
Kaki Dara berhenti melangkah ketika melihat kehadiran Ratih dan seorang wanita asing di dalam rumah itu. Ia terdiam terpaku di tempatnya berdiri dengan kaku.
"Tan-Tante, selamat siang," sapa Dara seramah mungkin, walaupun sejujurnya tatapan dingin Ratih kepadanya membuat nyalinya sedikit menciut.
"Siang. Wah... hidupmu enak sekali ya seperti seorang putri, bisa menggunakan fasilitas milik putraku dengan gratis, bahkan ada sopir yang mengantarkanmu pergi kemanapun kau mau," ucapnya sinis.
Dara menjalinkan jari-jemarinya yang tiba-tiba terasa dingin, berusaha tetap tenang dihadapan seorang Ratih. Bu Rina mencuri-curi tatap ke arah Dara, ia mulai kebingungan dengan situasi yang tengah berlangsung.
"Nyonya besar, Nona Michelia, mau minum apa?" tawar Bu Rina berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku. Ia sengaja mengalihkan perhatian Ratih agar tidak terus menerus mengintimidasi nyonya mudanya.
"Kamu, buatkan minuman untukku dan juga Chelia. Anggap saja sebagai bayaran kecil atas fasilitas mewah putraku yang telah kamu nikmati." Tunjuk Ratih kepada Dara.
"Nyonya, itu adalah tugas saya sebagai kepala pelayan, jadi sebaiknya saya saja yang membuatnya." Wanita paruh baya itu mencoba membujuk Ratih meskipun ia tahu perangai nyonya besarnya itu sangatlah keras kepala, tetapi ia juga tidak mungkin membiarkan Dara yang menyiapkannya.
Bu Rina menatap nyonya mudanya kebingungan, beruntungnya Dara langsung dapat menangkap air muka bu Rina yang sedang dalam situasi terdesak dan serba salah.
"Saya akan membuatkannya, tunggu sebentar." Dara tersenyum tulus, meletakkan tasnya dan segera bergegas ke area dapur.
*****
Sudut mata Dara melirik si wanita dengan pakaian kurang bahan yang duduk di sebelah Ratih, sebagai seorang wanita bahkan dirinya merasa malu saat melihat penampilan Michelia yang terbuka di mana-mana.
"Silahkan diminum." Dara duduk berseberangan dan menaruh nampan yang tadi dibawanya dipangkuanya.
Ratih mengambil cangkir tersebut dengan gaya angkuhnya seperti biasa, tetapi saat hendak menyesap tehnya matanya teralihkan pada cincin berlian yang dipakai Dara. Ia terbelalak, dengan cepat tangannya kembali meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja, Ratih bangkit dari duduknya dan mengahampiri Dara kemudian menyambar lengannya dengan kasar.
"Darimana kamu mendapatkan cincin ini hah? atau jangan-jangan kamu mencuri uang putraku untuk membelinya!" Bentaknya kasar.
"Saya ti-tidak mencurinya, ini milik saya Tante." Dara terperanjat kaget diperlakukan seperti itu, ia berusaha melindungi cincinnya dengan mencoba melepaskan tangannya yang ditarik kencang oleh Ratih hingga pergelangannya terasa berdenyut.
Bu Rina yang melihat adegan itu benar-benar kebingungan harus berbuat apa, tetapi karena status pernikahan Wira dan Dara masih belum diberitahukan kepada keluarga Aryasatya membuatnya tidak leluasa untuk membela dan berseru bahwa yang diperlakukan semena-mena oleh Ratih adalah istri dari putranya sendiri.
"Heh anak pungut, jangan bohong kamu! Bahkan jika dengan menjual dirimu seumur hidup, kamu tidak akan mampu membelinya. Cepat buka!" perintahnya. Ratih berusaha untuk mencopot cincin tersebut dengan paksa oleh tangannya sendiri.
"Jangan Tante... jangan, itu benar-benar milik saya," jerit Dara yang mulai gemetaran. Bagaimana tidak, seorang gadis muda berhadapan dengan wanita dewasa yang berkuasa sudah tentu secara impulsif membuat dirinya gemetar dan lemas.