
Wira melihat sekeliling saat sampai di tempat tujuan yang disebutkan Dara, sejak tadi matanya mencari-cari letak restoran yang di maksud, tetapi ia tak menemukannya.
"Benarkah di sekitar sini letaknya?" Wira membuka kaca jendela mobil mewahnya dan melongokkan kepalanya keluar.
"Iya, benar di sini, ayo turun." Dara membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Kemudian berjalan memutar mendekati jendela yang terbuka dekat tempat duduk Wira.
"Kakak cepat turun, aku sudah lapar," rengeknya.
"Iya iya, tunggu sebentar." Wira menutup kaca jendela, turun dari mobilnya dan tak lupa menguncinya.
"Yang mana sih restorannya?" tanyanya penasaran.
"Tuuuh... yang itu." Dara mengarahkan telunjuknya ke tenda penjual nasi goreng di pinggir jalan.
"Itu kamu sebut restoran?" Wira melotot pada Dara.
"Siapa yang bilang restoran, aku tidak mengatakan seperti itu, aku cuma bilang tempat makan yang kuinginkan dan itu di sana. Kalau mau dimaafkan, Kakak harus makan di sini juga, lagipula tadi Kakak sudah berjanji jadi nggak boleh protes!" ucapnya riang sambil memicingkan matanya penuh kepuasan kemudian melenggang berjalan lebih dulu ke warung tenda tersebut meninggalkan Wira yang masih terpaku seolah enggan untuk melangkah.
Mau tak mau Wira akhirnya mengikuti Dara ke warung tenda tersebut, ini adalah pertama kalinya dia datang ke tempat makan di pinggiran jalan seperti ini. Dara yang sudah lebih dulu duduk di sana, melambaikan tangannya dan menepuk-nepuk kursi disampingnya memberi isyarat agar Wira duduk di kursi itu.
Pria tampan dengan tubuh kokoh tinggi menjulang itu menghampiri Dara, kemudian malah tertegun tak kunjung duduk. Ia seolah ragu, matanya memindai meja dan kursi plastik yang ada di sana, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dan berbisik ke telinga Dara.
"Bagaimana kalau kita makan nasi goreng di restoran langgananku saja, di sana sudah terjamin kehigienisannya serta bahan-bahan makanan yang dipakai sudah sesuai standar para ahli gizi." Bisiknya dengan embusan napas panasnya yang malah membuat Dara merinding dan meremang.
Dara menjauhkan telinganya dari wajah Wira dan tangannya mengusap-usap telinganya yang terasa geli.
"Pokoknya aku mau makan di sini! Aku tidak peduli dengan standar ribet yang Kakak sebutkan tadi. Tapi terserah sih, kalau Kakak tidak suka silahkan pergi, dan itu berarti maaf dariku dibatalkan," ucapnya santai.
Dara sebetulnya tertawa puas dalam hati, ia tahu bahwa Wira adalah orang yang gila kebersihan dalam segi apapun, makanya gadis itu sengaja mengajak Wira kesini untuk mengerjainya.
"Mau sampai kapan Kakak berdiri di situ? ayo duduk, orang-orang memperhatikan kita." Dara berbicara pelan tapi dengan nada memaksa.
Wira mengedarkan pandangannya, dan benar saja orang-orang yang juga makan di warung tersebut tengah menatap ke arahnya. Akhirnya ia menguatkan dirinya duduk di sana, walaupun di otaknya terus bergulir tentang kuman dan bakteri apa saja yang hinggap di kursi dan meja tersebut.
"Kakak mau makan apa?" tanya Dara.
"Apa saja, terserah, yang penting cepat," jawabnya sekenanya.
Dara memesan satu porsi nasi goreng udang, karena seingatnya, udang adalah salah satu menu kesukaan Wira. Walaupun ia mengajaknya makan ke tempat yang dibenci pria itu, tetapi setidaknya menu yang dipesannya masih disesuaikan dengan selera Wira. Tanpa diperintah, ternyata dirinya mulai memperhatikan dan mengkhawatirkan Wira, tetapi Dara masih belum menyadari rasa yang mulai tumbuh di hatinya itu.
Wira terus mengedarkan pandangannya merasa tak nyaman, bahkan ia mengendus pakaiannya sendiri yang terkena asap dari proses memasak nasi karena Dara memilih tempat duduk yang berdekatan dengan gerobak nasi goreng tersebut.
Beberapa menit kemudian makanan mereka datang, Dara menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum senang karena menu favoritnya sudah tersaji di depan mata. Wira yang melihatnya ikut tersenyum, ternyata hal kecil seperti inipun sudah bisa membuat mata Dara berbinar bahagia.
Saat Dara melirik piring pesanan milik Wira, ia mengambilnya dan menaruhnya di hadapannya.
"Itu pesananku, kenapa diambil?" protes Wira.
"Sabarlah dulu, aku tadi lupa tidak memberi tahu si bapak penjual untuk mengupas udangnya. Dulu Kakak pernah tersedak ekor udang yang tajam ini kan? akan kukupaskan, tunggu sebentar." Dara mengambil satu persatu udang-udang yang sudah tercampur nasi itu menggunakan sendok, kemudian mengupasnya dengan teliti dan setelah selesai ia menggeser piring itu ke hadapan Wira.
"Makanlah Kak, semua udangnya sudah kukupas."
Dara kembali fokus kepada makanan pesanannya dan langsung melahapnya penuh suka cita, ini adalah makanan kesukaannya, tetapi ia jarang menyantapnya, dulu Almira juga sering melarangnya karena alasan kehigienisan.
Wira tersenyum merekah, mengambil sendok dan tanpa ragu lagi menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya, rasa risih tentang kebersihan tempat pinggiran itu seketika hilang, berganti dengan rasa yang membuncah bahagia di dalam dadanya karena perhatian Dara kepadanya.