
Wira berusaha menyeimbangkan langkahnya di tengah kepanikan yang menyerbunya, mengeratkan tangannya yang memangku memastikan pegangannya kuat agar Dara tidak sampai terjatuh.
“Pak Jono! Cepat buka pintu mobil!” teriak Wira lantang dari kejauhan membuat Pak Jono yang sedang bersenda gurau dengan satpam seketika waspada.
Pak Jono terperanjat kaget melihat tuannya muncul dan berjalan terges-gesa dengan Dara dalam gendongannya. Setengah melompat dari tempat duduknya, pria paruh baya itu segera membuka pintu mobil kursi penumpang lebar-lebar.
“Cepat ke rumah sakit, sekarang juga!” perintah Wira dengan nada suara sarat akan rasa takut yang hebat.
Toyota Alphard warna putih itu segera melesat meninggalkan pelataran parkir, Pak Jono mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya agar segera sampai di rumah sakit dengan selamat.
Dara merintih dan meringis di pangkuan Wira, wajahnya semakin memucat, buliran buliran keringat membanjiri kening dan pelipisnya. Sesekali tangannya meremas kuat kemeja suaminya itu seolah mencari kekuatan di sana, sementara tangan yang satunya lagi memegangi bagian bawah perutnya yang terasa luar biasa ngilu seperti diremas dengan kuat.
“Mas, sak-sakiiittt….” Napas Dara tersengal setelah mengucapkan kalimatnya, disertai remasannya yang menguat di kemeja Wira.
“Maafkan aku… maafkan aku yang terlambat menemukanmu. Kuatlah sayang, kumohon,” ucapnya parau lantaran tenggorokannya tercekat oleh rasa yang menyesakkan dada.
Pesta langsung dibubarkan saat itu juga. Raisa bahkan melempar sepatu hak tinggi yang dipakainya dan memilih berlari bertelanjang kaki agar segera sampai di tempat parkir kemudian tancap gas menuju rumah sakit. Haris dan Ratih yang terus menangis juga segera menyusul, diikuti Freya dan Anggi yang pergi menaiki mobil Fatih.
“Mas, Anakku… tolong selamatkan Anakku,” ujar Dara dengan suara melemah ketakutan diiringi buliran bening yang mengalir dari sudut matanya. “Dia… dia tidak bergerak hiks… hiks….” Sebelah tangannya yang memegangi perutnya menyusuri permukaan perutnya sendiri dengan telapak tangan gemetaran mencari pergerakan dari si jabang bayi yang dikandungnya padahal saat ini rasa sakit tak terperi tengah membelitnya.
“Jangan terlalu banyak berpikir, sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit. Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja.” Wira berusaha menghibur istrinya yang kondisinya semakin melemah di pangkuannya, menghujani wajah dan kepala Dara dengan kecupan bertubi-tubi, sementara cairan hangat yang merembes dari sela-sela paha Dara semakin membasahi celana Wira meninggalkan noda merah gelap yang tercetak di sana dibarengi aroma bau amis darah yang mulai menyeruak.
Pasokan udara mendadak terasa menipis, Dara yang kembali mengalami sesak megap-megap di pelukan Wira karena paru-parunya terasa terimpit beban berat. Wira semakin panik, dia sebisa mungkin membimbing Dara agar bernapas teratur.
“Bernapas sayang, embuskan teratur ikuti arahanku. Kamu pasti bisa.” Wira berusaha menyemangati di tengah suasana mencekam yang melingkupinya.
Perjalanan ke rumah sakit kali ini seakan bermil-mil jauhnya, Wira merasa seumpama tengah berada di hamparan lautan es yang membeku dan dia berdiri di atas lapisan tipis yang dipijaknya, salah melangkah sedikit saja maka es tersebut akan retak dan menenggelamkannya dalam dinginnya air tersebut yang dinginnya serupa ribuan pisau tajam menghujam menyakitkan hingga ke dasar jiwa.