You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 116



Sepeninggal Wira, Bu Rina terkikik geli melihat calon ayah itu percaya begitu saja dengan kata-katanya. Sebagai seorang wanita ia juga pernah mengalami bagaimana yang namanya ngidam, jadi dia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan Dara sekarang.


*****


Pria tampan itu memarkirkan mobilnya serampangan di dekat lokasi penjual rujak buah tadi, tetapi ia tidak menemukan penjual yang dimaksud. Wira mengacak rambutnya kasar sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar memastikan kembali bahwa ini lokasi yang tepat, tetapi memang benar tempatnya adalah di situ.


Wira kebingungan, kemanakah harus mencari si penjual tersebut sekarang? Jika sampai tidak mendapatkannya maka bagaimana caranya membujuk Dara dan tamatlah sudah riwayat urusan ranjangnya, juga tentang mitos yang disebutkan Bu Rina tadi benar-benar menganggu ketenangannya.


Matanya menangkap beberapa orang berbaju kuning membawa sapu lidi yang duduk di pinggiran trotoar, mereka adalah para penyapu jalanan yang tengah beristirahat melepas penat di bawah rindangnya pohon-pohon yang tertanam di sepanjang sisi trotoar tersebut.


Kakinya bergegas melangkah, Wira hendak bertanya dan berharap mereka mengetahui informasi tentang keberadaaan penjual rujak yang sering mangkal di situ.


"Maaf mengganggu sebentar Pak, barangkali Bapak tahu ke mana perginya penjual rujak yang tadi siang mangkal di sini?" Wira bertanya kepada salah satu penyapu jalanan tersebut.


"Oooh... penjual rujak tumbuk itu ya?" sahutnya.


"Iya betul Pak. Tadi siang mangkal tepat di bawah pohon besar ini, tapi sekarang kemana perginya ya?" tanya Wira kembali dengan raut wajah kebingungan.


"Kalau sudah sore begini biasanya sudah pulang dan berpindah mangkal di sekitar lapangan dekat rumahnya, dia tidak pernah mangkal sampai petang di sini. Ada perlu apa ya Tuan?" si bapak tersebut balik bertanya.


Melihat sosok Wira dari ujung kepala hingga kaki ia sangat penasaran, kenapa orang perlente dengan tampilan kelas atas ini mencari keberadaan penjual rujak tumbuk sederhana yang berjualan di pinggir trotoar.


"Sebenarnya begini Pak. Istri saya sedang hamil muda dan ingin makan rujak yang biasa dijual di sini sekarang juga, dia tidak mau diganti dengan rujak dari penjual yang lain," ucap Wira yang kemudian mengusap-usap tengkuknya gusar.


"Oalah... istrinya lagi ngidam toh. Orang ngidam memang sebaiknya dituruti, nanti takut anaknya ileran kalau nggak kesampaian. Coba saja susul ke lapangan dekat rumahnya, barangkali saja rujaknya masih ada. Lokasinya berada di dalam gang kecil ujung jalan sini. Hanya saja untuk sampai ke sana Tuan harus masuk ke dalam gang dengan berjalan kaki kira-kira seratus meter," jelas si bapak itu.


Wira makin merasa terganggu, perkataan Bu Rina dan si bapak ini menyatakan hal yang sama, bahwa jika tidak dituruti nanti bagaimana dengan nasib anaknya.


"Terima kasih atas informasinya Pak, kalau begitu saya pamit."


Wira bernapas lega ketika melihat keberadaan si bapak yang tadi berjualan di trotoar benar-benar ada di sana. Penjual itu terlihat sedang sibuk melayani para pembeli yang kebanyakan anak-anak serta remaja yang tengah bermain di lapangan.


Dengan langkah seribu Wira menghampiri, membuat pria paruh baya penjual rujak tersebut sedikit terperanjat kaget dengan kedatangannya, tetapi kemudian dia teringat tadi siang sempat melihat Wira yang menghampiri lapak jualannya namun kemudian berlalu pergi.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya si penjual.


"Saya ingin membeli rujak. Istri saya sedang hamil muda dan ingin makan rujak buatan Bapak," ucap Wira dengan sopan penuh harap.


"Ah begitu rupanya. Kalau tidak salah tadi siang Tuan sempat mampir ke lapak jualan saya di trotoar?" tanyanya.


"Benar Pak. Hanya saja tadi mendadak ada urusan sehingga saya terburu-buru pergi, dan saat kembali ke tempat jualan ternyata Bapak sudah pulang, jadi saya menyusul kemari." Wira berasalan untuk menutupi gengsinya.


"Tapi sepertinya rujaknya cuma tinggal untuk satu porsi, bagaimana?"


"Tak apa Pak, satu porsi pun sudah cukup. Yang penting keinginan istri saya terpenuhi," pinta Wira penuh harap.


"Tuan tunggu sebentar, akan saya buatkan," ujar si bapak itu ramah.


"Terima kasih, terima kasih banyak Pak," sahut Wira penuh syukur.


*****


Selamat hari kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia. MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