You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 203



Beban berat yang menggelayutinya perlahan luruh melepaskan cengkeramannya,


belenggu itu telah menyerah mengurai rantainya sendiri. Luapan berbagai macam rasa antara, lega, masih tak percaya, serta rasa syukur berkecamuk menjadi satu di dadanya.


Wira menginjak pedal gasnya semakin mantap dan percaya diri. Ia tetap mengemudi dengan kecepatan rendah, meskipun inginnya melaju lebih cepat efek dari rasa bahagia yang meluap-luap seakan terasa nyaris meledak. Separuh hatinya yang sempat diselimuti bayangan kelam, kini menghangat dan benderang seutuhnya.


Hingga sampailah dia di tempat sang cahaya hatinya menanti, terlihat di sana si binar indah penentram jiwanya tengah berdiri membelakangi datangnya dirinya. Wira memarkirkan mobilnya sembarang, ia segera turun sampai melupakan payung saking gembiranya padahal hujan sedang mengguyur dengan derasnya.


"Sayang," panggilnya.


Dara membalikkan badannya dan rambut panjangnya ikut berkibar indah. Wajah cantiknya tampak dipenuhi rasa cemas yang kental menyeruak, tanpa memperdulikan air langit yang tengah tumpah ia melangkah secepat mungkin meski terseok-seok.


Wira yang melihat Dara melangkah seperti tak bertenaga segera berlari lebih dulu mendekati, ia merengkuh istri tercinta di bawah belaian mesra air hujan. Si cantik berambut coklat itu memeluk prianya dengan erat, menumpahkan sesak di dada akibat dari rasa khawatir yang tadi menyiksanya tanpa belas kasihan.


"Kenapa... kenapa Mas nekat begini. Aku sangat takut, aku takut... hiks hiks." Isakan tertahan mulai terdengar.


Wira tersenyum simpul, ia paham jika Dara didera rasa cemas. Ia membelai rambut panjang istrinya yang mulai basah karena air hujan, mengurai pelukan dan menatap penuh cinta.


"Maafkan aku, sayang. Tapi aku bisa sampai di sini sekarang, itu artinya aku berhasil melawan rasa takutku bukan?" Wira berucap dengan nada gembira disertai sorot mata yang berbinar bahagia.


Dara yang masih dalam isak tangisnya, mengulurkan tangan dan menangkup kedua sisi wajah tampan suaminya. "Mas, berhasil?"


"Syukurlah... syukurlah. Aku tahu Mas pasti bisa," gumamnya dengan suara gemetar penuh haru. Kedua sudut bibir Dara tertarik ke atas menciptakan lukisan indah di wajah cantiknya walaupun kristal bening masih berderai dari netranya yang berkilauan.


"Aku harus kuat bukan? seperti katamu, demi aku, kamu dan si kecil di dalam sana." Jemari Wira bergulir menyapu air mata Dara.


"Ra, Kak Wira. Ada apa ini? kenapa kalian hujan-hujanan," seru Freya yang baru saja kembali setelah membeli segelas kopi hangat dari kantin bersama Anggi. Keduanya terkejut kemudian segera menghampiri, Anggi mengambil satu payung lagi dari dalam tasnya untuk memayungi Dara dan Wira.


"Ah... kami nggak apa-apa kok. Cuma lagi pengen hujan-hujanan aja," jawab Dara sembari tersenyum.


Kedua sahabatnya tidak tahu menahu tentang kondisi Wira yang sebenarnya, sebagai seorang istri Dara tak ingin sisi lemah suaminya diketahui banyak orang. Seperti pepatah mengatakan, bahwa suami dan istri ibarat pakaian satu sama lain, harus bisa saling melindungi dan menutupi kekurangan masing-masing.


"Dasar, kayak anak SD aja! Aku khawatir kamu sakit," dengus Freya kesal dan cemas.


Wira baru tersadar setelah mendengar ucapan Freya, saking bahagianya ia melupakan bahwa air hujan mengguyur keduanya sejak tadi.


"Frey, Anggi. Kami pamit pulang duluan, Dara harus segera berganti pakaian supaya nggak masuk angin. Ayo sayang," ajak Wira kepada Dara.


"Dah Freya, Anggi." Dara melambaikan tangannya.


"Hati-hati di jalan ya." Seru kedua sahabatnya itu.