You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Bab 3



Setelah pintu kamar tertutup, perlahan-lahan terdengar suara tawa dari luar. Mendengar itu, aku merasa amat sakit hati.


Esok harinya, Jerry mengemudi mobil dan menungguku di luar pintu rumah. Saat aku mau keluar, Vivi mengikuti aku.


"Itu... Kak Wenny... Ayah dan Ibu menyuruhku untuk ikut pulang denganmu. Jalan ke desa agak sulit, kalian mungkin akan butuh bantuanku untuk memimpin jalan."


"Oke, kalau begitu, terima kasih.”


Vivi duduk di kursi sebelah pengemudi. Aku dengar dia mabuk perjalanan ketika kembali dengan Ayah dan Ibu. Dia muntah dan mengotori pakaian yang dia kenakan, jadi Ayah dan Ibu membawanya ke mal untuk membeli gaun. Aku khawatir dia akan mabuk perjalanan lagi, jadi aku membiarkannya duduk di depan saja.


Di sepanjang perjalanan, Jerry memperlakukannya dengan sangat bersegan. Hari ini Vivi tidak setegang kemarin lagi, melainkan cukup enak diajak mengobrol. Dia selalu merespons apa yang dikatakan Jerry dengan tampang malu-malu dan polos, membuat orang timbul rasa sayang padanya.


Jerry menoleh dan berkata dengan maksud bercanda, "Vivi, lihat Wenny. Meskipun kalian berdua seumuran, Wenny terlihat seperti kakak yang penuh perhatian, sedangkan Vivi terlihat seperti anak SMA. Kalian berdua jelas terlihat beda jauh. Tapi ini sangat bisa dipahami. Wenny pernah kuliah di luar negeri dan sangat mandiri, dia suka mengerjakan semuanya sendiri, jadi terbentuklah kepribadiannya yang begitu dewasa."


Aku duduk di kursi belakang, tidak memberi respons. Namun, kedua tangan terlihat Vivi mencengkeram ujung gaunnya erat-erat, lalu bergumam, "Aku... tidak pernah masuk SMA... "


Mata Jerry tertuju tajam padanya beberapa saat. Ketika aku menoleh ke arah Jerry, aku menemukan rasa simpati yang terkandung di matanya. Aku mengerti bahwa pihak yang kuat memang selalu menampakkan simpati dan toleransi yang tak terbatas kepada pihak yang lemah. Tetapi pemandangan ini membuat diriku yang sensitif merasa tidak nyaman.


Mobil menyusuri jalan aspal ke jalan pedesaan. Sawah dan pohon di sepanjang jalan berangsur-angsur digantikan dengan rerumputan luas.


Hatiku amat tegang. Beragam jenis pemikiran muncul secara bergiliran di benakku, apa itu benar-benar keluarga asalku, tempat macam apa itu...


Mobil berguncang-guncang di sepanjang jalan selama sekitar setengah jam, hingga akhirnya tiba di "rumah" yang disebut Vivi. Mobil berhenti di pintu masuk desa dan kami bertiga berjalan melewati satu demi satu rumah susun.


Terlihat pintu besi belang-belang dan berkarat setengah terbuka. Di bawah alas batu di luar pintu, ada parit dengan air biru yang mengalir perlahan. Di dalam pintu terbaring seekor anjing kuning yang kotor. Anjing kuning itu sedang tidur. Halaman rumah sangat sepi.


Jerry menoleh untuk melihatku. Matanya setengah menyipit dan keningnya berkerut, terlihat tidak bisa mempercayai apa yang ada di depan matanya.


Vendi Kumala seharusnya adalah adik Vivi. Aku dengar dia lebih muda dua tahun dari kami, sangat nakal.


