You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 264



Wira menggendong putri kecilnya lalu duduk di tepian tempat tidur, tubuh mungil nan rapuh itu bergelung nyaman di lengan kokoh sang papa.


“Mama, aku datang. Bukalah matamu… tidakkah kau ingin melihat dan memelukku?” Wira berkata dengan suara menyerupai anak kecil kepada Dara yang masih setia dalam tidur dalamnya.


“Sayang, anak kita ada di sini. Lihatlah dia, begitu lucu menggemaskan juga cantik seperti bidadari. Hanya saja aku minta maaf, karena rupa putri kita lebih banyak mirip denganku daripada dirimu,” ujar Wira yang kemudian terkekeh pelan. Mencoba bergurau untuk menghibur dirinya yang tengah dirundung kerisauan.


*****


“Ayah, Kak Mira… aku rindu kalian, tapi… ini di mana? apakah kita sedang berlibur?” Dara tengah duduk beralaskan tikar bersama Arif juga Almira.


Dara mengedarkan pandangannya ke sekeliling, terasa begitu asing. Ia duduk di bawah rimbunnya pohon besar yang memiliki bunga sangat cantik dan baru kali ini ia melihat pohon semacam itu, berpadu hamparan padang rumput hijau segar membentang seluas mata memandang memanjakan mata, bermandikan hangatnya sinar mentari pagi yang berkilau indah serta semilir angin nan lembut menerpa menyenangkan, laksana negeri dongeng di buku cerita anak-anak.


“Mbak, Ayah. Kenapa kalian cuma tersenyum?” protes Dara dengan bibir mengerucut.


“Kenapa kamu ada di sini. Pulanglah Nak, banyak yang menunggu kepulanganmu.” Arif berucap dengan mengulas senyum teduhnya.


“Pulang kemana? kalian adalah tempatku pulang. Aku suka di sini, tempatnya sangat indah."


“Tapi tempatmu bukan di sini adik kecilku. Kamu masih adikku tersayang yang penurut kan? pulanglah.” Jemari lentik Almira mengusap lembut sisi wajah Dara. Akan tetapi sesaat kemudian Dara mengernyit karena sentuhan Almira sama sekali tak terasa di permukaan kulitnya.


“Tangan Mbak kenapa?” tanyanya kemudian.


Almira dan Arif hanya tersenyum simpul, kemudian Arif kembali bersuara dengan tatapan lembutnya kepada Dara.


“Di sini bukan tempatmu. Kamu sudah mempunyai keluarga sekarang dan mereka membutuhkanmu. Tak baik berlama-lama di sini. Bukankah kamu sekarang sudah menjadi seorang Ibu? tidakkah kau ingin menggendong anakmu? coba dengar baik-baik, bukankah itu suara tangisan buah hatimu?”


"Mas Wira?" gumamnya.


“Pulanglah Nak, mereka menunggumu.”


*****


Tiba-tiba saja putri kecilnya merengek mulai menangis padahal tadi dia terdiam dengan tenang. Wira berdiri dan mengayun-ayunkannya lembut mencoba menenangkan. Sementara itu jemari Dara mulai bergerak juga kelopak matanya bereaksi serupa, Wira yang tengah sibuk menenangkan si buah hati tak menyadari hal tersebut, ia fokus memusatkan perhatiannya pada makhluk kecil di dekapannya.


Bulu mata lentik Dara mulai berkibar mengerjap pelan, membuka perlahan kemudian menutup kembali dengan cepat secara refleks saat silau cahaya lampu menghantam merasuk di iris matanya. Ia kembali mencoba membuka matanya, menyesuaikan pandangannya yang awalnya tampak mengabur kemudian berangsur jelas.


Wira mulai kebingungan karena putrinya tak kunjung berhenti menangis, apakah bayi kecilnya kesakitan? Atau mungkin dia salah posisi menggendong lantaran ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang ayah. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada bayi mungilnya, Wira memutuskan untuk memanggil Raisa juga Dokter Anak yang menunggu di luar untuk membawanya kembali ke ruang NICU meskipun lima belas menit belum berlalu.


Tepat saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, terdengar suara merdu yang dirindukannya melirih memanggilnya.


“Mas....”


Wira mematung terdiam sejenak, lalu perlahan menolehkan kepalanya ke arah ranjang untuk memastikan bahwa memang ada yang memangilnya.


“Mas Wira,” panggilnya lemah.


Embusan napas lega terdengar begitu nyaring di udara, tubuh tinggi itu berbalik badan, melangkah lebar menuju ranjang dengan si buah hati dalam rengkuhan amannya kala melihat istri tercintanya membuka mata dan memanggilnya.