You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 28



Air matanya menganak sungai makin deras mengalir di wajah cantiknya.


"Aku masih mencintaimu, tapi semuanya harus kuhentikan, karena kini rasaku padamu adalah hal yang salah. Jangan mencintaiku lagi, itu hanya akan membuat kita semakin terluka," ucap Almira terbata.


"Hatiku milikku, tentang rasaku padamu biarlah hanya aku yang memutuskan untuk berhenti atau tidak. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu, jika kamu berbahagia dengan suamimu aku turut bahagia juga. Tapi, bolehkah untuk yang terakhir kalinya aku memelukmu lagi Al, sebagai salam perpisahan." Giovani tersenyum getir.


Almira menatap nanar kepada pria yang pertama kali membuatnya mengenal tentang rasa manis dan getirnya cinta, ia kembali mengangguk pelan tanda mengizinkan.


Giovani meraup Almira ke dalam pelukannya, mendekapnya sekuat tenaga, menghirup dalam-dalam aroma manis dari wanita yang selalu menawan hatinya. Almira membalas rangkulan pria itu sama eratnya, menumpahkan rasa rindu, rasa bersalah, dan juga rasa cinta yang berhiaskan luka diluapkannya di dada Giovani diiringi balutan air mata.


Tanpa keduanya sadari, sejak tadi ada orang lain yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu. Auranya tampak menggelap, matanya berkilat penuh amarah, mendengar istri yang dicintainya setengah mati masih menyimpan rasa untuk pria lain.


Wira mengatur napasnya dengan dada yang tersengal naik turun, dirinya dilanda kecemburuan yang meluap-luap, dan tak berlama-lama lagi didorongnya pintu yang sudah sedikit terbuka itu dengan kencang.


Brak!


Saat pintu terbuka sempurna, dilihatnya sang istri yang tengah berpelukan penuh haru dengan pria lain. Giovani dan Almira seketika melepaskan pelukan masing-masing, mereka terkejut dengan suara pintu yang dibanting sekuat tenaga, terutama Almira.


Jiwa dan raga Wira sungguh tak bisa menerima semua ini, seperti ada godam tak kasat mata yang menghantamnya tanpa ampun.


"Almira!" Teriak Wira lantang menggema di ruangan itu.


"Mas...." Almira tergagap dilanda keterkejutan yang amat sangat.


"Aku sungguh kecewa padamu!" Wira berbalik badan, melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari sana, wajahnya dipenuhi amarah yang meliputinya.


Giovani yang juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi ikut menyusul mengekori Almira.


Wira terus melangkah tanpa menghiraukan teriakan Almira di belakangnya, ia bahkan berjalan hingga keluar gedung rumah sakit padahal cuaca diluar sedang turun hujan. Pria itu seolah tak perduli, tetap menerobos guyuran air yang turun dengan derasnya hingga membuatnya basah kuyup. Ia menyebrang jalan melangkah tak tentu arah, beruntung lampu lalu lintas sedang berwarna merah.


Almira yang berlari mengejarnya tidak memperhatikan sekitar, kakinya terus melangkah, tak menghiraukan lampu tiga warna itu yang sudah berubah ke warna hijau.


Kendaraan mulai melaju, tetapi Almira tidak menghentikan langkahnya, matanya terus fokus pada Wira yang sudah berada di seberang jalan makin menjauh darinya. Wanita itu tidak menyadari ada truk yang melaju kencang ke arahnya, Giovani yang berjalan mengekorinya berlari secepat yang ia bisa sambil berteriak memperingatkan Almira.


"Al... awas!"


Giovani berhasil menyusul Almira dan menyambar tubuhnya bermaksud untuk menariknya menjauh dari jalanan, namun naas, semuanya terlambat. Kondisi jalanan yang licin membuat kecelakaan tak terelakkan, keduanya tertabrak truk yang melaju kencang itu hingga terpelanting beberapa meter jauhnya.


"BRUGH!" Cekiiiiiit....


Keributan terjadi di jalanan, banyak kendaraan yang langsung berhenti mendadak karena adanya kecelakaan. Wira berhenti dan menolehkan kepalanya karena suara gaduh yang tiba-tiba terjadi di belakangnya.


Dia terkejut, melihat dua orang tergeletak di aspal bersimbah darah di bawah guyuran air hujan. Orang-orang mulai berkerumun, dari seberang jalan ia memastikan penglihatannya, mengusap wajahnya yang basah.


Wira terkesiap, jantungnya berdegup memukul rongga dadanya dengan kencang, dirinya sangat mengenali pakaian wanita yang terkapar itu, di detik berikutnya ia berlari menghampiri dan merangsek membelah orang-orang yang tengah berkerumun.


Ia bersimpuh, Giovani meninggal di tempat seketika dengan posisi memeluk Almira. Orang-orang segera membopong jasad Giovani. Sementara Wira meraup istri tercintanya ke dalam pangkuannya, jas putihnya kini berlumuran darah disertai cucuran air hujan, pria itu menangis dan berteriak seperti orang gila sambil berlari ke dalam gedung rumah sakit membawa Almira dipangkuannya.