
"Ra, kenapa akhir-akhir ini kamu suka banget pake baju turtleneck? terus dagumu juga sering banget terantuk meja. Kalo udah ngantuk harusnya jangan dipaksain terus-menerus di depan laptop, dagumu jadi memar dan memerah kan. Pasti sakit," ucap Freya di sela-sela istirahat kampus siang itu.
"Aku... aku cuma lagi suka aja dengan style ini. Tenang aja, daguku gak sakit kok ahahaha." Dara terawa kikuk, seingatnya tadi pagi dia sudah membubuhkan foundation di bekas cap perusahaan pribadinya itu, tetapi mungkin karena hari semakin siang maka efek coverage dari alas bedaknya mulai memudar.
"Mmm... emang kelihatan banget ya?" Dara bertanya kepada dua sahabatnya sambil memeriksa dagunya di hadapan cermin kecil yang selalu dibawanya di dalam tas.
"Nggak juga sih, cuma kalau dilihat dari dekat ya lumayan nampak walaupun samar." Anggi menimpali.
"Eh tapi Ra, aku perhatikan makin hari lingkar dadamu semakin besar deh, kamu gak pake sumpalan kaos kaki lagi kan?" Anggi melirik ke arah dada Dara, kemudian meraba buah dadanya sendiri.
"Eyy... ngaco kamu! Aku memakai sumpalan laknat hanya waktu itu saja." Dara bersungut-sungut.
Tentu saja buah dada Dara bertambah besar ukurannya. Bagaimana tidak, Wira selalu mengolahnya setiap malam tanpa terlewat dan berkat rutinitas tersebut kini lingkar dadanya banyak berubah dari sebelumnya. Dara menggigit bibirnya dan merasakan wajahnya memanas saat mengingat bahwa semua itu adalah efek dari ulah tangan suaminya.
"Terus aku juga ngerasa badanmu lebih berisi, body kurusmu jadi seksi sekarang. Bagi rahasianya dong, biar badan seksi dan lingkar dada bertambah," cecar Anggi kembali.
"Ahahaha... gak ada resep apapun, mungkin karena akhir-akhir ini nafsu makanku bertambah jadi berefek kayak gini," jawabnya asal.
"Apa benar cuma dengan banyak makan? mungkinkah aku harus mencobanya juga," gumam Anggi kepada dirinya sendiri.
"Ra, pulang kampus kita nonton yuk, udah lama banget gak hang out bareng. Hampir dua bulan terakhir ini kamu jarang ngumpul bareng kita lagi, mumpung hari ini jam perkuliahan selesai lebih awal," usul Freya.
Dara tampak berpikir sejenak, apa yang dikatakan Freya memang benar adanya. Semenjak pulang dari acara outbound itu Dara sudah tidak pernah lagi berkumpul nongkrong di cafe ataupun sekedar menonton film menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya. Di kepala dan hatinya selalu dipenuhi oleh Wira, membuatnya ingin segera pulang ke rumah setiap kali pembelajaran kuliahnya usai.
"Mmm... gimana ya," Dara tampak menimbang-nimbang.
"Sembarangan, mana ada! Hanya saja akhir-akhir ini tubuhku terasa lebih cepat lelah, jadi aku sering langsung pulang agar bisa segera beristirahat, dan juga aku nggak enak sama yang punya rumah kalau pulang terlambat," jelas Dara. Padahal memang benar jika dia mempunyai bayi sekarang, hanya saja bayinya besar.
"Ya udah kalo gitu, hari ini kita main bareng ya, please," pinta Anggi memaksa.
"Baiklah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya." Dara memperingatkan.
"Oke... paling kita pulang tengah malam," goda Freya yang kemudian tergelak kencang.
"Ishh... Freyaaaa... aku serius!" Dara mengerucutkan bibirnya kesal.
"Baik Nona, cepat selesaikan tugas kalian supaya kita bisa segera berangkat," ajak Freya. Dara dan Anggi mengangguk kemudian mengikuti langkah Freya kembali ke kelas.
*****
Author note
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa like, komentar, rate bintang lima, serta vote seikhlasnya, dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
With Love,
Senjahari_ID24