You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 111



Dara meremas ujung dress yang dipakainya, telapak tangannya dingin sambil sesekali menggigit bibirnya gelisah. Wira melihat ekspresi gusar istrinya lalu diraihnya tangan Dara kemudian ia menjalinkan jari-jemarinya.


"Masih mau masuk atau pulang saja?" tanya Wira kepada Dara tepat di pintu masuk kediaman orang tuanya.


Dara berusaha memasang senyumnya dan mengangguk mengiyakan, meskipun sejujurnya ia dilanda kecanggungan luar biasa akibat perlakuan Ratih kemarin yang masih menyisakan guncangan di jiwanya.


"Ayo, kita masuk," ajak Wira dengan senyuman yang menyejukkan hati dan menenangkan jiwa.


Wira menghela Dara melangkahkan kaki memasuki rumah besar itu, kedatangan mereka langsung disambut beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka di area depan rumah tersebut.


"Selamat datang Tuan Muda."


"Di mana ayah dan ibuku?" Wira bertanya kepada salah satu pelayan yang ada di sana.


"Tuan dan Nyonya besar sedang bersantai di taman belakang," sahut si pelayan itu dengan hormat.


Wira mengangguk dan langsung menuju taman yang dimaksud. Tampaklah kedua orang tuanya yang duduk bersantai di gazebo yang menghadap ke kolam ikan dengan berbagai macam ikan hias berwarna-warni berenang dengan lincahnya saling bersinggungan di sana.


Dara semakin mengeratkan jalinan jemarinya dengan Wira, kakinya hampir terasa lemas saat kembali mendapati sosok Ratih yang tengah duduk di sana menatap tajam ke arahnya melihat kedatangannya dengan Wira.


"Ayah, Ibu, aku datang." Wira mengambil tempat duduk berseberangan dengan orang tuanya dan Dara duduk disampingnya dengan wajah yang mulai memucat.


"Wira... lama tak jumpa Nak." Haris menyambut kedatangan putranya dengan sukacita, berbeda dengan Ratih yang menekuk wajahnya sejak kemunculan Wira dan Dara.


"Bagaimana kesehatan Ayah?"


"Ayah baik, hanya saja seiring bertambahnya usia tubuh ini sudah tak setangguh dulu lagi," sahutnya terkekeh dan itu menular membentuk sebuah senyuman di wajah tampan Wira.


"Ka-kabar saya baik Om," sahutnya canggung.


"Aku datang menyapa karena ada hal yang ingin kubicarakan. Apakah ibu sudah bercerita kepada Ayah mengenai sesuatu yang sangat penting?" Wira mulai membuka pembicaraan.


"Ibumu tidak bercerita tentang apapun? Ayah baru pulang dari Singapura tadi malam," jawab Haris yang kemudian mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Sedangkan Ratih memalingkan wajahnya berpura-pura tak mendengar.


"Begini Yah, sebenarnya... aku dan Dara... sudah menikah."


Dara menundukkan wajahnya dalam-dalam tak berani menatap pria paruh Baya itu, sementara Haris seolah membeku setelah mendengar pernyataan putranya.


"Ceritanya panjang Yah jadi langsung pada intinya saja, yang pasti aku sudah menikahinya hampir lima bulan lamanya dan sebentar lagi Ayah akan menjadi seorang Kakek. Dara sedang mengandung anakku sekarang," tutur Wira.


Sebagai anak tentu saja Wira berharap kedua orang tuanya merestuinya, karena bagaimanapun juga hidup tanpa restu orang tua laksana tertusuk duri dalam daging.


Haris melirik Ratih yang tak bergeming seolah tuli, lalu ia menatap Wira dan Dara secara bergantian. Haris sangat mengenal Wira, ia dapat melihat binar bahagia mata putranya yang memuja kepada gadis yang duduk disampingnya, binar yang sempat meredup karena kepergian Almira.


Dara makin menciut ditatap intens seperti itu dan tak disangka di detik kemudian Haris malah tertawa dengan renyahnya.


"Ahahaha... akhirnya aku akan menjadi seorang Kakek. Kenapa tidak memberi tahu Ayah lebih awal tentang hubungan kalian?"


"Maaf Yah, aku berjanji akan menjelaskannya nanti." Wira tersenyum lega.


"Kita harus merayakan kabar bahagia ini, benar kan Bu?" tanyanya kepada Ratih.


"Ibu tidak sudi! Jika Ayah mau mencoreng nama baik keluarga kita silahkan. Apa yang akan orang-orang katakan jika mengetahui putra kita mempersunting anak pungut yang tidak jelas bibitnya darimana? sampai kapanpun pernikahan kalian takkan pernah kuakui, tidak akan!" serunya penuh emosi, kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka bertiga dengan angkuhnya tanpa menoleh lagi.