You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 33



Semenjak kepergian Almira, Wira mengurung diri di kamarnya, bahkan makanan pun diantarkan para pelayan ke kamar tersebut. Setiap kali mereka hendak mengambil piring kosong, makanan yang tersaji begitu banyaknya hanya berkurang satu sendok saja.


Haris hampir setiap hari menghubungi kepala pelayan di rumah itu untuk menanyakan kabar putranya. Beliau sangat khawatir, walaupun ingin sekali berkunjung, tetapi dia tahu yang Wira butuhkan saat ini adalah menenangkan diri.


Sedangkan Dara walaupun masih sangat terpukul, sedih dan rapuh, mencoba untuk tetap kuat. Dia tidak mau menjadi wanita lemah, apalagi sekarang sandaran hidup satu-satunya sudah pergi meninggalkannya.


Setiap waktunya makan datang, Dara hanya duduk sendiri di meja makan. Dia selalu berusaha menelan makanan yang dikunyahnya meskipun sulit, Dara bertekad untuk menjadi manusia tegar karena untuk tetap kuat menghadapi kenyataan tubuhnya butuh tenaga.


Walaupun tak jarang, ditengah-tengah kegiatan makannya air matanya menjebol pertahanannya tanpa permisi, tangannya mengepal menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit dan sesak.


"Aku harus kuat, aku harus kuat." Itulah kalimat yang Dara rapalkan setiap kali kesedihan itu menyeruak ke permukaan.


*****


Sudah tiga puluh hari dan ini adalah pertama kalinya Wira keluar lagi dari kamarnya. Pria tampan itu tampak berantakan, wajahnya tirus dan kurus, matanya sembap berkantung, serta jambangnya yang sudah tumbuh tak beraturan karena dia tak mencukurnya dengan rutin seperti biasanya.


Wira mengetuk pintu kamar Dara dan tak lama pintu itu terbuka menampakan sosok gadis kurus berkulit pucat itu di hadapannya.


"Ada apa Kak?" tanya Dara.


"Bersiap-siaplah, tiga puluh menit lagi kita akan berangkat ke villaku di puncak," titah Wira.


"Ke puncak, untuk apa? apakah kakak berencana untuk berlibur sedangkan kita masih dalam suasana berduka?" serunya sengit dengan nada mencela.


"Ada hal penting yang harus kita lakukan, nanti kujelaskan di sana. Aku akan menunggu di mobil, jadi bergegaslah!" perintahnya dengan ekspresi datar dan dingin. Wira berbalik badan dan meninggalkan Dara yang masih termenung di ambang pintu.


Terdengar klakson mobil dibunyikan begitu nyaring membuat Dara yang sedang melamun kembali tersadar, ia segera meraih tas cangklong dan jaketnya tanpa membawa apapun lagi dan berlari kecil menuruni tangga.


Dara dibuat keheranan saat hendak masuk ke dalam mobil, apakah kakak iparnya ini benar-benar berencana untuk berlibur? Di dalamnya sudah ada bu Rina kepala pelayan rumah dan juga Fatih si asisten Wira di rumah sakit.


Mereka mempersilahkan Dara untuk duduk di kursi tengah penumpang, sementara pak Jono duduk di depan memegang kemudi dengan Wira disebelahnya. Gadis itu memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang saja, dan sepanjang perjalanan hanya ada keheningan serta suara deru mesin mobil yang membelah jalanan.


*****


Siang hari mereka sudah sampai di tempat tujuan, perjalanan lancar tanpa ada aral melintang seperti kemacetan ataupun kendala pada kendaraan. Mobil yang mereka tumpangi tumpangi memasuki area parkir sebuah villa yang berdekatan dengan tempat wisata terkenal di puncak. Sebuah bangunan sederhana namun asri, bercat putih dengan berbagai jenis tanaman hijau mendominasi di seluruh halaman, membuat suasana sejuk dan segar langsung menyapa ketika pintu mobil terbuka.


Karena kepergian Almira yang terlalu tiba-tiba membuat Dara terus menerus merasakan sesak yang menghimpit jantungnya. Tetapi, setelah menghirup udara segar puncak dia merasakan suasana hatinya sedikit lebih lega.


Mereka semua masuk ke dalam, di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul seperti hendak melangsungkan sebuah acara walaupun persiapannya terlihat sederhana, Dara masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini, ia berdiri membeku di ambang pintu enggan untuk masuk.


Mata Dara menangkap Wira yang sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita berusia kira-kira empat puluh tahunan, kemudian si wanita itu menghampirinya.


"Jadi ini ya calonnya? ayo ikut saya Non, kita harus bersegera karena satu jam lagi acara akan dimulai," ucap wanita itu sambil menarik pergelangan tangan Dara.


"Eh, tunggu-tunggu, memangnya ada acara apa? dan apa maksudnya aku harus bersiap-siap?" tanya Dara yang mengerutkan keningnya penuh tanya.


"Hari ini kita akan menikah menunaikan permintaan Almira, jadi cepatlah bersiap!" ucap Wira datar sambil berlalu dan tak menoleh lagi.