You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 279



Selepas makan siang, Wira dan Dara berangkat menuju ke tempat ski dengan menggunakan kereta. Jarak tempuhnya diperkirakan sekitar satu jam dari pusat kota Zurich. Transportasi kereta memang paling ideal di negara ini, Wira memilihnya agar sensasi berlibur mereka lebih terasa.


Awalnya semuanya akan ikut pergi, tetapi karena udara di luar berembus lebih dingin dari biasanya, Haris dan Ratih menyarankan agar Selena tak dibawa serta. Akhirnya dua sejoli itu pergi berdua saja sesuai agenda liburan yang memang sudah menjadwalkan hari ini untuk mengunjungi tempat ski.


Sepanjang perjalanan pemandangan yang disuguhkan begitu elok, kereta melewati ladang-ladang anggur, peternakan sapi, juga pedesaan tradisional Swiss dengan bangunan-bangunan yang khas. Deretan hutan pinus yang hijau dan asri juga tak kalah memanjakan mata, lalu ditambah dengan eksotisnya pegunungan Alpen bersalju membuat keindahan negara penghasil susu dan madu terbaik di dunia ini membius para pengunjungnya.


Sesampainya di tempat tujuan Dara semakin terpukau, ini adalah pertama kalinya ia berlibur ke belahan benua lain. Tenyata dunia begitu luas, apalagi saat hamparan salju putih membentang luas sejauh mata memandang. Berbeda dengan Wira yang sudah sering datang ke tempat ini, ia hanya mengulum senyum penuh pemakluman menyaksikan ekspresi Dara yang seakan terhipnotis pesona Swiss.


“Mau mencoba?” Wira membawakan dua pasang peralatan seluncur yang disediakan pengurus setempat.


Dara menggeleng dengan senyuman merekah. “Mas aja, aku nggak bisa main ski.”


“Nanti kuajari.”


“Takut ah,” tolaknya. “Aku liatin aja.”


“Aku ingin bermain dengan istriku,” ujarnya merajuk.


“Aku beneran takut. Bukannya Mas sangat rindu bermain ski? Aku ingin melihat aksi suamiku,” bujuk Dara menggoda.


“Baiklah, nikmatilah aksi suamimu ini sayang. Perhatikan baik-baik. Karena nanti aku akan tetap menyeretmu bermain,” ujarnya terkekeh.


Dara duduk manis, dengan antusias menyaksikan Wira yang meluncur dengan ahli, melihat suaminya yang seperti ini membuatnya semakin jatuh cinta. Wira memang sungguh memesona, memikirkan bagaimana cara Wira mencintainya selalu mampu membuatnya merona-rona.


Setelah puas bermain sendiri. Wira menyeret Dara untuk ikut bermain. Meskipun sempat menolak akhirnya Dara penasaran juga bagaimana rasanya. Dengan sabar dibimbingnya Dara yang baru pertama kali memijakkan kaki di tanah bersalju, mereka benar-benar menikmati momen berdua ini, walaupun akhirnya Dara menyerah setelah beberapa kali terjatuh.


Sore harinya mereka menikmati sajian teh dengan kudapan di restoran yang terletak di resort sekitar tempat ski sambil menyaksikan festival balon udara musim dingin. Berbagai macam balon berwarna warni menghiasi udara, begitu cantik dan meriah, perpaduan sempurna berbagai macam warna dengan indahnya hamparan putih salju.



Akhirnya Wira memutuskan untuk menginap di resort tersebut karena jika dipaksakan kembali melewati jalur lain khawatir terjadi hal yang tak diinginkan. Dara sempat resah, cemas takut Selena rewel.


Wira mengabari kedua orang tuanya tentang situasi yang menjebaknya, saat bertanya mengenai buah hatinya, Ratih mengatakan bahwa Selena tak rewel sama sekali, bahkan suara Selena yang bergumam-gumam ikut terdengar. Dara tampak lebih lega setelah mendengar suara putrinya, beruntung stok ASI perah cukup banyak, sampai besok siang sepertinya masih cukup.


Dara masuk ke kamar terlebih dahulu sementara Wira masih berbincang dengan orang-orang setempat di restoran selepas makan malam. Melucuti pakaiannya dan berendam air hangat sejenak, terpaan udara dingin membuat tubuhnya terasa pegal. Setelah selesai Dara hanya mengenakan bathrobe yang tersedia, karena pakaiannya yang sempat terkena salju tadi basah di beberapa bagian.


Dara menaikkan suhu pemanas di kamar tersebut. Dia sedikit meggigil karena udara di luar memang sangatlah dingin bertepatan dengan Wira yang memasuki kamar.


“Kamu kedinginan?” tanya Wira.


“Iya Mas. Dingin banget.” Dara segera beranjak naik ke atas ranjang dan menggulung dirinya dengan selimut.


“Nanti kupesankan minuman hangat setelah membersihkan diri.”


Dara mengangguk cepat dan kembali menenggelamkan dirinya di selimut tebal tersebut.


Pakaian Wira juga sama-sama basah di beberapa bagian, jadi hanya bathrobe yang dipakainya saat ini. Dia memanggil layanan dry clean untuk membersihkan pakaiannya juga Dara agar bisa digunakan lagi besok pagi.


Wira duduk ditepian ranjang kemudian teringat hendak memesankan minuman hangat untuk Dara. Saat bermaksud mengambil gagang telepon, tangan Dara menahannya.


Dara membuka selimutnya perlahan yang ternyata tubuhnya sudah tak terbalut sehelai benang pun di balik selimut. “Aku tak membutuhkan minuman hangat, aku butuh Mas untuk menghangatkanku. Bukankah kita bisa saling menghangatkan?” ucapnya seraya menggigit bibirnya menggoda.


Mata Wira menggelap oleh gairah melihat sajian yang selalu menyihirnya di depan mata. Tanpa basi lagi dia masuk bergabung ke dalam selimut. Menerjang tubuh memabukkan istrinya, saling memberi kehangatan satu sama lain dalam luapan panas bergelora.


*****


Note: source pic by pinterest