You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 89



"Kenapa belum tidur?" tanya Wira dengan tatapan sejuta rindu.


"Aku sedang mengerjakan tugas kuliahku agar segera selesai, lagipula aku ingin menunggu Mas pulang," sahutnya lembut.


"Jika mengantuk tidurlah lebih dulu, jangan menungguku."


Dara menggelengkan kepalanya. "Rasa kantuk tak kunjung datang jika Mas tidak ada didekatku, sepertinya karena aku terlalu merindukanmu," ujar Dara tersipu-sipu malu lalu menundukkan wajahnya saat mengungkapkan rasa yang tengah bergelung di dalam kalbunya.


Jemari Wira meraih dagu Dara agar wajahnya mendongak kepadanya, ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung bangir Dara dan menggesekkannya lembut.


"Aku lebih tersiksa karena merindukanmu sepanjang hari sayang," desisnya parau dengan napas memburu tepat di depan bibir Dara.


Di detik kemudian ia menanamkan bibir panasnya di kehangatan bibir Dara dan menyesapnya kuat-kuat menyalurkan rasa rindu yang tertahan seharian. Decapan antara dua bibir yang saling mencicipi terdengar nyaring memenuhi seluruh penjuru ruangan, hingga akhirnya Wira melepaskan bibir ranum nan manis itu dari sesapannya saat dirasa stok napas mereka mulai menipis.


Kening mereka menempel satu sama lain dengan napas terengah, Dara masih memejamkan mata meresapi setiap rasa cinta yang Wira curahkan kepadanya.


"Aku ingin memilikimu sekarang juga, tetapi sepertinya yang dibutuhkan tubuhku saat ini adalah mandi," desah Wira.


Dara terkekeh, membuka matanya dan tangannya bergerak membelai sisi wajah tampan suaminya. "Mandilah Mas, kamu terlihat lelah. Sudah makan malam? jika belum akan kuminta para pelayan untuk menyiapkannya.


"Aku sudah makan malam dengan para dewan direksi, hanya saja tak ada satupun hidangan yang membuatku berselera. Sebetulnya aku ingin makan nasi goreng dari restoran favoritmu waktu itu?" Wira menyelipkan untaian rambut Dara kebelakang telinga.


"Restoran favoritku? mak-maksudnya warung tenda yang di pinggir jalan itu?" Dara memicingkan matanya.


"Ya, warung tenda itu. Aku benci mengakui ini, tetapi makanan di sana benar-benar lezat membuat lidahku ketagihan." Wira berdecak kesal.


Dara tertawa renyah dan berjinjit mengecup rahang tegas Wira. "Bukankah sudah pernah kukatakan kalau di sana makanannya memang enak. Akan kupesankan, aku bisa memesan dari aplikasi delivery order di ponselku. Jadi sekarang Mas mandilah, sambil menunggu nasi gorengnya datang."


"Baiklah." Wira mengacak rambut Dara dan segera beranjak ke kamar mandi.


*****


"Tinggal satu lagi yang belum kukupas, tunggu sebentar," ucapnya sambil mengulas senyum.


"Terima kasih sayang."


"Nah, makanlah. Sementara Mas makan aku akan melanjutkan mengerjakan tugasku." Dara menyodorkan piring nasi goreng udang ke hadapan Wira.


"Jangan terlalu lelah, apa perlu kubantu untuk mengerjakannya?" tawar Wira dengan raut wajah cemasnya.


"Aku hanya akan mengerjakan sebagian, separuhnya lagi bisa kukerjakan besok, jadi Mas jangan khawatir. Sekarang makanlah." Wira mengangguk dan menyantap nasi gorengnya dengan lahap, sementara Dara kembali fokus pada laptopnya.


*****


Sudah tiga puluh menit Wira menyelesaikan makannya, sementara Dara masih serius dengan benda kotak dihadapannya. Wira mengerti bahwa saat ini istrinya tengah belajar, tetapi entah kenapa ia bahkan merasa cemburu terhadap laptop tersebut karena mengalihkan perhatian Dara darinya.


Wira yang masih duduk di samping Dara mulai merapatkan tubuhnya, mengendus-endus tengkuk Dara dan menyesapnya meninggalkan jejak, bibirnya berangsur menyusuri leher jenjang itu hingga ia kembali melabuhkan jejaknya di bawah dagu Dara.


"Akhhh... Mas. Jangan di situ, besok aku ke kampus, nanti terlihat jelas," Dara mendesis karena mulai tersulut hasratnya meskipun jari-jemarinya masih menari di atas keyboard.


Wira bukannya berhenti, malah sekarang tangannya juga mulai menyelinap di balik baju Dara menjelajahi tubuh ramping berkulit halus lembut itu dengan deru napas yang mulai berat karena terbebani gejolak gairah.


Dara mematikan laptopnya, mengalungkan lengannya di leher pria itu dan Wira menggendongnya ke ranjang sambil tetap menciumi bibir ranum yang telah menjadi candu baginya.


Akhirnya malam itu kembali diisi dengan kegiatan ranjang, mereka memadu kasih dengan indahnya dalam lingkupan gelapnya sang malam yang memeluk keduanya. Saling memuja satu sama lain, mencurahkan rasa cinta masing-masing dalam gelora yang sama seirama.