You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 169



Pukul tujuh malam dua sejoli yang sejak tadi berjalan saling bergandengan tangan dengan mesra itu kini sudah berada di depan pintu kamar perawatan Ratih. Pintu sebuah ruangan perawatan VVIP dengan segala fasilitas terbaik di dalamnya.


Dara menatap Wira sekilas. Mengeratkan pegangannya di lengan kokoh yang terbentuk pas sempurna lengkap dengan urat nadi yang sedikit menyembul ke permukaan, membuat lengan kekar itu tampak semakin seksi dan sudah pasti membuat para kaum hawa berdesir melihatnya berharap bergelayut manja juga di sana.


Dara kemudian menghirup napas dalam-dalam, mendorong pintu bersama sang suami dan melangkah masuk dengan mantap. Haris menoleh ke arah datangnya suara ketika deritan dari pintu kamar yang dibuka mengalihkan perhatiannya. Tampaklah di sana anak dan menantunya yang datang sambil membawa paper bag yang sudah pasti berisi makanan yang dimintanya untuk Ratih.


Dengan langkah yang masih takut-takut Dara memberanikan diri mendekat ke sisi ranjang dekat Haris di mana ibu mertuanya berbaring.


"Maaf, aku baru bisa datang sekarang karena tidak tahu kejadian ini lebih awal." Dara berkata pelan dan masih terkesan canggung.


"Tak apa Nak. Bagaimana kabarmu? kenapa tidak beristirahat di rumah saja," ucap Haris dengan raut wajah khawatir.


"Aku... aku juga ingin menjenguk. Lagipula Mas Wira terus mencemaskan kondisi ibu ketika di rumah, jadi kami memutuskan untuk menginap di sini menemani," sahut Dara yang disusul anggukan Wira mengiyakan.


Haris menatap Dara penuh rasa sayang, ia benar-benar bersyukur kepada Sang Pencipta karena menjadikan gadis ini sebagai pendamping putranya dan juga ibu yang mengandung cucu berharganya.


"Oh iya Wira, ayah ingin menambahkan bukti yang memberatkan tuntutan kita pada Michelia. Buronan itu menjual berlian palsunya kepada ibumu dengan jumlah yang tidak sedikit dan itulah yang menyebabkannya pingsan di toko perhiasan setelah menguji keasliannya." Haris menuturkan semuanya kepada Wira sesuai keterangan yang diperolehnya dari Ratih.


"Sekarang di mana barang buktinya? akan langsung kuserahkan kepada yang berwajib."


"Sebaiknya kita bicara di luar sambil mengambil barang bukti di dalam mobil," ajak Haris kepada putranya.


"Sayang, bolehkah titip ibu sebentar? aku janji takkan lama," pinta Wira sembari mengusap kepala Dara lembut.


Ayah dan anak itu segera keluar dari ruang perawatan meninggalkan Ratih dan Dara di dalamnya. Ratih yang sejak tadi memejamkan mata perlahan terbangun, ketika matanya terbuka sempurna ia mendapati gadis muda yang sering dicercanya duduk di kursi samping tempat tidurnya dengan senyuman yang menyejukkan hati.


"Bagaimana keadaan Tante sekarang?" Dara langsung mencoba menyapa dan sudah menyiapkan diri entah bagaimanapun respons Ratih kepadanya nanti.


"Sudah lebih baik," sahutnya lemah dengan ekspresi tak terbaca.


"Syukurlah. Ini adalah bubur yang dibuatkan Bu Rina, apakah Tante ingin menyantapnya sekarang selagi hangat?" Dara membuka paper bag yang dibawanya, mengeluarkan termos berisi bubur kacang hijau tersebut lalu meletakkannya ke meja samping tempat tidur.


Ratih terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk tanda setuju. Meskipun suasana canggung melingkupi keduanya, tetapi Dara mencoba untuk bersikap tenang.


Ia mengatur tempat tidur dengan remote kontrol agar ibu mertuanya bersandar dengan posisi agak tegak supaya lebih nyaman. Kemudian menuangkan Bubur kacang hijau tersebut ke dalam mangkuk yang tersedia, meletakkannya di meja kecil dan menyodorkannya ke hadapan Ratih.


"Silakan dimakan, agar lekas pulih."


Ratih mulai membenarkan posisi duduknya dan meraih sendok, tetapi akibat belum memakan apapun sejak pagi tangannya yang memegang sendok tampak gemetar karena lemas dan semua itu tak luput dari pengamatan Dara.


"Tante... bagaimana kalau kusuapi," tawar Dara meskipun ragu Ratih akan menerima tawarannya.


"Maukah... maukah kau melakukannya untukku?" ucap Ratih tak menyangka dengan perkataan yang terlontar dari mulut Dara, mengingat bagaimana buruknya perlakuan dirinya terhadap wanita yang dicintai putranya itu.


"Tentu saja," sahut Dara penuh pemakluman. Ia segera mengambil alih sendok dari tangan Ratih dan mulai menyuapi ibu mertuanya tanpa ragu lagi.