You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 37



Dinginnya udara puncak merasuk hingga ke tulang belulang, sesekali Wira menggosok-gosok permukaan tangannya yang mulai menggigil kedinginan. Ia merebahkan tubuh tingginya di sofa ruangan tengah, masih memakai celana panjang hitam serta kemeja putih yang dipakainya saat ijab kabul tadi.


Seperti malam-malam sebelumnya semenjak kepergian Almira, ia kesulitan memejamkan mata dengan benar, rasa kantuk seolah memusuhinya, hingga hanya sesekali menyapa mendatangi dirinya. Di keheningan malam yang semakin larut, rasa menyembilu itu kembali merayap di kalbunya.


Wira mencintai Almira sepenuh hati, setengah mati, tetapi istrinya itu telah membagi hatinya secara tersembunyi. Ia merasa tak rela, ketika cinta tulusnya selama ini ternyata tak berbalas utuh.


Ia menanam benih cinta penuh ketulusan, dipupuk dengan kasih sayang, disiram dengan rindu, dengan harapan berbuah manis. Namun, kini rasa itu telah layu, kering kerontang, tinggalah dirinya berhiaskan sepi, menyulam pilu dan mendulang sendu dengan luka yang berdarah-darah.


Semakin malam tubuhnya makin mengigil, lalu pria itu masuk ke salah satu kamar yang ada diseberang kamar utama bermaksud mencari selimut. Ia melihat ke atas ranjang kecil yang ada di dalam kamar tersebut, tetapi tidak menemukan selimut di sana, kemudian mencoba mencari ke dalam lemari, dan masih tidak menemukannya. Wira menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya kasar, pasti pengurus villa hanya menyiapkan keperluan tidur di kamar utama, sehingga kamar yang lain terabaikan.


Ia beranjak ke kamar utama berdiri ragu di depan pintu yang dibantingnya tadi, menimbang-nimbang untuk mengetuk, tetapi harga dirinya terlalu tinggi. Setelah beberapa saat berpikir, Wira berbalik, melangkah ke arah sofa dan memutuskan untuk tidur berselimut udara dingin saja dari pada harus meminta selimut kepada gadis muda yang telah dibentaknya.


*****


Dara merasakan udara yang menusuk di permukaan kulitnya, menyebabkan dirinya mengigil kedinginan karena tidur di sofa tanpa selimut. Ia terbangun, mengucek matanya yang bengkak dan merasakan tubuhnya tak nyaman karena belum berganti pakaian.


Semua keperluannya sudah tersedia, dan sudah pasti disiapkan oleh pengurus villa, beruntung di samping piyama ada cardigan berbahan wol yang terlipat di sana. Tanpa menunggu lagi langsung dikenakannya cardigan tersebut, membuat tubuhnya terasa begitu hangat dan nyaman ketika bahan wol menyentuh permukaan kulitnya.


Dara merasakan perutnya keroncongan, dia melewatkan makan siang dan juga makan malamnya. Karena pikirannya semrawut, membuat Dara lupa akan kebutuhan tubuhnya yang kini menagih minta di isi.


Gadis itu keluar dari kamar bermaksud mencari makanan atau air hangat untuk mengisi perutnya. Saat melewati ruang tengah, ia melihat Wira berbaring dengan mata terpejam di sofa panjang yang terdapat di sana, sejenak Dara tertegun melihat Wira yang seperti mengigil menahan udara dingin. Sejujurnya ia merasa kasihan, tetapi ketika ingat bagaimana dingin dan sinisnya sikap Wira tadi, gadis itu langsung melengos dan memilih tidak perduli dengan pria yang kini telah menjadi suaminya itu.


Dara pergi ke dapur, membuka lemari penyimpanan dan menemukan sereal instant manis rasa vanilla. Dara menyeduhnya dengan air panas, menghirup aromanya lalu meneguknya perlahan. Rasa manis dan juga wangi vanilla yang menguar, mampu membuat satu senyuman terbit di wajah sembapnya, Dara menghabiskannya hingga tandas dan bergegas kembali menuju kamar utama.


Saat kembali melewati ruang tengah, mau tak mau matanya lagi-lagi menangkap sosok Wira. Pria itu tertidur dengan kening berkerut dalam, sepertinya mimpinya begitu buruk dan menyakitkan. Dara mengembuskan napasnya, walaupun ia kesal dan sakit hati dengan perlakuan Wira, tetapi melihatnya dalam kondisi seperti ini membuatnya merasa iba.


Akhirnya Dara mengambil satu selimut tebal yang terlipat di kamar utama, diselimutinya tubuh tinggi tegap yang mengigil itu dengan perlahan agar tidak membangunkannya. Lalu, ditatapnya wajah Wira yang masih berekspresi seperti tadi, dan secara impulsif jemarinya menyentuh kening Wira yang berkerut.


Namun, tak disangka sentuhannya itu mampu membuat Wira tampak lebih rileks, bahkan sesaat kemudian dengkuran haluspun terdengar. Dara cepat-cepat mengangkat jemarinya saat tersadar tanpa disuruh tangannya seperti bergerak sendiri menyentuh kening Wira. Kemudian dengan tergesa-gesa segera masuk ke kamar utama karena takut pria itu terbangun dan memergoki dirinya.