuk bertemu denganmu."


Si jabang bayi seolah mengerti, ia menendang dengan satu hentakan kuat menyambut kasih sayang orang tuanya. Dara menangkup kedua sisi wajah Wira lalu menariknya agar sedikit mendongak dan menghapus buliran bening dari sudut mata teduh suaminya.


"Ini air mata bahagia...." ucap Wira serak tak mampu menahan haru yang menyeruak, sehingga pria berperawakan tinggi tegap itu tampak rapuh dan cengeng, sangat bertolak belakang dengan penampilan fisiknya. Akan tetapi semua sisi itu hanya ditunjukkan kepada sang belahan jiwa pemilik hatinya.


"Aku tahu, sayang," jawab Dara penuh pemakluman.