You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 263



Senja menjelang, menaburkan rona jingganya di ufuk barat, berkilau keemasan memikat memesona yang hanya singgah dan muncul sekejap saja kala mendung berlibur membentengi langit.


Sore ini Wira meminta Ratih untuk pulang dan beristirahat di rumah, ia khawatir ibunya yang sudah tidak muda lagi itu jatuh sakit jika terus-menerus berdiam diri di rumah sakit. Setelah diyakinkan dengan berbagai macam cara akhirnya Ratih menuruti putranya, tetapi dia berpesan agar Wira selalu mengabari secara berkala tentang kondisi Dara juga cucunya.


Hari beranjak gelap, Dara masih belum juga siuman. Padahal dosis obat bius yang dimasukkan ke tubuhnya sudah disesuaikan juga terjamin keamanannya. Kebanyakan ibu yang melahirkan dengan jalan operasi hanya akan dibius lokal saja, akan tetapi karena kondisi juga situasi Dara berbeda, maka bius total mereka pilih untuk diterapkan pada kasus kali ini.


Wanita berbulu mata lentik itu masih betah memejamkan mata, malam ini Raisa kembali memeriksa secara terperinci karena Dara tak kunjung terbangun. Hasil pemeriksaannya masih tetap sama seperti beberapa jam yang lalu, menyatakan bahwa masa kritis telah terlewati dan kini kondisi Dara semakin stabil terkendali dalam masa pemulihannya, bahkan bukit kembarnya pun sudah mulai mengencang mengembang pertanda air susu mulai diproduksi di tempat sumber makanan untuk bayinya.


Sebagai seorang dokter bedah, Wira juga mengetahui berdasarkan pengalamannya selama ini bahwa pada sebagian kasus operasi dengan prosedur bius total kadang kala ada beberapa pasien yang terlambat siuman meskipun diagnosa menyatakan semuanya stabil. Kendati begitu tetap saja dia merasa cemas luar biasa saat hal itu terjadi pada orang yang sangat berarti baginya, dia sering mengatakan kepada keluarga pasien bahwa itu hal biasa dan akan memberi pengertian agar keluarganya tetap tenang, tetapi ketika mengalami sendiri ternyata memanglah sulit untuk tidak tergoda khawatir yang menggelitik di sanubari.


“Jangan terlalu cemas, kondisinya semakin membaik meskipun dia belum siuman,” hibur Raisa penuh ketulusan.


Wira mengulas senyum tipis. “Makasih Sa, telah mengusahakan yang terbaik untuk anak dan istriku.”


“Sudah kewajibanku. Tetaplah berdo’a, semoga istrimu segera siuman. Sebentar lagi jadwalku pulang, Dokter lain akan menggantikanku memantau kondisi Dara, tapi jika terjadi suatu hal segera hubungi aku.”


Pria tampan yang kini sudah menjadi ayah itu mengangguk. “Sa, jika memungkinkan, bolehkah sekarang kubawa anakku dari ruang NICU kemari? hanya sebentar, jika putri kami ada di sini mungkin saja Dara akan siuman.”


“Akan kulihat dulu bagaimana kondisi bayi kalian, jika semuanya baik tentu kamu boleh membawanya ke sini untuk didekatkan dengan ibunya. Tapi ingat, cuma sebentar saja. Bayi prematur harus tetap dalam pengawasan ketat dan ruang NICU lah yang paling ideal serta aman,” jawab Raisa.


*****


Seorang Dokter Anak bersama Raisa mendorong box khusus bayi menuju ruang perawatan Dara. Bayi mungil itu tampak terlelap, tergolek lucu dalam balutan kain lembut nan nyaman yang berpadu dengan selimut khusus agar tetap hangat. Wira menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara pintu dibuka, bibir dan matanya berlumur senyum kala melihat putri kecilnya dibawa masuk.


“Aku datang Papa, Mama,” cicit Raisa sembari mendorong box tersebut ke sisi ranjang Dara.


Wira mendekat, membungkuk dan menatap buah hatinya sedekat mungkin penuh sukacita. “Halo bidadariku,” ucapnya lembut.


Bayi itu menggeliat dan tampak mengerjap meskipun matanya belum terbuka sempurna ketika mendengar suara papanya. Wira merasa begitu takjub, dadanya bergemuruh juga kalbunya bergolak menggelora dihantam jutaan rasa senang yang menghujaninya menyaksikan respons buah hatinya kala ia menyapa.


“Aku ingin menggendongnya,” pinta Wira antusias kepada Raisa.


“Gendonglah. Dekapan orang tua adalah sumber kehangatan terbaik melebihi inkubator.” Raisa terkekeh, menggendong dengan hati-hati dan menyerahkannya ke lengan kokoh Wira.


“Bercengkeramalah dengan keluarga kecilmu untuk melepas rindu. Aku akan menunggu di luar. Kuberi waktu lima belas menit, setelah itu bayimu akan kubawa kembali ke ruang NICU.” Raisa segera berlalu keluar dari sana untuk memberi ruang pribadi kepada Wira.