You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 81



Wira duduk di dalam bathtub dengan Dara di pangkuannya, Dara menyandarkan dirinya di dada bidang suaminya dan hampir kembali terlelap di sana. Wira segera membersihkan tubuh ramping itu dan juga tubuhnya, walaupun sebenarnya ia malah kembali berhasrat saat melihat tubuh mulus Dara dengan jejak bibirnya di sekitar leher dan dada.


Ia juga tak mengerti dengan reaksi tubuhnya saat bersentuhan kulit dengan Dara, kadar kemesumannya meningkat drastis di atas rata-rata, Dara serupa candu yang membuatnya terus ketagihan.


Tetapi ia tak mungkin kembali mendesakkan dirinya walaupun ingin, karena Dara butuh beristirahat setelah bercinta hampir menghabiskan waktu setengah hari. Ia mengeringkan tubuh Dara yang sudah terkantuk-kantuk, memakaikan bathrobe lalu kembali menggendongnya ke kamar dan membaringkannya di ranjang.


"Tidurlah sayang," ucap Wira kemudian sedikit membungkuk dan mengecup kening Dara cukup lama.


Tak butuh waktu lama, Dara langsung tenggelam dalam tidur lelapnya karena tubuhnya sangat-sangat lelah. Wira mengganti handuk mandi yang dipakainya dengan pakaian santai dan keluar dari kamar menuju area dapur.


"Bu Rina, untuk makan malam kali ini tolong buatkan juga sup tulang sapi ginseng sebagai tambahan menu," perintahnya kepada Bu Rina.


"Baik Tuan. Maaf Tuan, tadi siang nak Fatih datang membawakan berkas yang Anda minta, saya menaruhnya di meja ruang tengah," ucap Bu Rina.


"Terima kasih Bu. Oh iya, untuk makan malam nanti tunggu perintah dariku kapan menyajikannya karena saat ini Dara masih tertidur, setelah dia bangun barulah sajikan hidangannya selagi hangat."


"Baik Tuan." Bu Rina mengangguk sopan.


Wira meninggalkan area dapur dan menuju ruang tengah untuk mengambil berkas yang diantarkan Fatih. Ia membawanya ke dalam kamar dan masuk ke ruang kerja pribadinya yang terhubung langsung dari kamar utama.


Sedangkan di area dapur para pelayan saling berbisik-bisik sambil cekikikan, karena semenjak menikah dengan Dara baru kali ini tuannya terlihat begitu sumringah, sudah sejak lama senyuman semacam itu sirna dan sekarang terbit kembali menghiasi wajah tampannya.


Pasti hal baik telah terjadi di antara pasangan itu, ditambah Wira yang memerintahkan untuk membuatkan sup ginseng penambah stamina sudah pasti terkaan yang memenuhi kepala mereka benar adanya.


*****


Rasa lapar yang menderanya membuat Dara terbangun dari tidurnya, dilihatnya waktu menunjukkan pukul tujuh malam, ia bangkit dan turun dari tempat tidur masih dengan tubuh yang terasa lemas. Dara mengedarkan pandangannya dan melihat pintu ruang kerja yang terbuka, ia melangkahkan kakinya terseok-seok ke dalam sana dan mendapati Wira yang tengah serius dengan setumpuk kertas dihadapannya.


"Hai sayang, kenapa sudah bangun? bukankah kamu baru tidur satu jam yang lalu?" tanyanya.


Dara menghampiri dan menyela masuk diantara meja dan kursi kerja itu kemudian duduk di pangkuan Wira. Ia mengalungkan lengannya ke leher Wira dan menyandarkan dirinya dengan manja lalu kembali memejamkan mata.


"Baru saja. Mas, aku lapar," rengeknya.


Wira mengecup puncak kepala Dara lalu memeluk tubuh ramping yang ada di pangkuannya itu.


"Kamu ingin makan di kamar atau di ruang makan?" tanyanya.


"Di ruang makan saja, aku ingin makan sekarang juga, bahkan sandal yang kupakai terlihat lezat saat ini." Dara mengangkat sebelah kakinya dan menunjukkan sandal empuknya yang bermotif pelangi, mirip seperti kue bolu yang berwarna warni.


"Ahahaha... baiklah, ayo kita ke ruang makan sekarang."


Wira menghela Dara ke dalam rangkulannya dan keluar dari sana menuju ruang makan. Ia meminta para pelayan segera menyajikan seluruh menu makan malam lengkap dengan sup tulang sapi ginseng yang di mintanya tadi.


Dara menyantap makanannya seperti orang kesurupan, dia benar-benar lapar saat ini. Kegiatan bercintanya yang terus menerus sungguh menguras energinya. Bahkan Wira menghentikan makannya ketika melihat cara makan Dara yang serampangan, ia khawatir istrinya itu tersedak.


"Makannya pelan-pelan saja, tidak akan ada yang mencuri makananmu," ucap Wira yang duduk di samping Dara menatapnya dengan khawatir.


"Aku laper banget Mas, jangan mengajakku berbicara, aku sedang fokus dengan makananku," sahutnya dengan mulut penuh makanan dan mengunyah dengan semangat membuat Wira tertawa renyah.


"Baiklah, makanlah sayang," ujarnya lembut penuh pemakluman, kemudian ia pun kembali melanjutkan menyantap makanan yang tersaji di dalam piringnya.