
Keributan terjadi sejak dari pintu masuk hingga sampai ke dalam kamar. Para pelayan yang berada di dalam rumah sempat menoleh ke arah sumber suara, tetapi, Bu Rina langsung memberikan isyarat untuk kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
Dara berteriak-teriak seperti diculik oleh orang asing. Ia terus-menerus memberontak, untung saja Wira mengeratkan gendongannya agar gadis itu tidak terjatuh. Sesampainya di kamar, Wira melemparkan tubuh Dara ke atas ranjang besar yang terdapat di sana.
"Arghh," jerit Dara yang terkejut bercampur kesal karena tiba-tiba Wira menjatuhkan tubuhnya tanpa aba-aba.
"Bukannya berterima kasih, kamu malah mencakar leher dan tengkukku, kenapa kukumu tajam sekali seperti kucing liar? Lain kali kendalikan dirimu, aku jadi terlihat seperti penjahat yang menculik gadis muda!" bentaknya.
Napas Wira masih tersengal, ia kelelahan karena saat digendong Dara terus memberontak. Buliran keringat bermanik di dahinya, kemudian tangannya meraba leher dan tengkuknya yang terasa perih bekas cakaran kuku, bahkan rambutnya acak-acakan karena tadi Dara menjambaknya dengan brutal.
"Itu salah Kakak sendiri! Senaknya saja menggendongku, kan aku sudah bilang jangan pedulikan aku, aku bisa mengurus diriku sendiri! seru Dara.
"Baik, itu lebih bagus. Urus dirimu sendiri, jangan membuatku khawatir dan merepotkanku lagi! Cuma aku heran, kamu itu kurus tapi badanmu berat sekali seperti karung beras," ledeknya sambil menyeringai menjengkelkan.
Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Dara kesal, dengan santainya pria itu langsung masuk ke kamar mandi. Dara melemparkan bantal dan juga menendang-nendangkan kedua kakinya ke udara, seakan lupa bahwa kaki yang satunya masih dalam keadaan sakit saking jengkelnya.
"Dasar ngeselin!" teriaknya dengan napas tersengal.
*****
Kamar mandi itu sangat luas, dengan segala kelengkapan kualitas terbaik yang pernah ada. Di desain agar terkesan alami, dengan keramik dinding berwarna kulit kayu, serta bebatuan alam sebagai dekorasi di beberapa sudut kamar mandi.
Wira masih memakai bathrobe, lalu berdiri di depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di depan cermin, terlihat guratan luka dan kesedihan dari sorot matanya yang kesepian. Tangannya terulur mengambil pisau cukur yang terletak di dekat wastafel, saat benda itu hampir mendarat di sisi wajahnya, kenangan manis bersama Almira kembali menyeruak.
Biasanya, saat Wira malas mencukur jambangnya, Almira lah yang melakukannya dengan telaten. Namun, kini kenangan manis itu terasa getir dan perih, karena dihiasi nyanyian pilu serta siraman duka lara.
Wira menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menepis bayangan yang menyesakkan dada, dia mengatur napasnya, menenangkan segala yang berkecamuk dipikirannya, lalu kembali fokus menatap cermin dan menggulirkan pisau cukur itu di wajah tampannya dengan hati-hati.
Selesai mencukur, Wira keluar dari kamar mandi menuju lemari untuk berganti pakaian, saat matanya melihat ke arah tempat tidur, tampaklah Dara yang sudah terlelap di sana. Posisi tidurnya sama sekali tak mencerminkan keanggunan, posenya berantakan dengan sebelah kaki yang menjuntai di sisi ranjang hampir menyentuh lantai.
Wira mengembuskan napasnya kasar, mendekati ranjang dan membetulkan posisi tidur Dara serta menyelimutinya. Gadis itu bergumam-gumam tak jelas, seperti sedang mengunyah sesuatu di dalam mimpinya. Tak disangka pria itu kemudian tersenyum tipis karena merasa lucu melihat Dara yang seperti itu.
Ditatapnya wajah polos yang damai dalam tidurnya, sebelumnya Dara adalah adik iparnya, tetapi karena pemenuhan janji mereka kepada Almira, kini gadis kurus yang terlelap itu telah menjadi istrinya.
Tangannya bergerak hendak membetulkan anak-anak rambut yang menutupi pelipis Dara, tiba-tiba pergerakannya terhenti. Dia menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya, lalu beranjak menuju lemari untuk segera berganti pakaian.