Benar saja. Polisi langsung masuk ke halaman rumah. Anjing kuning terus menggonggong ke arah mereka. Dalam waktu kurang dari satu menit, Vendi yang berkepala botak dibawa keluar. Dia terus mengutuk, "Sialan, untuk apa kalian tangkap aku! Aku pukul dia karena dia memang pantas dipukul! Dia seharusnya bersyukur karena aku tidak bunuh dia!"


Ketika aku dan Vendi berpapasan, kedua pasang mata kami saling berinteraksi sejenak. Aku merasa seolah-olah kenal dengannya dan dapat menemukan tampang wajahku di wajahnya. Perutku seketika terasa mual. Aku secara refleks menolak untuk menerima keluarga dan saudara seperti ini.


Sebelum Vendi dibawa pergi, dia kebetulan melihat Vivi. Dia meludahi Vivi dengan ganas, "Dasar manusia tak kenal balas budi, bisa-bisanya kamu masih berani pulang! Dasar bajingan!"


Vendi dipaksa masuk ke mobil polisi. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Vivi membawa aku dan Jerry masuk ke halaman. Dia mengulurkan lengannya yang ramping untuk membelai anjing kuning yang kotor itu beberapa kali. Telinga anjing kuning perlahan-lahan melega ke belakang dan bersandar di telapak tangannya yang ramping.


Anjing kuning duduk dengan tenang di samping. Vivi langsung masuk ke dalam rumah, sementara Jerry ikut di belakangku sambil menghela napas, "Kasihan sekali Vivi tumbuh di lingkungan seperti ini."


Entah karena aku terlalu sensitif atau cemburu, perasaanku sangat tidak nyaman saat melihat Jerry begitu perhatian dan simpati terhadap Vivi. Jika dipikirkan lebih dalam, orang yang seharusnya hidup di lingkungan buruk seperti ini adalah aku, bukannya Vivi. Jika bukan karena tertukar, aku tidak akan memiliki kehidupan mewah seperti sekarang ini, juga tidak akan bertemu Jerry dan saling jatuh cinta dengannya.


Depresi yang perlahan terus bertambah membuatku kehilangan keberanian untuk melangkah masuk ke rumah. Jerry mendorongku dari belakang. Ketika sol sepatuku menginjak lantai beton, suasana suram dalam ruangan perlahan menyelubungiku.


Ini ruang yang berantakan dan sempit. Di depanku ada gang sempit. Ranting kayu bakar berserakan di sepanjang gang. Masing-masing ada satu kamar di kanan kiri gang. Kamar di sebelah kiri sangat kecil dan hanya ada satu tempat tidur tunggal. Sedangkan kamar di sebelah kanan sangat besar. Di dalamnya ada meja makan dan di belakang meja makan ada ranjang yang dilapisi selimut kapas. Seorang pria kurus terlihat berbaring di atasnya.


Mendengar suara kami memasuki rumah, pria itu tampak acuh tak acuh. Vivi berteriak padanya, "Aku bawa temanku datang, di mana Yanti?"


Pria itu melambaikan tangannya dengan lemah dan lanjut berbaring di atas ranjang. Vivi memandang kami dengan segan, "Dia sudah seperti itu sejak tahun lalu. Tubuh bagian bawahnya cacat karena tertusuk mesin. Aku pergi cari Yanti dulu."


Segera setelah itu, aku mencium bau rokok yang menyengat, kemudian terdengar suara kasar seorang wanita dari belakang, "Kenapa kamu pulang lagi? Bukankah kamu mau putus hubungan dengan kami! Dasar bajingan!" Dalam sekejap mata, saat aku bahkan belum sempat melihat wajah wanita itu dengan jelas, tamparan yang menggelegar langsung mendarat di sisi wajah Vivi. Ini adalah pertemuan pertamaku dengan Yanti. Pertemuan kali ini juga sekaligus meninggalkan penghinaan dan penolakan yang mengakar kuat di hatiku.


Ketika kami berempat duduk mengelilingi meja bundar, aku dan Jerry duduk di kiri dan kanan Yanti karena takut dia akan memukuli Vivi lagi.