You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bonchap 2



“Mana Selena?”


“Baru saja terjatuh tidur siang,” sahut Dara yang memasuki kamar utama. Sebuah ruangan di mana menjadi saksi bisu betapa bergeloranya cinta mereka. Selalu membara seperti baru kemarin, tak kunjung padam meski lima tahun telah berlalu.


“Ayo kubantu bercukur. Sesuai janjiku, sebagai imbalan menjaga putri aktif kita.” Dara mengulurkan tangan sembari mengulas senyum paling menawannya yang selalu menyihir dan membuat Wira bertekuk lutut, seolah seluruh hidup Wira memang berada di kaki Dara, si gadis muda yang dulu hanya sebatas adik ipar yang kini menjadi ibu dari anak-anaknya.


“Tapi imbalanku mahal. Bercukur hanya sebagai DP saja dari tarif keseluruhan. Jadi, kapan dan bagaimana Anda akan melunasinya, Nyonya?”


Seperti biasa, Wira memang selalu bersemangat menggoda istri kecilnya yang kini semakin cantik saja. Di usia Dara yang bertambah dewasa, aura wanita anggun juga lembut keibuan yang berpendar darinya menyebar menyilaukan, membuat Wira tak henti memuja mengakibatkan kadar sifat posesifnya bertambah berkali-kali lipat.


“Jadi, Anda ingin cara pelunasan seperti apa, Tuan? Apakah ada tutorial pembayaran selain dengan tunai atau kartu?” Dara balas menggoda dengan duduk di pangkuan Wira. Mengalungkan lengan ke leher suami tampannya yang tengah menengadah menatapnya lekat.


Wira menyubit hidung bangir Dara gemas kemudian beralih mengusap perut buncit istrinya juga mendaratkan kecupan sayang di sana. “Hai twins, Mama kalian makin pandai menggoda, apa kalian yang mengajarinya? Ingatkan Mama, bahwa tehnik merayunya hanya untuk Papa seorang, jika Mama melakukannya pada orang lain, kalian tendang yang kuat untuk memperingatkan. Ingat pesan Papa, oke,” ujarnya di depan perut Dara, membuat si cantik berambut coklat itu tergelak.


“Dasar pencemburu gila. Masih saja tidak berubah. Lagipula siapa yang bakal tertarik pada rayuan wanita yang tengah hamil hampir tujuh bulan, yang ada mereka kabur kocar kacir takut diminta pertanggung jawaban.”


“Siapa bilang? Kalau wanita hamilnya secantik kamu, tidak menutup kemungkinan mereka akan terbius pesonamu. Haish, aku jadi tak rela membiarkanmu pergi bersama teman-temanmu, bagaimana kalau ada yang naksir?” Wira berdecak kesal dengan dengusan di ujungnya.


“Ya ampun, Mas.” Dara terbahak hingga matanya menyipit hingga pundaknya ikut berguncang. Lalu mengecup sekilas bibir cemberut suami pencemburunya. “Tapi sayangnya, aku tak tertarik pada pria manapun selain suamiku yang pencemburu gila ini. Jadi jangan merajuk lagi, aku hanya pergi ke tempat spa, bukan kelab malam.”


Dara memicingkan mata lalu mengulum senyum. Ia sudah sangat paham mengenai cara menenangkan bayi besar yang merajuk ini sebelum ditinggalkan beberapa jam ke depan. Dara menggulirkan telapak tangan selembut suteranya di rahang Wira yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, menggoda di sana dengan sentuhan seringan bulu.


“Baiklah, tapi sebelum itu, Kita bercukur dulu. Jangan sampai karyawan Mas di rumah sakit menggosipkanku sebagai istri yang tak mampu mengurus suaminya. Ayo.”


Dara bangkit dan menarik lengan Wira menuju kamar mandi. Pria bertubuh tinggi tegap itu bersandar di westafel dengan kedua tangan melingkar di pinggang Dara. Sementara Dara berdiri di depannya dan mulai mengoleskan busa pencukur ke seluruh rahang sang suami.


Dengan gerakan lembut namun pasti, Dara menggulirkan pisau cukur yang dipegangnya dengan hati-hati. Menyusuri garis pahatan sempurna prianya yang selalu tampan memesona. Di tengah-tengah acara bercukur Wira terus saja berulah, bahkan sesekali kedua tangannya turun meremas bokong Dara sambil menyeringai jahil.


“Mas, tangannya bisa diem kan? Gimana kalau pisau yang kupegang kepleset?” Dara memukul sisi dada Wira kesal sambil melotot karena tangan suaminya itu kini mulai menyingkap ke bawah baju terusannya dan menggerayanginya.


“Aku percaya kamu takkan melukai wajah tampanku. Teruskan saja mencukurnya, jangan pedulikan tanganku. Anggap saja tidak terjadi apa-apa,” jawabnya santai.


Dara menggelengkan kepala. Dilarang dengan cara apapun takkan mempan, malah biasanya Wira akan menjadi-jadi. Dara berusaha fokus saja mencukur meskipun kini kakinya melemas akibat ulah tangan Wira yang menyusup semakin merajalela.


Bagaimana aku bisa menganggap tak terjadi apapun? Dasar bayi besar! Umpat Dara dalam hati.


****