You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 209



Dara semakin mengeratkan genggamannya di lengan Wira, berusaha membuang jauh-jauh semua kegugupan dan menyunggingkan senyuman terbaiknya begitu mereka memasuki area pesta.


Para hadirin menyambut dengan decak kagum ketika melihat kemunculan mereka. Mempelai pria memang sudah tak diragukan lagi akan kerupawanannya, pesonanya telah banyak menyihir membuat para wanita tergila-gila dan memuja penuh minat. Akan tetapi sosok cantik di sampingnya juga tak kalah mencuri perhatian. Aura polos, murni, sekaligus rona bijak, berpadu menjadi satu. Menguar memancar menyilaukan di usianya yang terbilang masih begitu muda.


Mereka berdua duduk di tempat spesial yang telah disediakan dengan tangan yang terus saling menggenggam. Rona bahagia dari pemilik pesta menular kepada semua yang tampak hadir.


Acara pertama adalah sambutan dari Haris selaku ayah dari Wira. Beliau menuturkan semua kebahagiaan penuh rasa syukur yang membalut setiap kalimatnya, do'a dan harapan terbaik beliau panjatkan untuk masa depan putra dan menantunya, dan juga untuk sang cucu tercinta yang sedang dalam kandungan. Tak lupa juga ungkapan terima kasih kepada semua tamu yang telah datang memenuhi undangan.


Ucapan selamat dan do'a terbaik untuk kedua mempelai, juga ikut mengalir dari semua hadirin. Dara yang sesaat sempat meragu karena takut tak bisa membawa diri, kini merasa lebih baik dan mampu mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.


MC kemudian beranjak pada acara selanjutnya, mendekati podium dan


mempersilakan raja pada malam hari ini untuk memberikan kata sambutan barang sepatah dua patah kata.


"Saya ucapkan terima kasih kepada semua hadirin yang telah meluangkan waktu untuk memenuhi undangan kami. Rasa syukur tak henti dipanjatkan kepada Tuhan, yang telah memberikan begitu banyak berkah yang tak terhitung jumlahnya pada saya dan keluarga. Terima kasih kepada kedua orang tua saya terkasih, yang selalu mendukung dalam setiap kesempatan." Wira menjeda sejenak ucapannya dan matanya menatap berlumur senyuman kepada Haris dan juga Ratih.


"Dan, ungkapan syukur yang tak terhingga kepada pendamping hidup saya tercinta, yang selalu menjadi penghibur di kala suka dan duka. Tak pernah bosan menemani di saat terpuruk dan di saat lapang, terima kasih karena telah sudi menjadi cahaya di kegelapan yang menyelimuti dada."


Wira menyudahi pidato singkatnya, menaruh mikropon yang dipegangnya dan mengulurkan tangannya mengajak Dara untuk berdiri. Mereka saling berhadapan, pantulan dan gelenyar cinta dari keduanya menguar memenuhi seisi ruangan.


"Terima kasih karena telah bersedia menjadi istriku, Anandara...." Wira mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Dara dengan perasaan yang teramat dalam, disambut riuhnya tepukan tangan para tamu yang juga ikut larut dalam suasana haru.


Dara tak mampu berkata-kata, seluruh sudut hatinya menghangat penuh sukacita. Kedua bola matanya yang berkilauan mulai berkaca-kaca, menahan air mata haru yang tengah mencuri kesempatan untuk merebak di netra indahnya. Rasa bahagia yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata melingkupinya, tatkala telinga mendengar semua ungkapan sang suami tercinta untuknya, merasa dirinya begitu berharga dan diinginkan.


Kemudian tanpa Dara ketahui sebelumnya, Wira sudah menyiapkan sebuah video pada hari di mana mereka sah menjadi pasangan suami istri, rekaman detik-detik saat ijab kabul sewaktu di puncak beserta foto surat nikah keduanya di putar terpampang di hadapan semua hadirin.


Penghulu yang menikahkan mereka juga turut hadir untuk menguatkan bukti mengenai telah berlangsungnya ikatan sah itu beberapa waktu yang lalu, Wira tak mau ada selentingan tak sedap di pendengaran nantinya, tak ingin sang istri yang kini tengah mengandung buah hati berharganya dipergunjingankan dengan gosip murahan.


"Mas, menyiapkan semua ini?" Dara menatap Wira penuh tanya dengan senyuman yang tak surut menghiasi wajah cantiknya.


"Ya, beruntung Fatih waktu itu merekamnya menggunakan ponsel sebagai kenangan-kenangan yang awalnya kuabaikan. Maafkan aku yang bersikap egois kala itu, andai saja waktu dapat kuputar kembali," desahnya penuh sesal dengan suara pelan.


"Hei, bukankah setiap orang mempunyai kisah perjalanan hidup yang berbeda-beda? yang terpenting sekarang kita semua menyongsong masa depan yang bahagia. Aku, Mas, anak kita, juga Ayah dan Ibu."


Wira mengangguk dengan senyuman bahagia bercampur haru menjadi satu. Kemudian intro musik sebuah lagu mulai dialunkan iringan orkestra.


"Sebuah lagu, ungkapan hati terdalam dari raja pesta pada malam hari ini yang dipersembahkan spesial hanya untuk sang istri tercinta. Because you loved me," ucap si penyanyi sebelum melantunkan lagunya.


For all the truth that you made me see


For all the joy you brought to my life


For all the wrong that you made right


For every dream you made come true


For all the love I found in you


I'll be forever thankful, baby


You're the one who held me up


Never let me fall


You're the one who saw me through through it all


You were my strength when I was weak


You were my voice when I couldn't speak


You were my eyes when I couldn't see


You saw the best there was in me


Lifted me up when I couldn't reach


You gave me faith 'cause you believed


I'm everything I am


Because you loved me